RADARBEKASI.ID, BEKASI – Musim kemarau membuat petani di wilayah selatan Kabupaten Bekasi harus mencari cara agar hasil panen tetap terjaga. Di tengah ancaman kekeringan, teknologi pertanian modern mulai diuji di lahan sawah Bojongmangu.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi melalui penyuluh pertanian setempat mendorong penerapan Program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) dengan metode Tanam Benih Langsung (Tabela). Uji coba perdana dilakukan di lahan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, Ubuh Buhori mengungkapkan, PM-AAS dirancang sebagai sarana modernisasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi budidaya di tengah tantangan iklim.
Agar tanaman padi tetap tangguh menghadapi musim kemarau, persiapan teknis diawali dengan pembenahan kualitas tanah. Berdasarkan pengujian lapangan, tingkat keasaman (pH) tanah di Bojongmangu berada pada angka 5,5.
“Hasil pengujian menunjukkan pH tanah di wilayah Bojongmangu berada pada angka 5,5 sehingga perlu dilakukan aplikasi kapur dolomit sebanyak 500 hingga 1.000 kilogram per hektare untuk memperbaiki kondisi tanah,” ujar Ubuh, Rabu (5/8).
Pada lahan demonstrasi tersebut, kapur dolomit sebanyak 500 kilogram ditebar dalam dua tahap, yakni saat pengolahan tanah awal dan tiga hari sebelum penanaman. Pemberian herbisida juga dilakukan sehari sebelum tanam guna menekan pertumbuhan gulma yang berpotensi memperebutkan nutrisi tanah.
Ubuh menyebut, sistem Tabela dalam PM-AAS juga membutuhkan pengaturan tata kelola air yang presisi, terutama pada fase awal penanaman.
“Setelah benih ditanam, lahan tidak boleh digenangi air selama lima hari pertama agar benih tidak membusuk dan terhindar dari serangan penyakit. Selanjutnya dilakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, kemudian pemupukan pertama diberikan pada umur sekitar 10 hari sesuai dosis anjuran,” tambahnya.
Meski skema tanam ini membutuhkan suplai nutrisi yang lebih padat, lanjut Ubuh, terobosan tersebut menjadi jawaban atas tantangan peningkatan produktivitas yang ditargetkan pemerintah.
Dengan benih varietas Inpari 33 sebanyak 15 kilogram yang didukung fasilitasi Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Ciawi, Ubuh optimistis lahan percontohan ini diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 4 ton gabah saat panen nanti.
“Saat ini rata-rata hasil panen petani di Bojongmangu masih sekitar 5 ton per hektare. Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas padi mencapai 10 ton per hektare. Melalui PM-AAS kami berharap target tersebut dapat dicapai,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menyebut penerapan PM-AAS menjadi solusi dalam menghadapi musim tanam di tengah kondisi cuaca kering. Terlebih, karakteristik sawah di Bojongmangu merupakan sawah tadah hujan yang mengandalkan jaringan irigasi dan pompa.
“Kami berharap hasil uji coba ini dapat menjadi acuan sebelum diterapkan secara lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para petani,” ujar Yusup.
Guna mengantisipasi minimnya curah hujan selama musim kemarau, lanjut Yusup, kelompok taninya telah menyiagakan bantuan pompa berkapasitas 6 inci dari pemerintah untuk menjamin ketersediaan air selama proses pertanaman berlangsung.
“Insyaallah minggu depan kami akan mulai melakukan penanaman di lahan sekitar 30 hektare. Kami berharap program ini berhasil sehingga semakin banyak petani yang menerapkan sistem PM-AAS pada musim tanam berikutnya,” tutupnya. (ris)











