RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Memiliki banyak teman dan berada dalam circle yang luas tidak selalu menjamin hubungan pertemanan berjalan sehat. Tanpa disadari, seseorang bisa saja berada di sekitar fake friend atau teman palsu yang terlihat dekat dan peduli, tetapi sebenarnya memiliki kepentingan tertentu.
Fake friend merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura menjadi teman, tetapi tidak benar-benar memiliki ketulusan dalam menjalin hubungan. Di hadapan kita, mereka mungkin bersikap perhatian dan menunjukkan kepedulian.
Namun, sikap tersebut dapat berubah ketika berada di belakang kita. Mereka bisa membicarakan keburukan, membocorkan rahasia, meremehkan pencapaian, bahkan memanfaatkan hubungan pertemanan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Mengenali teman palsu memang tidak selalu mudah. Terlebih, seseorang yang memiliki banyak teman mungkin akan kesulitan membedakan mana hubungan yang benar-benar tulus dan mana yang hanya didasari kepentingan tertentu.
Dari perspektif psikologi, sejumlah pola perilaku dapat menjadi tanda bahwa sebuah hubungan pertemanan mulai tidak sehat. Jika dilakukan berulang kali, interaksi dengan teman seperti ini juga berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kenyamanan dan kepercayaan diri seseorang.
Mengutip penjelasan psikologi dari Simply Psychology, berikut beberapa ciri fake friend yang patut diperhatikan.
1. Selalu Mengutamakan Kepentingan Diri Sendiri
Salah satu tanda yang dapat diamati adalah ketika seseorang terlalu berfokus pada kepentingan pribadinya dalam hubungan pertemanan.
Mereka cenderung mendekati seseorang karena ada sesuatu yang bisa diperoleh. Misalnya, mereka sering meminta bantuan, membutuhkan akses atau koneksi tertentu, maupun menunjukkan perhatian karena tertarik dengan status dan kondisi finansial seseorang.
Dalam kondisi seperti ini, hubungan pertemanan terasa lebih seperti hubungan yang menguntungkan salah satu pihak. Ketika kebutuhan mereka sudah terpenuhi, perhatian yang sebelumnya diberikan bisa saja berkurang.
Karena itu, penting memperhatikan apakah seseorang tetap hadir ketika tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan dari hubungan tersebut.
Baca Juga: Tak Perlu Treatment Mahal, Ini 5 Cara Sederhana agar Wajah Tampak Lebih Simetris
2. Perhatiannya Terlihat Tidak Tulus
Fake friend mungkin terlihat sebagai sosok yang perhatian ketika berada di depan kita. Namun, kepedulian tersebut belum tentu disertai keinginan untuk benar-benar memahami kehidupan kita.
Salah satu tandanya adalah mereka tidak terlalu mengingat hal-hal penting yang pernah kita ceritakan. Percakapan juga sering kali kembali berpusat pada kehidupan dan permasalahan mereka sendiri.
Alih-alih mendengarkan dengan baik, mereka justru mengarahkan pembicaraan sesuai kebutuhan pribadi. Kondisi ini membuat hubungan terasa tidak seimbang karena hanya satu pihak yang mendapatkan ruang untuk didengarkan.
Pertemanan yang sehat umumnya memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk berbagi cerita, mendengarkan, dan saling memberikan dukungan.
3. Gemar Melakukan Gaslighting
Perilaku lain yang perlu diwaspadai adalah gaslighting, yaitu pola komunikasi yang dapat membuat seseorang meragukan perasaan, pengalaman, atau penilaiannya sendiri.
Teman palsu dapat menyangkal sesuatu yang sebenarnya pernah terjadi atau meremehkan pengalaman yang kita rasakan. Mereka juga bisa memberikan janji, tetapi kemudian menghilang atau mencari berbagai alasan ketika benar-benar dibutuhkan.
Masalah lainnya dapat terlihat ketika kepercayaan yang diberikan justru disalahgunakan. Misalnya, rahasia pribadi dibocorkan kepada orang lain, keburukan kita dibicarakan di belakang, atau mereka justru berpihak kepada seseorang yang diketahui memiliki masalah dengan kita.
Jika pola tersebut terus berulang, hal ini dapat menjadi tanda bahwa hubungan pertemanan tidak lagi dibangun atas dasar kepercayaan dan rasa saling menghargai.
4. Lebih Banyak Memberikan Dampak Negatif
Fake friend juga dapat memberikan pengaruh buruk melalui cara mereka memperlakukan kita. Salah satunya berupa kritik yang terlalu tajam dan terus-menerus diarahkan pada karakter atau kekurangan pribadi.
Kritikan tersebut terkadang dibungkus sebagai bentuk kepedulian, candaan, atau sarkasme. Namun, jika perkataan tersebut justru membuat seseorang terus merasa rendah diri dan tidak dihargai, pola tersebut perlu diperhatikan.
Sikap kompetitif secara berlebihan juga bisa menjadi tanda lainnya. Ketika kita membagikan pencapaian atau kabar baik, mereka tidak memberikan apresiasi, tetapi justru berusaha membandingkan atau menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul.
Padahal, hubungan pertemanan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi seseorang untuk berkembang dan merayakan keberhasilan bersama, bukan menjadikan setiap pencapaian sebagai ajang persaingan.
Baca Juga: 7 Cara Aman Mengolah Ikan agar Terhindar dari Risiko Keracunan
Penting Mengenali Pola dalam Pertemanan
Tidak semua perilaku di atas secara otomatis berarti seseorang merupakan fake friend. Setiap orang dapat melakukan kesalahan atau menunjukkan sikap yang kurang baik dalam situasi tertentu.
Hal yang lebih penting adalah melihat pola perilaku yang terus berulang dan bagaimana hubungan tersebut memengaruhi diri kita. Jika sebuah pertemanan lebih sering membuat seseorang merasa dimanfaatkan, diremehkan, tidak dipercaya, atau terus-menerus berada dalam tekanan, hubungan tersebut layak dievaluasi kembali.
Membangun circle pertemanan yang sehat bukan berarti harus memiliki banyak teman. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan yang didasari kepercayaan, rasa hormat, ketulusan, serta dukungan timbal balik. (mna)











