RADARBEKASI.ID, BEKASI – Literasi keuangan inklusif bagi kalangan difabel bukan hanya mendorong kemandirian finansial. Lebih dari itu, mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat. Mereka bukan berharap ingin dikasihani, tetapi menginginkan mendapat kesempatan yang sama dan berkontribusi dalam ekosistem perekonomian. Berikut beberapa pengalaman sejumlah penyandang disabilitas yang menjadi penggerak ekonomi bagi sesamanya.
Paini dan Kedai Inspirasi
Paini (55), penyandang disabilitas, tergopoh-gopoh masuk ke Kedai Inspirasi, Senin (22/6/2026). Kedai di Jalan Tawangmangu 200, Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi itu menjadi wadah aktualisasi sekaligus kemandirian ekonomi para difabel di komunitas Rumah Singgah Disabilitas Sosial Mandiri (Rumsidisma) yang digagas Paini.
’’Maaf, maaf banget, saya datang terlambat,’’ kata Paini, sesaat begitu turun dari motor yang memboncengnya. Setelah menata posisi duduknya, sambil lesehan, ibu dua anak itu bersemangat menceritakan kedai yang dikelolanya. ’’Kedai ini cita-cita lama kami. Ingin punya tempat atau semacam sentral untuk display produk teman-teman disabilitas. Alhamdulillah, sekarang terwujud,’’ ungkap Paini, siang itu, mengawali cerita soal kedainya.
Di kalangan komunitas difabel Kota Bekasi, nama Paini sudah masyhur. Khususnya di komunitas inklusi. Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah itu menjadi ‘emak’ dari sekitar 170 penyandang disabilitas yang tergabung dalam Rumsidisma sejak 2007. Paini sendiri sebagai pendiri. Visinya besar dan mulia: penyandang disabilitas mandiri, berdaya dan berkontribusi bagi perekonomian. ’’Semangat kami sebagai orang difabel bukan ingin dikasihani. Tapi, beri kami kesempatan,’’ tegas Paini yang menjadikan rumah tinggalnya di Bojongmenteng, Rawalumbu, Kota Bekasi sebagai pusat Rumsidisma.
Tekad itu bukan lahir dari ruang hampa. Tapi bersumber dari pengalamannya sebagai seorang penyandang disabilitas. Paini mengaku dulu dia pernah diremehkan karena kondisi fisiknya. ’’Kamu bisa apa? mau kerja di pabrik? Badanmu pendek begitu. Jari-jari tangan tidak sempurna,’’ begitu Paini mengenang hinaan kepadanya puluhan tahun silam.
Paini pun geram. Kesempatannya mengakses pekerjaan dan ekonomi tidak setara dengan mereka yang non difabel. Di luar sana, orang-orang menganggap penyandang disabilitas sebagai aib. ’’Saya yang hanya cacat fisik, tubuh kecil, ini jadi termotivasi dong untuk bangkit. Bismillah, saya bertekad mandiri dan bergerak untuk sesama disabilitas,’’ tekad Paini bersemangat.
Paini pun berkumpul bersama sesamanya. Kaum difabel. Paini mendirikan KUBE PANDA (Komunitas Usaha Bersama Penyandang Disabilitas). Itulah komunitas pertama yang didirikan Paini pada 1997. Kegiatannya berfokus pada usaha berdagang; jual sayuran dan makanan. ’’Yang pentig dapur ngebul. Saya buat kue Onde-Onde Ketawa. Saya titip ke warung-warung,’’ kenang Paini.
Perlahan tapi pasti, kue yang dititipkannya ke warung-warung itu laris manis. Semula hanya tiga toples. Berkembang menjadi tujuh toples hingga puluhan toples. Puluhan toples berisi Onde-Onde Ketawa itu ludes dalam tempo tiga hari di warung. Warung-warung yang dititipi Onde-Onde Ketawa itu terus bertambah jumlahnya. ’’Ada sekitar 200 warung itu yang saya titipi Onde-Onde Ketawa,’’ imbuhnya.
Paini pun mulai kewalahan memproduksi dan mendistribusikan produknya. Sejumlah teman-teman sesama disabilitas pun dilibatkan. Ada yang dari kampung halaman, ada pula disabilitas yang di sekitar Bekasi. ’’Awalnya yang bantu-bantu saya kebanyakan dari tetangga dan orang kampung saya, Wonogiri. Tapi mereka tidak semua kerasan (betah)’’.
