RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh di tengah musim pancaroba dengan cuaca panas dan kemarau panjang yang masih berlangsung.
Plt Kepala Dinkes Kota Bekasi Hadi Prabowo mengatakan, masyarakat perlu memperbanyak minum dan mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kondisi memungkinkan. Penggunaan masker juga tetap dianjurkan saat berkendara maupun beraktivitas di luar rumah.
Menurut Hadi, kondisi panas dan kering membuat debu dari permukaan tanah lebih mudah terangkat. Selain itu, pihaknya mulai menemukan indikasi kasus influenza, seperti batuk, pilek dan demam, meski jumlahnya masih dalam batas normal.
“Selain ISPA dan DBD, ada indikasi influenza dan penyakit sejenis lainnya mulai sedikit merebak. Berdasarkan laporan dari beberapa fasilitas kesehatan, memang ada peningkatan, meskipun belum signifikan,” kata Hadi, dikutip Rabu (23/9).
Hadi menyebut, keluhan tersebut juga mulai terlihat pada pasien anak di sejumlah rumah sakit. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan yang berkelanjutan.
Untuk penyakit yang dominan pada September, Hadi mengatakan ISPA dan DBD masih menjadi kasus yang banyak ditemukan. Namun, karakteristik penyakit berbeda di setiap wilayah.
“Kalau berbicara berdasarkan wilayah, kondisinya berbeda-beda. Misalnya, orang mungkin berpikir kasus ISPA pasti tinggi di Bantargebang. Ternyata di wilayah Bekasi Utara juga kasus ISPA cukup tinggi. Sementara di Mustikajaya berbeda lagi. Di sana lebih banyak ditemukan kasus malaria dan DBD,” ujarnya.
Dinkes Kota Bekasi memastikan pelayanan kesehatan tetap disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kasus. Sebanyak 55 puskesmas diminta selalu siap dari sisi tenaga kesehatan maupun ketersediaan obat.
Selain itu, Dinkes juga meminta rumah sakit di Kota Bekasi tetap sigap dalam menerima pasien. Saat ini terdapat 51 rumah sakit yang menjadi bagian dari fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bekasi.
“Kesiapan itu meliputi tenaga kesehatan maupun obat-obatan. Jangan sampai pelayanan kepada masyarakat lambat atau terjadi kekurangan obat,” kata Hadi.
Sementara untuk kasus DBD, Hadi memastikan hingga kini belum terjadi lonjakan. (rez)











