RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suasana hangat dan penuh keakraban terasa kental di Gedung Suyati, Kampus Universitas Muhammadiyah Indonesia (Unisma Bekasi), Kamis (2/4). Seluruh dosen dan karyawan berkumpul dalam kegiatan halal bihalal bertema “Menjaga Spirit Ramadan, Meningkatkan Amal Kebaikan”.
Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah pengurus pusat Muhammadiyah serta jajaran pimpinan wilayah, menjadikan momen silaturahmi tersebut terasa semakin istimewa.
Sejak pagi, para peserta hadir dengan wajah cerah dan saling bersalaman. Nuansa kekeluargaan begitu terasa, mencerminkan semangat kebersamaan yang ingin terus dirawat selepas Ramadan. Tidak sekadar tradisi tahunan, halal bihalal ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk membangun kampus yang lebih baik.

Rektor Universitas Muhammadiyah Indonesia, Nazarudin Malik, dalam sambutannya mengajak seluruh warga kampus untuk menjadikan Ramadan sebagai titik tolak peningkatan kinerja. Ia menegaskan bahwa semangat ibadah dan kedisiplinan selama bulan suci harus berlanjut dalam kehidupan profesional sehari-hari.
“Kita harus meningkatkan kinerja dalam segala bidang. Ramadan telah melatih kita untuk disiplin, jujur, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Nilai itu jangan berhenti setelah Idulfitri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan kampus. Menurutnya, suasana kampus yang bersih dan tertata mencerminkan karakter institusi serta menjadi bagian dari pelayanan terhadap mahasiswa.
“Lingkungan kampus harus kita jaga bersama. Kebersihan adalah bagian dari iman dan juga bagian dari profesionalitas kita sebagai institusi pendidikan,” tegasnya.
Nazarudin menambahkan, dirinya berkomitmen membawa Universitas Muhammadiyah Indonesia menjadi perguruan tinggi yang lebih maju dan dikenal luas. Salah satu target yang dicanangkan adalah meraih akreditasi unggul dalam waktu dekat.
“Kita harus membangun team work yang kuat. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita harus memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, baik sesama dosen, karyawan, maupun mahasiswa. Dengan kerja sama dan empati, insyaallah UM Indonesia akan semakin maju dan meraih akreditasi unggul,” katanya optimistis.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ahmad Dahlan, dalam tausiyahnya menekankan pentingnya perguruan tinggi memahami kebutuhan dan harapan masyarakat. Menurutnya, kampus tidak boleh terlepas dari realitas sosial.
“Perguruan tinggi hari ini harus peka. Harus memahami apa yang diinginkan masyarakat. Jangan sampai kampus berjalan sendiri tanpa menjawab kebutuhan umat,” ujarnya.
Ia juga mengutip pemikiran klasik Imam Syafii tentang makna manusia. “Imam Syafii mengajarkan bahwa manusia itu bernilai. Orang berilmu harus beramal. Ilmu tanpa amal tidak akan memberi makna,” katanya.
Dalam penjelasannya, Dahlan memaparkan tingkatan manusia. Pertama, manusia yang sekadar hidup, hanya menjalani hari demi hari tanpa arah yang jelas. Kedua, manusia yang hidup karena cita-cita.
“Ada yang hidup karena cita-cita. Cita-citanya jadi dosen, tidak ada yang lain,” tuturnya.
Tingkatan berikutnya adalah manusia yang hidup karena ilmu. Namun, menurutnya, level tertinggi adalah ketika seseorang memiliki ilmu sekaligus mampu memberi manfaat bagi masyarakat. “Yang paling tinggi itu ketika manusia memiliki ilmu dan bermakna, bermanfaat untuk masyarakat. Di situlah nilai kemuliaan seorang insan akademik,” tegasnya.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa (FKSB), Saefudin, mengungkapkan bahwa kegiatan halal bihalal ini menjadi momentum mempererat persaudaraan di lingkungan kampus.
“Melalui kegiatan ini, rasa kebersamaan dan persaudaraan sesama dosen dan karyawan UM.ID semakin erat. Ini bukan hanya tradisi, tetapi ruang untuk saling memahami dan menguatkan,” ujarnya.
Ia berharap spirit Ramadan dan semangat meningkatkan amal kebaikan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam aktivitas akademik di Universitas Muhammadiyah Indonesia.
“Nilai-nilai Ramadan harus kita jaga. Kejujuran, kedisiplinan, dan semangat berbuat baik itu harus menjadi budaya kampus,” pungkasnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan saling bersalaman. Di tengah canda dan senyum yang mengembang, halal bihalal itu menjadi peneguh komitmen bahwa kebersamaan adalah fondasi utama untuk melangkah menuju kampus yang unggul dan bermakna bagi masyarakat. (mif)