Usaha rumahan memproduksi Onde-Onde Ketawa itu menjadi pelajaran pertama Paini yang paling berharga. Utamanya soal produksi dan distribusi. Tidak kalah penting lagi soal modal pembiayaan produksi. Paini mengaku, mengawali usaha membuat Onde-Onde Ketawa itu dari modal pinjaman ‘Bangke’ (bank keliling alias rentenir).
Setelah beberapa tahun, usaha tersebut ternyata belum ‘jodohnya’. Paini bangkrut. Gulung tikar. Utangnya ke rentenir sampai memiliki sejumlah lubang. ’’Saya punya enam lubang. Gali lubang tutup lubang ke rentenir itu sampai nggak bisa bayar. Pokoknya saya sampai dikenal sebagai orang yang nggak amanah waktu itu,’’ kenangnya.
Konsentrasi usahanya makin buyar saat musibah menimpa keluarganya: Isfani Fadillah, putri pertamanya yang sedang menekuni ilmu agama di Pondok Pesantren Ummul Quro, Bogor, sakit parah. ’’Putri saya telan jarum pentul secara tidak sengaja efek bercanda dengan temannya,’’ ceritanya. Untuk beberapa waktu, Paini konsentrasi pada penyembuhan sang putri sekaligus mencari cara melunasi utangnya.
Ibarat tumbu ketemu botol. Paini ketemu solusi melunasi utang ke rentenir. Seorang kenalan lamanya pemilik properti di Jatinegara, Jakarta Timur, yang sedang membangun sejumlah unit ruko mengontak Paini. Permintaan sang empunya bisnis hanya satu. ’’Bagaimana cara memberi makan pekerja bangunan yang sedang membangun ruko. Jumlah mereka ada 21 pekerja,’’ tanyanya.
’’Saya jadi pedagang nasi buat keperluan makan minum mereka para kuli bangunan itu. Mereka boleh berutang. Kan mereka tidak kabur. Bos kulinya ada. Pekerjaannya ada. Bisa dibayar tiap minggu,’’ ungkap Paini. ’’Cocok. Sepakat’’.
Dari menjual makanan untuk kuli bangunan itu, Paini mengaku mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan. ’’Setiap satu pekan saya dapat untung Rp2 juta dari pembayaran makan minum kuli bangunan itu,’’ cetus Paini. Walhasil, dari keuntungan itulah sedikit demi sedikit Paini mencicil utangnya ke rentenir.
Jiwa wirausaha ibu dari dua anak (Isfani Fadillah dan Muhammad Zahid Ijlal) itu patut diacungi jempol. Dia belum kapok dan bangkit lagi untuk berdikari pada 2007. Paini mendirikan komunitas Rumsidisma. Sejumlah disabilitas dikumpulkan. Diberdayakan. Mereka dilatih kemandiriannya. Dipupuk semangat dan kerja kerasnya. Ditanamkan keyakinan bahwa mereka memiliki potensi diri yang dapat melejit. Hingga kini, setidaknya ada sekitar 170 disabilitas yang tergabung dalam Rumsidisma bentukan Paini.
’’Mereka datang sendiri ke saya. Tahu dari mulut ke mulut. Saya tidak beri mereka uang. Tapi saya beri pelatihan. Bikin produk. Saya bantu pasarkan,’’ beber Paini.
Paini mengaku, tidak semua disabilitas yang bergabung di tempatnya menjadi wirausahawan. Ada pula yang bekerja di sejumlah perusahaan swasta dan BUMN. Bahkan, ada yang menjadi atlet olahraga difabel. ’’Asal mereka gesit dan mau berpikir di mana bakatnya, saya yakinkan mereka jadi orang yang mandiri,’’ ujarnya. Tapi, tidak sedikit juga yang gagal. ’’Biasanya yang gagal itu, kurang fokus dan tidak sabaran orangnya’’.
Mereka yang berminat menjadi wirausahawan dilatih Paini dengan membantu memproduksi sejumlah makanan ringan atau aneka snack. Seperti Stick Bawang, Stick Keju, Onde-Onde Ketawa, Snack MZI, Sambal Pecel, Rempeyek empat rasa (Udang, Teri, Kacang Tanah, Kacang Kedelai), Singkong Gadung, Emping Garut dan makanan jaman dulu (jadul) lainnya, seperti Nasi Tiwul dan Nasi Jagung.
