Oleh: Dahlan Iskan
Drama besar pelengseran bupati terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan. Pekan lalu DPRD setempat secara bulat memakzulkan Bupati Sitti Husniah Talenrang. Saya sebut drama karena tiga unsur ada di dalamnya: kekuasaan, uang, dan seks.
Intinya: bupati dituduh berselingkuh dengan Basri Kajang, konsultan pemenangannya saat maju jadi calon bupati Gowa.
Ditambah tuduhan lain: pencabutan beasiswa S-3 seorang warga dan korupsi baju seragam siswa dengan anggaran Rp 15 miliar.
Yang dua terakhir tidak menonjol. Soal perselingkuhanlah yang paling dramatis. DPRD sampai membentuk pansus, panitia khusus, untuk menyelidiki perselingkuhan itu.
Banyak saksi dihadirkan di sidang-sidang Pansus. Mereka adalah para pejabat di bidang protokol di Pemkab Gowa. Merekalah yang tahu ke mana saja bupati Husniah, di hotel mana saja menginap, dan di mana pula Basri. Mereka yang memesan hotel, mengatur perjalanan, dan mendampingi bupati.
Sidang-sidang pansus itu terbuka. Direkam. Videonya diunggah ke YouTube. Diputar pula video adegan ketika yang disebut Basri bersama Husniah. Suami Husniah juga bersaksi di pansus. Semuanya diceritakan secara gamblang menurut versi saksi.
Saat menyaksikan video-video kesaksian itu saya sempat terkecoh. Saya pikir sang suami masih berstatus suami seperti dinarasikan. Ternyata, saat bersaksi itu statusnya sudah duda. Mereka sudah bercerai Juni lalu.
Sang duda mengaku tidak tahu kalau ada sidang-sidang perceraian di pengadilan. Tahu-tahu dapat kiriman surat putusan yang mengabulkan perceraian. Itu versi saksi.
Bupati sendiri akhirnya hadir di sidang babak akhir pleno DPRD. Acaranya sudah pada tingkat membahas laporan hasil pansus. Di situ bupati diminta pendapatnyi: menerima atau menolak putusan pansus yang menyatakan telah terjadi dugaan pelanggaran etika dan perbuatan tercela. Lalu Pansus Hak Angket DPRD Gowa merekomendasikan pemberhentian Husniah sebagai bupati Gowa lewat aturan hukum yang berlaku.
Dalam pidato tanggapan itu bupati Husniah tidak menyatakan menerima atau menolak. Dia lebih banyak mengkritik DPRD yang merusak martabat pribadinyi dan bukan kebijakannyi.
Di tengah pidato dia juga memutar rekaman suara anaknyi yang sedang kuliah di Semarang sebagai bukti betapa martabat pribadinyi telah dihancurkan.
DPRD Gowa akhirnya membuat keputusan memakzulkan bupati Husniah.
Tentu Husniah tidak otomatis berhenti sebagai bupati. Yang berhak memberhentikan adalah menteri dalam negeri. Itulah sebabnya DPRD hanya bisa mengusulkan pemakzulan itu ke Kementerian dalam negeri.
Setelah putusan itu tersiar luas di medsos ternyata muncul perlawanan hukum. Basri Kajang pergi ke Makassar untuk melaporkan pribadi-pribadi anggota pansus ke polisi di sana: pencemaran nama baik. Juga melaporkan saksi-saksi sebagai telah memberikan kesaksian palsu. Basri juga mempersoalkan sidang-sidang pansus: kenapa sidangnya terbuka dan hasilnya diunggah ke YouTube.
“Saya terpaksa datang ke Makassar untuk melaporkan mereka ke polisi,” ujarnya. Laporan itu sudah ia masukkan ke Polda Sulsel. Rabu lalu. Basri didampingi pengacaranya: Jasri Jack. Juga ditemani sahabat karibnya: Zulfikar Yunus.
Ternyata sudah lama Basri lebih banyak tinggal di Balikpapan. Yakni sejak istrinya pindah ke Kaltim menjabat direktur pascasarjana di salah satu universitas swasta di Balikpapan. Di Balikpapan pula mereka bercerai. Dua tahun lalu. Kini tiga anak mereka ikut sang ibu.
Meski sudah bercerai, Basri, asal Sulsel, tetap tinggal di Balikpapan. Punya rumah sendiri. Rumahnya tidak jauh dari rumah mantan istrinya sehingga masih merasa dekat dengan tiga anaknya.
Ketika pansus bersidang dan videonya diunggah ke YouTube, anak-anak Basri sampai ada yang berhenti sekolah: tidak tahan malu di-bully teman-temannya.
“Laki-laki yang di video itu bukan bapakmu,” ujar Basri kepada anaknya seperti dikutipkan ke saya. “Bapak tidak berselingkuh dengan Bu Bupati Gowa,” ujar Basri.
Kenapa Basri tidak hadir saat persoalannya masih di pansus? Ia berpendapat pansus itu proses politik. Ia merasa tidak ada hubungan dengan persoalan politik.
Akhirnya Zulfikar –pernah berada di tim ahli militer Dr Salim Said– menjemput Basri ke Balikpapan. Zulfikar, budayawan dan penulis banyak buku, mengajak Basri pulang ke Makassar. Basri tinggal serumah dengan Zulfikar karena rumah Basri di sana sudah diberikan ke istri sebagai gono-gini. Lalu mengadu ke polisi.
Basri alumnus Universitas Negeri Makassar. Zulfikar alumnus UIN Makassar. Keduanya aktivis sejak mahasiswa.
Waktu Syahrul Yasin Limpo mencalonkan diri sebagai gubernur Sulsel, Basri Kajang sebagai konsultan politiknya. Waktu itu Basri masih tergabung dengan Lingkaran Survei Indonesia-nya Denny JA.
Setelah Limpo berhasil jadi gubernur, Basri memisahkan diri dari LSI. Ia berdiri sendiri sebagai konsultan politik independen. Basri banyak dipakai calon bupati dan wali kota. Sudah puluhan yang berhasil di pilkada.
Suatu saat Basri dihubungi Fadil Imran, seorang jenderal polisi. Adik sang jenderal, Sitti Husniah akan maju sebagai calon anggota DPRD Gowa. Basri diminta jadi konsultan politiknyi. Berhasil. Pun ketika Husniah akan mencalonkan diri sebagai bupati Gowa. Berhasil lagi.
Kini persoalan di Gowa sangat riuh. Perang YouTube luar biasa hebatnya. Sudah merembet ke persoalan pidana. Saling mengadukan.
Perdebatan juga sangat luas: ini urusan pribadi atau urusan publik. Ahli-ahli hukum di Universitas Hasanuddin Makassar punya pendapat masing-masing.
Basri sendiri akan tetap tinggal di Makassar sampai proses hukum yang ia adukan tuntas. “Anne mi Toto bura’neku. Saya akan jalani prosesnya,” katanya.
Drama Gowa ini menjadi serial yang panjang. Itu bisa menjadi penambah kesibukan Anda di tengah drama kupas bawang. Kita perlu lebih banyak lagi drama agar lupa persoalan bangsa yang sebenarnya. (Dahlan Iskan)











