RADARBEKASI.ID, BEKASI – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 dikemas melalui pentas teatrikal. Sebanyak 179 siswa terlibat dalam pertunjukan tersebut. Seperti apa persiapannya dan pesan yang ingin ditanamkan kepada siswa?
Suasana berbeda terlihat di SMRA 13 Kota Bekasi saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bukan sekadar mendengarkan ceramah atau mengikuti rangkaian acara seremonial, para siswa diajak mengenal sosok Rasulullah melalui sebuah pentas teatrikal.
Di atas panggung, para siswa memainkan peran masing-masing. Ada yang menjadi pemeran utama, ada pula yang tampil sebagai figuran. Mereka berusaha menghidupkan kisah Nabi melalui dialog, akting hingga properti yang dipersiapkan bersama.
Sebanyak 179 siswa terlibat dalam pementasan tersebut. Persiapannya pun tidak dilakukan dalam waktu singkat. Selama tiga hingga empat minggu, para siswa menjalani latihan sebanyak dua sampai tiga kali dalam sepekan setelah pulang sekolah.
“Persiapannya mulai dari pemilihan naskah, pembagian peran, latihan akting, sampai gladi bersih. Untuk jumlah siswa yang tampil sekitar 179 anak, tergantung peran utama dan figuran,” ujar Rifki Aziz Pembina eskul Galium Multimedia (jurnalistik) SRMA 13 Kota Bekasi kepada Radar Bekasi, Selasa (25/8)
Bagi sekolah, teatrikal dipilih agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kisah Rasulullah diharapkan dapat lebih mudah dipahami siswa ketika disampaikan melalui sebuah pertunjukan.
“Tujuannya biar peringatan Maulid gak cuma seremonial. Anak-anak bisa memahami kisah Nabi, terus nilai-nilainya diterapkan di sekolah dan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Di balik panggung, proses latihan juga menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa. Mereka harus menghafalkan dialog, belajar memainkan karakter, hingga membuat sejumlah properti yang digunakan dalam pertunjukan.
Alhasil, antusiasme siswa selama persiapan disebut sangat tinggi. Mereka tidak hanya menjalani latihan, tetapi juga merasa bangga karena mendapat kesempatan tampil di hadapan teman-teman dan guru.
“Alhamdulillah antusias banget. Anak-anak semangat latihan, hafalin dialog, bikin properti sendiri. Mereka merasa bangga bisa tampil,” ujarnya.
Bukan hanya tentang kemampuan tampil di atas panggung. Dari kisah kehidupan Rasulullah, sekolah ingin menanamkan nilai-nilai yang dapat menjadi bekal siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kesabaran, kejujuran, kepedulian terhadap sesama, toleransi, gotong royong hingga kedisiplinan menjadi nilai yang coba disampaikan melalui kegiatan tersebut.
“Pesan utamanya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Biar anak-anak bisa belajar sabar, jujur, peduli sama sesama, dan cinta sama Nabi lewat cara yang lebih hidup,” tuturnya.
Dalam proses latihan hingga pementasan, guru memiliki peran penting. Mereka mendampingi siswa mulai dari mengarahkan dialog, memperbaiki akting hingga memberikan motivasi agar siswa lebih percaya diri saat tampil.
“Guru jadi sutradara, pelatih, sekaligus motivator. Mulai dari arahin dialog, koreksi akting, sampai dampingi pas hari H biar anak-anak Percaya diri,” katanya.
Persiapan pementasan tentu tidak berjalan tanpa tantangan. Para siswa harus membagi waktu antara latihan dengan kegiatan belajar. Proses menghafalkan dialog dan pembagian peran juga membutuhkan penyesuaian.
“Tantangannya di waktu dan pembagian peran. Anak-anak masih adaptasi hafalan dan kegiatan belajar. Tapi Alhamdulillah bisa keatasi bareng-bareng,” ujarnya.
Setelah pementasan selesai, pengalaman tersebut meninggalkan kesan bagi para siswa. Mereka disebut merasa senang sekaligus bangga karena dapat terlibat langsung dalam peringatan Maulid Nabi.
“Senang dan bangga, Banyak yang bilang jadi lebih paham kisah Nabi dan lebih termotivasi buat niru sifat baiknya,” katanya.
Bagi sekolah, panggung teatrikal hanyalah salah satu cara untuk mengenalkan keteladanan Rasulullah. Lebih jauh, nilai yang dipelajari diharapkan dapat terlihat dalam sikap dan perilaku siswa setelah kegiatan berakhir.
Harapannya, siswa tidak sekadar mengetahui sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, tetapi mampu mengambil teladan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya anak-anak gak cuma hafal sejarah, tapi bisa jadi pribadi berkarakter, berakhlak mulia, dan jadi SDM unggul buat bangsa,” pungkasnya. (rez)