Kini, setelah hampir dua dekade, aneka snack produksi para difabel di Rumsidisma itu, punya display sentral. Produk-produk tersebut dijajakan dan terpajang di salah satu outlet di dalam Kedai Inspirasi. Produk-produk itu, langsung terlihat pengunjung begitu masuk karena posisinya berada di sebelah kanan dari pintu masuk kedai.
Selain menjadi pusat ‘galeri’ produk karya para difabel, kedai yang berdiri pada tahun 2025 itu juga mempekerjakan para difabel. Paini sendiri mengambil peran langsung sebagai penanggung jawab kedai. Hampir setiap hari dia berada di kedai yang mempekerjakan lima orang difabel. Kelimanya, yaitu Wiwin (43), Lusiana (50), Rosalina (30), Sutoto (50) dan Ismail (45).
Kelimanya memiliki tugas berbeda-beda. Wiwin, penyandang disabilitas tubuh mini asal Garut bertanggungjawab di bagian keuangan. Lusiana, penyandang disabilitas tubuh mini dan Rosalina disabilitas tunarungu bertugas sebagai pramusaji. Sedangkan Sutoto, penyadang disabilitas celebral palsy (CP) bertugas sebagai peracik kopi, dan Ismail bertanggungjawab untuk pembelanjaan/transportasi.
Selain memberdayakan, para difabel ini, Paini juga mempekerjakan tiga orang non difabel. Mereka bertugas khusus di dapur. Ketiganya, yaitu Lidia, Lily dan Elsi (relawan). ’’Mereka khusus di dapur untuk memasak. Sedangkan yang bertugas menyajikan, mereka yang difabel,’’ beber Paini.
Layaknya kedai pada umumnya, menu di kedai ini bervariatif. Mulai dari minuman seperti kopi, jus hingga makanan berat, seperti ayam bakar dan sebagainya. Kursi dan meja di kedai ini ditata sebagian besar dibuat untuk lesehan dengan jumlah sekitar enam meja panjang. Mereka yang ingin bersantai duduk-duduk di kursi dapat bergeser ke halaman kedai. Di sini, pengunjung dapat menyantap menu pesanan dengan suasana teduhnya rindang pohon Mangga Apel.
Dari mana modal pendirian Kedai inspirasi? Paini mengungkapkan, kedai ini lahir berkat bantuan program non kredit dari Bank Syariah Indonesia (BSI). ’’Dapat bantuan semacam hibah dari BSI Maslahat. Perjanjiannya selama dua tahun. Setelah dua tahun lepas mandiri. Saya optimistis mandiri setelah program ini selesai,’’ ujar Paini dengan nada mantap.
Cerita bantuan program ini, ungkap Paini, berawal dari kebutuhan Rumsidisma membutuhkan satu mobil operasional untuk mengantarkan produk-produk karya para difabel. Diakui Paini, sepanjang program itu, dirinya mendapat pendampingan pihak bank. Ada pegawai bank yang melakukan pengecekan operasional dan pencatatan. ’’Sebulan sekali pegawai bank datang mengecek,’’ imbuh Paini.
Paini menuturkan, hingga saat ini, Kedai Inspirasi masih dalam tahap perjuangan. Belum mendapatkan laba. Baginya, yang penting, kedai masih dapat beroperasi. ’’Sebulan omset baru sekitar Rp8 juta,’’ ungkapnya. Namun, Paini optimistis ke depan kedai ini dapat mandiri dan lebih berkibar lagi. Dan hak-hak para difabel pekerjanya akan lebih bagus dan baik lagi.
Hanya satu yang menjadi ganjalan Paini dalam usaha ini. Dia mengaku belum siap jika harus mengajukan kredit perbankan untuk menambah permodalan. ’’Saya nggak pede untuk jaminan ke bank’’.
Isyara Tea and Pastry
Setali tiga uang dengan Kedai Inspirasi. Isyara Tea and Pastry, kafe di Jalan H. Awi, Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi mempekerjakan kalangan difabel. Pegawainya hanya dua orang. Kedua-duanya penyandang disabilitas tuli.
