Berita Bekasi Nomor Satu

Attaqwa dan UMJ Perkuat Sinergi Pendidikan Islam, Jejak KH Noer Alie Dijadikan Landasan

Jajaran Perguruan Attaqwa dan UMJ foto bersama. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perguruan Attaqwa meneguhkan kembali warisan pemikiran dan perjuangan KH Noer Alie melalui momentum Halalbihalal 1447 H. Acara ini dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sebagai langkah strategis memperkuat sinergi pendidikan Islam.

Kegiatan dihadiri oleh jajaran Badan Pembina, Pengurus, Pengawas, serta pimpinan kedua institusi, termasuk Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod. Kehadiran para pemangku kepentingan menegaskan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai keumatan.

Bagi Perguruan Attaqwa, kolaborasi ini merupakan upaya melanjutkan jejak KH Noer Alie, yang konsisten menempatkan pendidikan sebagai jalan membangun peradaban. Tokoh yang dekat dengan tradisi Muhammadiyah dan aktif di Masyumi ini meletakkan dasar pendidikan berbasis pembentukan insan “benar dan pintar”, unggul secara intelektual, kuat iman, dan berintegritas moral. Nilai-nilai ini menjadi ciri khas Attaqwa dalam membangun ekosistem pendidikan yang berakar pada tauhid dan akhlak.

Sebanyak tiga Nota Kesepahaman dan sepuluh Perjanjian Kerjasama ditandatangani yang melibatkan Perguruan Attaqwa, Ma’had Aly, dan Institut Attaqwa KH Noer Alie. Kerja sama ini merupakan penguatan hubungan yang telah terjalin sejak 2022 dan mencakup tiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pemberian beasiswa, pertukaran akademik, riset bersama, hingga penguatan kapasitas guru dan pelatihan berkelanjutan.

Sebanyak tiga Nota Kesepahaman dan sepuluh Perjanjian Kerjasama ditandatangani. Pihak yang terlibat meliputi Perguruan Attaqwa, Ma’had Aly, dan Institut Attaqwa KH Noer Alie. Kerja sama ini memperkuat hubungan yang telah terjalin sejak 2022 dan mencakup tiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi, mulai dari pemberian beasiswa, pertukaran akademik, riset bersama, hingga penguatan kapasitas guru dan pelatihan berkelanjutan.

Dalam tausiah kebangsaan, Prof Ma’mun Murod menegaskan pentingnya belajar dari pengalaman Muhammadiyah, yang memiliki sistem pendidikan terintegrasi dan kokoh secara kelembagaan. Pandangan ini sejalan dengan kondisi Attaqwa, yang saat ini mengelola 172 satuan pendidikan, enam pondok pesantren, dan dua perguruan tinggi.

“Keterkaitan historis melalui KH Noer Alie menjadi landasan kuat bahwa amal usaha pendidikan adalah milik umat,” ujarnya di Gedung Aula Serbaguna KH Noer Alie, Ujungharapan, Bekasi, (9/4).

Sementara itu, Pimpinan Perguruan Attaqwa, KH Irfan Mas’ud, menekankan bahwa seluruh kesepakatan harus ditindaklanjuti dalam program nyata yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membimbing, membentuk, dan mengabdi. Tujuannya jelas, dari Attaqwa untuk umat, dari pendidikan untuk peradaban,” tandasnya. (oke)