Berita Bekasi Nomor Satu

Perang Selamatan

 

Oleh Dahlan Iskan

Apakah kedatangan Menlu Singapura ke Jakarta Rabu lalu bisa meredakan ketegangan hubungan kedua negara?

Tergantung.

 

Yang pasti, yang bisa meredakan dengan cepat adalah hujan. Tanda-tanda musim hujan sudah terlihat. Beberapa daerah di Indonesia sudah mulai turun hujan.

Di Singapura sendiri juga sudah ada hujan. Siapa tahu Kalimantan akan lebih banyak dapat hujan –agar tidak ada lagi asap yang sampai tenggorokan warga Singapura.

 

Tapi isunya sudah telanjur tidak hanya soal asap. Ketegangan itu sudah merembet ke pasokan gas: Indonesia memangkas pasok gas ke Singapura –sebanyak 30 juta kaki kubik. Dari Singapura berkembang isu balasan: akses internet ke Indonesia akan dihambat.

Pemotongan pasok gas tidak akan membuat warga Singapura terpengaruh. Apalagi sampai marah-marah ke pemerintah mereka. Pasok gas dari Indonesia hanya setara 200 MW listrik. Tidak sampai dua persen kebutuhan negara itu.

 

Tapi kalau Singapura benar-benar akan memangkas akses internet itu akan membuat rakyat Indonesia marah ke kedua arah: ke pemerintah Indonesia sendiri dan ke Singapura.

Indonesia tidak takut akses internet dihalangi. Di bidang internet orang Indonesia pun bisa marah: kabel bawah laut dari Australia ke Singapura lewatnya laut Indonesia: diputus saja.

 

Akhirnya seperti anak kecil yang sedang bertengkar. “Bapakmu nanti tidak diundang selamatan di rumahku,” kata teman kecil saya dulu saat bertengkar soal kecurangan dalam bermain kelereng.

Selamatan adalah memperingati meninggalnya leluhur. Biasanya ada potong ayam. Hanya di saat selamatanlah orang desa zaman itu punya kesempatan makan daging ayam.

 

Orang tua yang diundang selamatan akan pulang dengan membawa sisa makanan –sebagian orang tua sengaja tidak banyak makan di tempat agar bisa membawa pulang makanan lebih banyak untuk anak istri. Yang di rumah pun menunggu-nunggu kepulangan ayah dari selamatan.

Perang isu Indonesia-Singapura langsung reda kalau hujan turun merata di Kalimantan dan Sumatera Selatan. Atau jangan-jangan justru dijaga agar ketegangan itu tidak reda –daripada mereka memusuhi pemerintahnya sendiri.

 

Asap, gas, internet hanyalah yang muncul di permukaan. Asap akan reda dengan sendirinya. Gas Indonesia tidak berarti bagi Singapura. Internet saling sandera. Hubungan internet kita ke Amerika, Eropa, dan Australia memang harus lewat Singapura. Kabel fiber optic kita tidak ada yang langsung ke negara lain selain lewat Singapura.

Sejak dulu begitu.

 

Saya pernah mencoba membuat terobosan: patungan dengan orang Hong Kong untuk bikin perusahaan kabel bawah laut dari Surabaya langsung ke Hong Kong. Tanpa lewat Singapura.

 

Tugas saya mengurus izin landing fiber optic di pantai dekat Surabaya. Juga membuat jaringan fiber optic dari lokasi itu ke Surabaya –dan kelak ke seluruh Indonesia.

Tugas partner saya di Hong Kong mengurus izin landing kabel di Hong Kong. Juga menyambungkannya ke jaringan di Hong Kong –yang akan otomatis sampai ke Amerika.

 

Saya sudah melaksanakan apa yang menjadi kewajiban saya. Izin landing sudah saya dapat. Jaringan fiber optic sudah saya bangun. Pun di kota Surabaya. Sampai sekarang masih ada. Masih berfungsi. Tapi partner saya di Hong Kong mengalami kesulitan keuangan.

Saya sendiri lantas sakit parah: kena kanker hati. Urusan dengan partner di Hong Kong macet. Setelah sembuh saya sibuk jadi sesuatu. Proyek itu telantar.

 

Saya sudah membayangkan saat itu: kita tidak boleh terlalu tergantung pada satu negara lain. Saya tidak menyangka ancaman seperti itu akhirnya benar-benar datang kelak di bulan Oktober 2026.

Singapura sendiri juga belajar dari ketegangan asap dan gas itu: tidak mau lagi tergantung pada gas Indonesia –bahkan juga gas dari Timur Tengah. Kalau terjadi perang di Timteng –seperti yang baru saja terjadi di Iran– Singapura ikut terancam.

 

Maka perdana menteri Lawrence Wong menegaskan: Singapura perlu membangun pembanglkit listrik tenaga nuklir sendiri. Saya belum bisa membayangkan di mana lokasinya. Mungkin di Jurong.

Dulu Singapura bereaksi negatif ketika mendengar selentingan bahwa Indonesia akan membangun pembangkit listrik nuklir di Bangka. Itu dianggap membahayakan Singapura. Maka begitu mendengar Singapura justru akan membangun nuklir di wilayahnya sendiri pejabat Indonesia bereaksi: akan bangun nuklir lebih dekat lagi ke Singapura.

 

Jangan-jangan ada perusuh Disway yang bertaruh: siapa yang akan lebih cepat selesai; nuklirnya Singapura atau Indonesia.

Kalau ada perusuh yang pegang Singapura bukan berarti meremehkan kemampuan Indonesia. Membangun pembangkit nuklir tidak hanya ditentukan oleh siapa yang lebih cepat memulai. Yang lebih menentukan adalah lembaga nuklir internasional. Harus ada izin dari mereka.

 

Izin itu sangat ketat: akan dilihat juga kesiapan pengamanannya. Termasuk kesiapan prosedur dan disiplinnya. Juga track record negara itu.

Kasus monyet masuk gardu induk di Batam akan jadi faktor penyulit. Kasus pencurian isotop dari uranium di Batan –dua tahun lalu– telah dicatat sebagai keanehan kok bisa terjadi. Saat itu ditemukan radiasi di berbagai lokasi di perumahan karyawan yang mencuri isotop.

 

Saya tetap pada harapan semula: musim hujan segera tiba. Musim demo juga berakhir –karena aspirasi mahasiswa didengarkan baik-baik.

 

Harapan adalah masa depan –meski mungkin masa depan yang agak jauh. (Dahlan Iskan)