RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Sejumlah saham yang terindikasi dimiliki dan terkait dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau H Isam mayoritas mengalami pelemahan cukup dalam pada perdagangan Senin (19/10).
Tekanan paling dalam terjadi pada saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merosot 775 poin atau 7 persen ke level 10.375.
Sebagaimana diketahui, pada 17 September 2026 H Isam resmi mencaplok 30 persen saham perusahaan tambang batu bara milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
BACA JUGA: Pembukaan Awal Pekan IHSG Merah Lagi, Dibuka Rp4.914
Kepastian tersebut terungkap setelah Low Tuck Kwong dan Elaine Low menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) atau Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama atau perusahaan milik H Isam pada 16 September 2026.
Pelemahan juga dialami saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang turun 150 poin atau 6,6 persen ke level 2.120. Sementara itu, saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) melemah 135 poin atau 6,8 persen ke level 1.850.
Saham lainnya, RANS, turun 10 poin atau 6,8 persen ke level 138. Di tengah tekanan mayoritas saham tersebut, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) terpantau stagnan di level 6.850.
Sebelumnya diberitakan, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, akuisisi saham BYAN menjadi salah satu faktor yang membuat Morgan Stanley Capital International (MSCI) berniat untuk menurunkan status pasar saham di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, MSCI baru saja merilis laporan terbaru yang membuka peluang Indonesia turun dari status sebagai pasar negara berkembang atau emerging market menjadi pasar mandiri atau standalone market.
“Pertama soal akuisisi saham Bayan yang dianggap tidak transparan dan terindikasi melibatkan kredit agunan saham ke Bank Mandiri. Artinya ada afiliasi antar pemain di bursa saham, sementara gelap nih transaksinya,” ujar Bhimq, dikutip JawaPos.com, Minggu (18/10/2026). (jpc)