Nur Indah Harahap, owner Isyara Tea and Pastry, menuturkan kafe yang didirikan pada 2025 itu memang didedikasikan untuk kalangan disabilitas tuli. Nur sendiri memiliki seorang putri bernama Basiimah penyandang disabilitas tuli sejak bayi. Kini, Basiimah telah dewasa dan berumah tangga. Memiliki seorang anak. Basiimah juga bekerja sebagai kepala sekolah di Ibtisamah Mulia, sebuah sekolah khusus untuk anak-anak disabilitas tuli.
’’Basiimah yang mengelola Isyara. Dua pekerjanya sesama kawan tuli, yaitu Fathiya dan Annisa,’’ ungkap Nur ditemui di kediamannya, komplek YAPIDH, Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu (27/6/2026).
Bagi Nur, Isyara menjadi wadah inkubasi para difabel tuli. ’’Mungkin konsepnya sociopreneur di Isyara ini. Kami tidak memburu laba, tapi bagaimana sesama kawan tuli dapat mengaktualisasikan dirinya di bidang ekonomi dan berdampak bagi masa depan sesama mereka,’’ ujar ibu tiga anak ini.
Sociopreneur merupakan gabungan social dan entrepreneur. Kerap juga disebut sociopreneurship. Model bisnis yang menggabungkan prinsip wirausaha dengan upaya memecahkan masalah sosial. Wirausahawan dengan konsep ini tidak melulu mengejar keuntungan semata.
Mereka berfokus menjalani misi sosial dan lingkungan. Kalau pun ada keuntungan atau laba, pengembangan bisnisnya kembali untuk membiayai misi sosial. Dalam konteks ini, secara sosial, belum banyak perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan kawan tuli. Di sinilah tantangan bagi kalangan sociopreneur, seperti Nur Indah.

Nur bercerita, secara bisnis, Isyara memang belum mendapatkan laba. Bahkan, cenderung minus dalam laporan bulanannya. Tapi secara dampak sosial bagi mereka kawan tuli, Isyara bermanfaat untuk pengembangan masa depan kawan tuli. ’’Di antara mereka beberapa kali mendapatkan pelatihan inkubasi bisnis dari lembaga dan kementerian. Kalau tidak ada wadahnya, kan mereka tidak mendapatkan kesempatan pengembangan diri itu,’’ ungkap Nur.
Salah satu di antara pekerja di Isyara, lanjut Nur lagi, pernah mendapatkan inkubasi pelatihan kewirausahaan untuk kaum disabilitas. ’’Salah satunya pernah mendapat pelatihan inkubasi UMKM bagi penyandang disabilitas di Kementerian Tenaga Kerja,’’ imbuhnya.
Pemberdayaan sosial juga terjadi dalam rantai pasok produk di Isyara. Sejumlah donut yang dijajakan berasal dari sejumlah warga sekitar. Begitu pula dengan bahan baku kopi dan teh yang disajikan di kafe ini.
Isyara Tea and Pastry didirikan Sabtu 13 September 2025. Dari Namanya, sudah diketahui, kafe ini berfokus pada penjualan produk F&B atau bergerak di sektor kuliner. Di sini, produk makanan dan minuman siap saji. Produk minumannya jenis teh kekinian. Makanannya didominasi pada aneka ragam donut.
Lokasi kafe yang berada di jalan, meski bukan jalan utama, ternyata menarik perhatian pengunjung dari kalangan non difabel. Nur sendiri mengakui, keberadaan Isyara memang tidak menargetkan pembeli khusus dari kalangan difabel. ’’Sejauh ini pembelinya kebanyakan warga sekitar non difabel. Kami terbuka saja untuk umum,’’ ungkap Nur.
Karena itu, Nur mengaku telah mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan atau terjadinya kecurangan. ’’Kami sudah beritahu di depan outlet, kalau ini kafe dengan pelayan difabel. Kami siapkan juga CCTV dan kaca pembesar yang dapat dilihat dari dapur sampai ke outlet,’’ tegasnya.
Dari mana permodalan operasional untuk Isyara? Secara berkelakar, Nur mengatakan. ’’Selama ini sumber modalnya dari Bank Heriawan,’’ ujarnya sambal tersenyum seraya menunjuk sang suami, Heri Koswara, yang duduk di sampingnya.
