RADARBEKASI.ID, BEKASI – Siswa SMAN 5 Kota Bekasi masih menuntut transparansi pihak sekolah atas pengelolaan uang sumbangan dan beberapa jenis pungutan lain. Sebab sejauh ini para siswa mengaku belum puas dengan penjelasan pihak sekolah terkait persoalan krusial tersebut.
Setelah beberapa informasi disampaikan oleh salah satu siswa berinisial D, Radar Bekasi kembali menerima informasi dari siswa lain, A. Usai aksi demonstrasi siswa di dalam lingkungan sekolah beberapa waktu lalu, belum ada jawaban memuaskan dari pihak sekolah selain kepastian tanggal Class Meeting.
Padahal, lebih dari itu ada isu transparansi uang sumbangan dan beberapa pungutan lain yang belum terjawab sama sekali. Pihak sekolah, kata siswa kelas XII ini, tidak memberikan penjelasan lantaran hal ini dianggap bukan ranah siswa.
Terkait dengan uang sumbangan sekolah total Rp8 juta, A menyebut peruntukan ya sudah cukup dimengerti, dan tidak ada kenaikan. Dimana masing-masing Rp4 juta merupakan uang gedung, dan uang sumbangan selama satu tahun.
Hanya saja, uang gedung dan sumbangan pendidikan ini sejak lama telah menjadi polemik dan tak kunjung terselesaikan. A dan kawan-kawannya yang lain juga memprotes kartu Penilaian Akhir Semester (PAS) siswa yang ditahan oleh pihak sekolah.
“Yang kami permasalahkan adalah anak-anak kelas X dan kelas XI yang belum membayar uang sumbangan ditahan kartu PASnya. Ditahan sampai mereka nyamperin kepseknya atau sampai mereka bayar,” katanya.
Kegiatan siswa beberapa waktu terakhir dari cerita A nampaknya sangat padat. Dimulai dengan PPCP pada tanggal 24 Oktober, kemudian PTS pada 31 Oktober, dilanjutkan dengan pekan remedial dan penambahan nilai di pekan selanjutnya.
Setelah pekan remedial, dilanjutkan dengan Regen sekolah dan LDKS. Minggu berikutnya dilanjutkan dengan Regen Ekskul dan PAS. Setelah PAS, dilanjutkan dengan KBM semester 2.
Persoalan berikut yang mereka tuntut transparansinya adalah pungutan beberapa kegiatan. Diantaranya adalah biaya PPCP berkisar antara Rp350 hingga Rp700 ribu, serta LDKS dan Regen Rp550 ribu.
Nominal tersebut dinilai cukup mahal, tidak sebanding dengan fasilitas yang didapat. Biaya kali ini lebih mahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, hanya berkisar Rp100 sampai Rp150 ribu dengan alasan tahun ini dilaksanakan di luar sekolah.
“Untuk alasannya sendiri sih cuma dibilang karena di luar aja. Begitu kita minta transparansinya beliau (pihak sekolah) hanya jawab bahwa hal ini bukan ranah kami sebagai murid, dan kalaupun dijelaskan beliau bilang kami tidak akan mengerti, jadi berakhir tidak dijelaskan sama sekali,” ungkapnya.
Sejumlah siswa masih terus berkomunikasi dengan pihak sekolah terkait dengan hal ini, dua tuntutan pokok yang mereka perjuangkan adalah transparansi dana dan kegiatan KBM. A menyebut jawaban yang ia terima selama ini sama sekali belum mampu menjawab tuntutan ia dan teman-temannya.
“Belum sama sekali,” ungkapnya.
Sebelumnya Kepala Sekolah SMAN 5 Kota Bekasi, Waluyo menyebut sama sekali tidak ada pungutan di sekolah. Terkait dengan sumbangan pendidikan Rp8 juta, ia menyebut bahwa nominal ini telah disepakati oleh komite sejak era kepala sekolah sebelumnya.
Ia juga mengaku tidak memutuskan untuk menaikkan nominal sumbangan pendidikan tersebut. “Saya tidak memutuskan sumbangan harus naik atau turun, kita mengikuti sumbangan yang sudah diputuskan oleh komite, itu saja,” katanya.
Selain itu, Waluyo pun menyebut bahwa ia telah meminta klarifikasi dari pihak komite sekolah terkait dengan besaran sumbangan tersebut. Termasuk kegiatan-kegiatan kesiswaan seperti pelantikan Pramuka dan sebagainya telah diinformasikan dan dimengerti oleh orangtua siswa.
“Bahkan untuk kegiatan-kegiatan itu sudah dilakukan oleh komite di awal seperti pelantikan Pramuka itu sudah dirancang, orang tua sudah tau dari awal,” tambahnya. (sur)











