RADARBEKASI.ID, BEKASI – Yayasan Sustainability for Resource Collectors Initiative (SuRCI) bersama Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) menggelar kegiatan Temu Sapa & Apresiasi Resource Collectors 2026 di Kantor BPP IPI, Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kontribusi pemulung dalam pengelolaan sampah sekaligus upaya memperkuat peran mereka dalam sistem ekonomi sirkular.
Dalam kegiatan itu, SuRCI memberikan penghargaan kepada sejumlah resource collectors dengan kontribusi pengumpulan material terbanyak. Selain itu, peserta juga mengikuti sosialisasi literasi digital, program BPJS Ketenagakerjaan, serta Focus Group Discussion (FGD) untuk menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi dalam aktivitas pengumpulan sampah.
Country Manager SuRCI Indonesia, Annisa Fauziah, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bentuk penghargaan kepada para pemulung yang selama ini berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Temu Sapa ini bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga bentuk apresiasi atas kerja keras para resource collector yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kami ingin memastikan mereka mendapatkan akses yang setara terhadap layanan sosial dan peluang ekonomi,” ujar Annisa.
SuRCI merupakan organisasi nirlaba yang berdiri sejak 2016 di Kanada dan fokus pada pemberdayaan pemulung melalui pendekatan inklusif serta ekonomi sirkular. Hingga kini, SuRCI telah memberdayakan lebih dari 11.514 resource collectors, bermitra dengan 660 komunitas, serta menjalankan berbagai program sosial di bidang kesehatan, pendidikan, keamanan pangan, dan akses keuangan.

TERIMA APRESIASI: Anggota IPI saat kegiatan Temu Sapa & Apresiasi Resource Collectors 2026 di Kantor BPP IPI, Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (5/8/2026). FOTO: EKO ISKANDAR/RADAR BEKASI
Melalui program pemberdayaan tersebut, pemulung binaan SuRCI telah mengumpulkan lebih dari 29 juta kilogram sampah plastik atau setara dengan 1,4 miliar botol plastik untuk didaur ulang.
Di balik kontribusinya terhadap lingkungan, profesi pemulung masih menghadapi berbagai tantangan. SuRCI mencatat sebagian besar pemulung di Indonesia masih bekerja di sektor informal, dengan 64 persen di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan dan 42 persen belum memiliki jaminan kesehatan.
Untuk meningkatkan kesejahteraan pemulung, SuRCI menjalankan sejumlah program, mulai dari pemberian akses smartphone, bantuan sembako, hingga kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Upaya tersebut diperkuat melalui dukungan Niagara Cares, program filantropi dari Niagara Bottling yang sejak September 2025 menjadi mitra utama SuRCI. Melalui berbagai program sosial, Niagara Cares telah membantu memberdayakan lebih dari 1.100 resource collectors di Indonesia, menyalurkan 6.374 paket sembako, serta memberikan 739 akses BPJS Ketenagakerjaan.
“Kami berharap rangkaian kegiatan ini dapat memperkuat pengakuan terhadap peran pemulung sebagai aktor utama dalam sistem pengelolaan sampah yang inklusif, adil, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara, Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia, Pris Polly, mengatakan pemulung memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi sirkular.
“Pemulung adalah aktor penting dalam ekonomi sirkular. Melalui kolaborasi dengan SuRCI dan dukungan Niagara Cares, kami berharap semakin banyak pemulung yang terlindungi secara sosial dan ekonomi, sehingga profesi ini semakin diakui dan dihargai,” ujar Pris.
Menurutnya, penghargaan yang diberikan dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kerja keras pemulung yang selama ini berada di garis depan menjaga kebersihan kota.
“Kami berharap semakin banyak pihak yang mendukung pemberdayaan mereka,” ujarnya.
Kegiatan serupa akan dilanjutkan di Penjaringan, Jakarta, pada 6 Agustus 2026 dan Pasar Kemis, Banten, pada 9 Agustus 2026 dengan masing-masing melibatkan 50 peserta. (oke)











