Berita Bekasi Nomor Satu
Disway  

Bintang Perusuh

Para peserta "Muktamar" Perusuh Disway volume 6 foto bersama setelah acara.--

Oleh:  Dahlan Iskan

Bintang ”muktamar” kali ini dua orang muda: Sumhaji dan Ahmad Reza Ropi. Tambah satu lagi: Sujatmiko, ahli geologi ITB berusia 85 tahun.

Pak Jatmiko datang ke Gondang bersama Sumantoro Radjiman dan tokoh wartawan senior Bandung Moh. Ridlo Eisy.

Pak Jatmiko membawa 10 oleh-oleh: bebatuan berharga. Mulai batu akik asli sampai batu kalkopirit berumur antara 20-25 juta tahun. Yang terakhir itu diserahkan untuk saya –dan akan saya pajang di kantor Disway.

Pak Jatmiko juga memberi warna baru muktamar ”Perusuh” Disway kemarin. Sebelum muktamar ditutup tiba-tiba ia maju, minta semua ”perusuh” berdiri, lalu bersama-sama menyanyikan lagu syahdu ciptaan Kusbini tahun 1942: Bagimu Negeri.

Meski usia 85 tahun, Pak Jatmiko masih sangat sehat. Badannya langsing. Ketika di malam hari diadakan acara semedi ia masih ikut bersila sampai selesai.

Di olahraga ”Senam DI” Pak Jatmiko bisa satu jam tidak berhenti. Ia lahir di Pamekasan, masuk ITB, lalu berkarir di perminyakan dan geologi. Ia juga pernah tugas belajar sampai Prancis dan Amerika. Di masa lansia ia menekuni kajian batu meteor.

Bahwa tiba-tiba ia memimpin ”Bagimu Negeri” itu lantaran lagu itu dianggap setara dengan God Bless America yang di sana dinyanyikan di mana-mana dengan rasa penuh bangga.

Ups… Ada satu bintang baru lagi: Agustina Mardiko Wati. Dia wanita setengah baya. Pengusaha alat berat. Asal Solo. Tinggal di Semarang. Dia sealmamater dengan Presiden Jokowi saat SMP di Solo.

Mardiko Wati sakit kanker. Kanker paru. Mardiko berjuang sukses ke BPJS untuk bisa mendapat obat yang harga per kapsulnya Rp 4,5 juta. Obat itu harus diminum setiap hari. Selama tiga bulan. Lalu Mardiko memutuskan untuk menjalani terapi meditasi di Bali.

Banyak yang ingin tahu seperti apa semedinya. Lalu disepakati: malamnya diadakan acara semedi. Dia yang pimpin. Semua lampu dimatikan. Dia sangat menghayati. Dia seperti sudah selevel guru semedi.

Berbagai cara semedi memang sudah dia coba. Mulai di gereja Katolik yang dia anut, semedi cara Buddha, sampai akhirnya mantap dengan cara gurunyi di Bali itu: Merta Ada. Dari Bali Usada.

Setiap bulan Mardiko ke Bali. Semedi di sana selama satu minggu. Tanpa HP, tanpa bicara. Hanya hening.

Anak sulung Mardiko ikut menemani ke Bali. Ikut hidup tanpa HP. Tanpa bicara. Tanpa rokok. Setiap pulang dari semedi ia kehilangan orientasi. Terutama ketika dari tempat semedi tiba di bandara.

“Rasanya kehidupan di bandara terlalu bising,” katanya.

Ia perlu waktu untuk menyesuaikan ”hidup normal” setelah semedi. Termasuk perlu waktu tiga hari untuk bisa kembali menikmati rokoknya.

Perusuh terjauh kali ini datang dari Batam: Fransiska Jappy. Dia berjuang ke suami untuk bisa dapat izin ke muktamar ini. Ternyata dia asli Ketapang, Kalbar. Lalu sekolah di Singapura dan dapat suami dari Batam. Fransiska dan suami punya bisnis besar karena dipercaya perusahaan-perusahaan asing di Batam untuk menangani tenaga kerja mereka.

Separo peserta muktamar memang wajah baru. Selebihnya ”raja-raja” perusuh lama: Udin Salemo, Cak Mul, dr Sandra, Datuk Dimyani, Handoko…..

Rifda Ammarina tuan rumah pertama muktamar di perkebunan miliknyi di Cikeusik, Pandeglang juga hadir. Dia tidak ikut jatah makan serupa MBG seperti lainnya. Dia masak sendiri di dapur: ”saya alergi gluten”. Kebetulan dapurnya kosong: Galuh Banjar tidak ikut ke Gondang. Menantu Pak Iskan itu lagi flu berat.

Sedang mengenai dua bintang muda yang namanya sudah telanjur disebut di awal tulisan ini ternyata tidak cukup waktu lagi untuk menuliskan kisah mereka. (Dahlan Iskan)