Hambatan Collateral
Plt Ketua Umum Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) H. Siswadi, melihat ada tiga faktor yang membuat wirausaha UMKM dari kalangan penyandang disabilitas masih sangat minim mengakses fasilitas permodalan dari perbankan.
Faktor pertama, ungkap pria yang akrab disapa Sis, sistem perbankan untuk nasabah yang akan mengajukan kredit permodalan saat ini masih menggunakan pendekatan collateral alias jaminan atau agunan. Meskipun saat ini, sudah ada informasi bebas jaminan dan sebagainya, tetapi fakta di lapangan itu belum terealisasi. Alasan utamanya, kembali pada perbankan minded di mana harus ada jaminan bagi setiap calon debitur. ’’Ini seperti ayam dan telur. Hambatan yang harus diselesaikan, Dan harus ada solusi afirmatif,’’ cetusnya.
Dalam perbankan, agunan diserahkan dari calon peminjam (debitur) kepada pemberi pinjaman (kreditur) sebagai perlindungan apabila pihak debitur mengalami wanprestasi. Agunan memiliki peran penting dalam transaksi keuangan di perbankan, di mana tanpa jaminan tersebut, institusi keuangan dapat menghadapi potensi ketidakpastian yang lebih besar.

Faktor kedua, lanjut Sis, secara formal sistem perbankan tidak hanya menuntut adanya jaminan bagi calon debitur, tetapi juga kemampuan manajerial calon debitur. ’’Dari sisi manajerial, bank melihat dari kacamata tersendiri. Ini juga kadang-kadang banyak UMKM dari penyandang disabilitas yang tidak lolos,’’ cetusnya.
Faktor ketiga, sambung Sis, UMKM disabilitas lebih banyak apriorinya untuk mengakses perbankan. ’’Daripada ngurus susah-susah dan belum tentu dapat, ya sudah nggak usah,’’ ujar Siswadi lagi.
Pandangan semacam itu di kalangan UMKM penyandang disabilitas terhadap akses perbankan, diakui dia, masih sering terdengar. Dalam kacamata Siswadi, harus dilakukan edukasi dan pendampingan. Sebab menurutnya, edukasi saja kepada mereka masih dirasa tidak cukup. Perlu ada pendampingan. Di sinilah diperlukan relawan tersendiri, yayasan tersendiri atau institusi tersendiri yang mengadakan pendampingan, bimbingan dan mendesain model supaya usaha mereka jalan. Setelah itu dijadikan percontohan. ’’Polanya harus seperti itu, harus ada edukasi dan pendampingan,’’ jelasnya.
Berdasarkan data PPDI, lapangan kerja untuk disabilitas terbagi dalam dua klaster. Klaster pertama, sebagai karyawan. Khusus untuk karyawan dari disabilitas, sudah ada afirmatifnya sejak tahun 1997 dalam UU No. 4 tahun 1997 bahwa perusahaan, baik swasta maupun pemerintah wajib mempekerjakan penyandang disabilitas sebanyak dua persen dari total karyawan di perusahaan tersebut.
’’Undang-undang Disabilitas yang baru, yaitu UU No.8 Tahun 2016, komposisinya dibalik. Pemerintah wajib menerima penyandang disabilitas sebagai karyawan mereka sebanyak dua persen. Sedangkan perusahaan swasta satu persen. Eksekusi di lapangan bisa dibilang belum ada. Kalau pun ada prosentasinya sangat kecil, masih di bawah nol persen,’’ beber Siswadi.
Klaster kedua, imbuh Sis, penyandang disabilitas sebagai wirausaha UMKM. Ada yang bergerak sebagai UMKM formal, lengkap dengan izin dan legalitas yang mereka miliki. Ada pula yang berwirausaha secara informal. Yang informal atau semiformal ini mereka berdagang, punya izin dan sebagian tidak. ’’Wirausaha sektor informal ini yang paling banyak,’’ cetusnya.
Jauh lebih penting bagi kalangan disabilitas, lanjut Sis, adalah bagaimana pendampingan dan pemberdayaan kepada mereka untuk memulai usaha. ’’Ini pekerjaan rumah kami’’.
Mengutip data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional), Siswadi mengatakan jumlah penyandang disabilitas yang bergerak di kegiatan usaha UMKM masih sangat kecil. Dia mengatakan, sebanyak 8,5 persen dari total populasi penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Dan hanya 14 persen di antara mereka yang menjalani usaha formal. ’’Itu artinya dari 28 juta disabilitas hanya sekitar empat juta sekian yang bergerak di dunia usaha formal,’’ jelasnya.
