RADARBEKASI.ID,BEKASI-Dampak kemarau panjang membuat warga Kabupaten Bekasi kian kesulitan mendapat pasokan air bersih. Sejumlah warga terpaksa harus berjalan kiloan meter ke sumber air.
Di Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, warga kini bergantung penuh pada keberadaan sumur pompa manual (pompa dragon) di Jalan Lurah Parman akibat mengeringnya sumber air utama mereka.
Warga Desa Medalkrisna, Iip Sarip (30), menuturkan, sumber air warga dari sumur-sumur galian maupun situ bedeng telah mengering sejak dua bulan lalu.
“Udah pada kering semua sumur-sumurnya, apalagi sumur bor disini kan gak ada kalau sumur bor (mesin jetpump) kayak biasa,” ujar Iip kepada Radar Bekasi di Bojongmangu, Senin (19/10).
Untuk memenuhi kebutuhan air harian keluarga, lanjut Iip, ia harus menempuh perjalanan sejauh satu kilometer bolak-balik sembari mendorong gerobak kayu berisi tujuh jerigen kosong. Aktivitas ini rutin ia lakukan hingga tiga kali dalam sehari.
“Sehari tu nyampe tiga gerobak bolak balik. Gerobak ini isinya tujuh jerigen. Berarti sehari itu tiga kali ngambilnya, jadi 21 jerigen lah,” tambahnya.
Menurutnya, biasanya warga memanfaatkan air dari situ bedeng untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK). Namun, kondisi situ yang mengering memaksa warga beralih menempuh jarak relatif jauh menuju sumur pompa manual.
Walau bantuan air bersih dari pemerintah daerah sudah mulai disalurkan, jumlahnya dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan harian masyarakat.
“Udah ada sih (bantuan), cuman gak memenuhi kebutuhan sih. Paling seminggu dua kali lah bantuannya,” ujat Iip.
Kondisi sulit yang dialami warga Desa Medalkrisna menjadi cerminan kecil dari krisis air bersih yang mengepung Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan infografis pemutakhiran data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi per 18 Oktober 2026 pukul 22.00 WIB, bencana kekeringan telah meluas hingga ke 380 titik lokasi.
Krisis air bersih ini melanda 57 desa yang tersebar di 15 kecamatan. Secara keseluruhan, sebanyak 39.139 Kartu Keluarga (KK) atau setara 115.446 jiwa kini terdampak langsung oleh bencana kekeringan.
Tak hanya berdampak pada konsumsi rumah tangga, sektor pertanian pun terancam gagal panen dengan total 539 hektar lahan pertanian di 28 desa dan 9 kecamatan ikut terdampak.
Menanggapi eskalasi bencana ini, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum bagi masyarakat menjadi prioritas utama penanganan darurat saat ini.
“Hingga pertengahan Oktober ini, total air bersih yang telah didistribusikan oleh tim gabungan BPBD, PDAM, PMI, TNI/Polri, serta berbagai instansi dan dunia usaha telah mencapai 16.942.275 liter,” terang Dodi Supriyadi.
Dodi menambahkan, selain pendistribusian air bersih secara intensif, upaya penanganan kekeringan juga dilakukan secara lintas sektoral.
“Kami terus berkoordinasi erat dengan aparat setempat dan seluruh jajaran untuk memastikan bantuan air bersih disalurkan secara berkala, sekaligus memperkuat infrastruktur darurat seperti penyediaan tandon dan sumur satelit di wilayah-wilayah terdampak paling parah,” pungkasnya. (ris)











