Berita Bekasi Nomor Satu
Disway  

Dewi Roro

 

Oleh Dahlan Iskan

Sampai di Ciracap saya minta berhenti: saya ingin bertemu masyarakat setempat. Saya ingin bertanya: sudah berapa lama jalan raya di Ciracap bopeng-bopeng keriting seperti itu.

 

Kemarin saya memang lewat Ciracap –dalam perjalanan dari dekat Pelabuhan Ratu menuju Pangandaran: menyusuri jalur selatan Jawa Barat. Total perjalanan 13 jam di mobil. Sehari sebelumnya enam jam dari Jakarta ke Curug Cimarunjung –setengah jam lebih jauh dari Pelabuhan Ratu.

 

Sebenarnya perjalanan itu bisa hemat dua jam kalau jalan di Ciracap tidak sebopeng itu. Saya heran di tahun 2026 masih ada jalan seburuk itu di Jabar. Gara-gara dana daerah dikurangi? Gara-gara gubernur KDM belum pernah lewat Ciracap? Gara-gara wilayah Sukabumi terlalu luas sehingga bupatinya tidak mampu memelihara jalan di pedalamannya?

 

Saya berhenti di Ciracap, juga agar punggung istri saya tidak berteriak kelelahan. Sudah dua jam disiksa jalan penuh bopeng.

 

Di depan sebuah toko saya ngobrol dengan warga setempat. Ia sedang istirahat bergerombol di situ. Saya lirik sepeda motornya yang sedang diparkir: plat nomornya sudah lama mati –bertahun 2022.

 

Ia tahu saya melirik nomor motornya agak lama. Ia pun tahu maksud saya. Lalu tanpa saya tanya sudah bicara sendiri.

 

“Saya tidak mau membayar pajak sebelum jalan di sini dibuat mulus,” katanya. Berkali-kali ia ulangi bicara seperti itu. Seperti bangga bisa membangkang. Berarti sudah lama ia jengkel dengan kondisi jalan di situ.

 

Saat malam sebelumnya saya bermalam di Ciletuh saya tidak membayangkan akan melewati jalan seperti di Ciracap. Sudah lama saya mendengar bahwa Jalan Lintas Selatan Jawa Barat itu mulus seperti paha balerina. Kok ternyata seperti ini.

 

Di Ciletuh kini memang sudah ada hotel bagus. Di pinggir laut yang pantainya curam. Cukup ramai –mungkin karena malam Minggu.

 

Tidak jauh dari hotel baru itu ada patung Dewi Kwan Im yang terkenal. Tergolong baru. Banyak yang datang untuk ke Dewi Kwan Im.

 

Maka di lengkung teluk Pelabuhan Ratu kini tidak hanya ada Ratu Nyi Roro Kidul. Saya pernah ke kamar Nyi Roro Kidul di sebuah hotel milik negara di situ: di hotel Inna Samudera Beach. Waktu itu Dewi Kwan Im belum berdiri di Ciletuh –di sisi seberang teluk yang sama.

 

Maka di belakang hotel baru itu, malam-malam, sambil memandang laut malam Samudera Hindia, saya membayangkan: jangan-jangan di langit Pelabuhan Ratu, dua dewi itu sedang bertempur: Nyi Roro Kidul v Dewi Kwan Im.

Kalau Dewi Kwan Im yang menang mudah-mudahan segala badai yang melanda Indonesia segera berlalu. Tapi kalau sampai Nyi Roro Kidul yang menang bisa jadi badai itu masih bisa berlalu tapi berlalu-lalang.

 

Awalnya dari Ciletuh kami ingin balik ke Jakarta. Tapi istri keberatan. Dia tidak ingin melihat pemandangan sepanjang jalan antara exit tol Cibadak sampai Pelabuhan Ratu: sumpek. Tidak terlihat sama sekali pemandangan kanan-kiri jalan. Penuh dengan bangunan kumuh. Sambung-menyambung. Padat.

 

Lalu lintas pun sesak. Jalan yang sempit kian menyempit. Dia tidak menemukan apa yang dulu dia lihat: keindahan bumi Parahyangan. Dia merasa penat sepanjang jalan. Itulah jalan utama ke Pelabuhan Ratu.

 

Maka saya pikirkan pilihan lain: lewat situ lagi tapi tengah malam. Siapa tahu lebih lancar. Kegelapan malam juga bisa menutup kekumuhan kiri kanan jalan.

 

Saya lama memikirkan bagaimana cara mengatasi persoalan itu: betapa sulit. Menyangkut kehidupan rakyat kecil. Tidak boleh digusur begitu saja.

 

Misalkan jadi gubernur Jabar saya mengaku: tidak mampu mengatasi persoalan sepanjang jalan itu. Rasanya hanya orang seperti KDM yang mampu. Kang Dedi Mulyadi adalah tokoh yang sangat populer. Dicintai rakyatnya. Luar biasa. Hanya tingkat kecintaan seperti itu yang bisa dimanfaatkan untuk meyakinkan rakyat tentang perlunya penataan. Tanpa itu rakyat akan melawan dan pejabatnya akan kewalahan.

 

“Kembalikan Priangan” termasuk misi KDM. Di sepanjang jalan yang saya lalui ini misalnya, sudah berdiri tiang listrik baru ”ala Sunda”. Merata. Tidak habis-habisnya. Sebagian terlihat cantik dengan warna aksesori emasnya, sebagian tenggelam oleh kekumuhan sekitarnya. Semangat mendirikan ”tiang listrik khas Sunda” itu seperti tidak ada duanya.

 

Maka begitu istri mengeluh soal jalan menuju Pelabuhan Ratu saya ingat informasi lama: jalan lintas selatan Jawa Barat sangatlah mulus. Baik. Saya putuskan tidak balik ke Jakarta. Pilih lewat lintas selatan –entah ke mana.

 

Ternyata tidak semulus di pikiran. Sejak pertigaan Waluran jalan penuh bopeng. Keriting. Mobil terus terguncang. Rasanya biar pun naik mobil hanya bisa secepat orang jalan kaki: 5 km/jam.

 

Baru menjelang Surade bopengnya berkurang. Berarti dua jam lebih terasa tersiksa. Kalau sampai ada warga yang tidak mau bayar pajak sampai jalan dibuat mulus berarti kemarahan rakyat memang sudah sangat dalam.

 

Jalan mulus itu baru benar-benar ditemukan setelah Surade. Mulusnya luar biasa. Mulus terus. Sampai Sindangbarang. Sampai Cidaun. Sampai Ciheras. Pun sampai Pangandaran. Tentu kami mampir Ciheras. Apalagi Ricky Elson buka kafe di bibir pantai: Cafe Senja by Lentera Bumi.

 

Dari Ciheras kami langsung ke Pangandaran. Akhirnya tujuan kami: Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien. Kami bermalam di pesantren, sedikit di timur kota Pangandaran.

 

Baru kali ini saya menjelajah jalan selatan Jabar. Dari Pelabuhan Ratu sampai Pangandaran. Secara utuh. Dulu-dulu hanya sepotong-sepotong.

 

Sudah beberapa kali saya ke pesantren ini meski di sini tidak ada perkelahian antara Nyi Roro Kidul dan Dewi Kwan Im. (Dahlan Iskan)