Belum Seimbang
Berdasarkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), terungkap belum ada keseimbangan antara tingkat inklusi dan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Indeks inklusi mencapai 80,51 persen. Sedangkan indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen.
Dalam laporan SNLIK 2025 (https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Documents/Pages/OJK-Dorong-Penguatan-Literasi-Keuangan-Bagi-Penyandang-Disabilitas/Buku%20Pedoman%20Literasi%20Keuangan%20Bagi%20Penyandang%20Disabilitas.pdf) ini menunjukkan sebagian masyarakat telah menggunakan produk dan layanan keuangan, namun belum sepenuhnya memahami cara kerja, manfaat maupun risikonya secara tepat. Termasuk di kalangan penyandang disabilitas. ’’Upaya peningkatan literasi keuangan harus benar-benar bersikap inklusif, menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,’’ sebagaimana dikutip, Selasa (21/7/2026).
Pemberdayaan Komunitas UMKM Disabilitas
Salah satu perbankan yang memiliki konsern khusus terhadap para penyandang disabilitas adalah Maybank. Bank asal Malaysia ini menjangkau kaum difabel dengan program pemberdayaan ekonomi yang diberi nama RISE (Reach Independence and Sustainable Entrepreneurship). Program ini dirancang untuk memberi dampak positif bagi pesertanya di sejumlah negara ASEAN, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Laos.
Di Indonesia, Program RISE hadir sejak tahun 2016. Bekerjasama dengan People System Consultancy. Saat itu program ini bertajuk ’’Maybank Increases Confidence & Income Disabled Community’’ bertujuan meningkatkan semangat pantang menyerah, percaya diri serta meningkatkan keterampilan komunitas penyandang disabilitas untuk masa depan mereka yang mandiri, sejahtera sekaligus meningkatkan penghasilan. Demikian dikutip dari laman https://www.maybank.co.id/Article/CSREventList/2018/07/25/09/55/Find-the-best-computer pada Sabtu (25/7/2026).
Pada 2021 saat terjadi pandemi Covid1-9, kegiatan RISE berlanjut secara daring dan diselenggarakan Maybank Indonesia bersama Maybank Foundation dan kemitraan dengan People System Consultancy. Pelatihan ini menargetkan sekitar 2.000 peserta penyandang disabilitas dari berbagai wilayah di Indonesia, di antaranya Jawa Barat, Jawa Timur, Nuysa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Tengah, Maluku, Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan Tengah. Para peserta yang memiliki berbagai latar belakang usaha tersebut mendapatan pelatihan level Basic, Standard dan Premium.
Dalam laporan pada laman https://www.maybank.co.id/NewsAndAnnouncement/NewsAndAnnouncements/2021/02/10/01/47/program-rise-maybank-indonesia-dan-maybank-foundation RISE 2.0 menerapkan pendekatan 3E (Embrance, Embed & Engage) yang terintegrasi. Tujuannya mengoptimalkan penggunaan teknologi sebagai sarana pelatihan dan mentoring, pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, tracking sistematis perkembangan usaha dan peningkatan pendapatan peserta. Sekaligus menciptkan basis data online dan marketplace sebagai sarana peserta menjual produk serta menghubungkan peserta dengan produk, layanan, dan teknologi perbankan yang dibutuhkan.
’’Pelatihan memberi pembekalan perubahan pola pikir (mindset), meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk memulai dan mengembangkan usaha termasuk keterampilan dan memasarkan produk. Sekaligus meningkatkan pemahaman pengelolaan keuangan serta mengenalkan kepada para peserta produk dan layanan perbankan,’’ dikutip Sabtu (25/7/2026).
Peran perbankan dirasakan sangat penting untuk membuka jendela pengetahuan dan literasi keuangan bagi kalangan disabilitas. Pemberdayaan bagi kalangan difabel oleh institusi perbankan, bukan hanya membuka kesempatan bagi para difabel untuk masuk dalam ekosistem keuangan perbankan, melainkan juga memberdayakan ekonomi mandiri mereka secara bermartabat sekaligus mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera. (zar)











