Berita Bekasi Nomor Satu

Pedagang Tahu Meninggal Usai Ditabrak Mobil MBG, Ketua RW Sebut Tulang Punggung Keluarga

Keluarga dan tetangga berada di rumah duka (41), pedagang tahu goreng krispy yang meninggal dunia usai ditabrak mobil operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis di Jalan Pulau Kalimantan Raya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (12/5). FOTO: ZAKKY MUBAROK/RADAR BEKASI 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Duka mendalam menyelimuti keluarga Sanoeri (41), pedagang tahu goreng krispy yang meninggal dunia usai ditabrak mobil operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis di Jalan Pulau Kalimantan Raya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (12/5). Korban diketahui merupakan tulang punggung keluarga yang memiliki anak balita.

Ketua RW 002 Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Sri Suryani (56), mengungkapkan sehari-hari Sanoeri berjualan tahu goreng di lokasi kejadian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia mengatakan bahwa akibat dampak dari insiden itu korban harus meninggalkan seorang istri dan satu orang anaknya yang berusia empat tahun.

“Korban masih punya anak usia empat tahun. Dia tulang punggung keluarga,” ujar Sri saat ditemui di rumah duka, Selasa (12/5).

Sri menuturkan, insiden tragis itu terjadi ketika korban sedang menggoreng dagangannya di gerobak. Tiba-tiba mobil Daihatsu Grandmax menabrak area tempat korban berjualan.

Korban sempat dievakuasi ke RS Siloam Sentosa untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, luka berat yang dideritanya membuat nyawa Sanoeri tak dapat diselamatkan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Sanoeri dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul.

“Korban ini baik, enggak neko-neko. Orangnya sopan. Setiap ketemu orang yang dikenal pasti dia menyapa,” ujar Sri.

Sri menambahkan, almarhum tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah duka yang berada di wilayah RT 007 RW 002 Kelurahan Aren Jaya.

Sebelum menetap bersama orang tuanya, korban diketahui sempat tinggal di rumah kontrakan. Namun karena kedua orang tuanya hanya tinggal berdua, korban kemudian diminta kembali tinggal serumah.

“Tadinya dia ngontrak. Karena di sini ibu sama bapaknya cuma berdua, terus diajak tinggal bareng di rumah sini,” kata Sri. (zak)