RADARBEKASI.ID, BEKASI – Santunan Rp50 juta yang dijanjikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM kepada keluarga korban meninggal dalam kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur belum menyentuh keluarga Ida Nuraida (48). Ida merupakan satu dari 16 korban meninggal dalam kecelakaan pada 27 April 2026 itu.
Suami korban, Surya Miharja (49), mengatakan hingga kini belum ada perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang datang untuk memberikan santunan tersebut.
“Sampai sekarang belum ada realisasi (kami belum terima,red) dari pihak pemerintah provinsi,” ujar Surya, Kamis (28/5).
Ia mengaku mengetahui janji santunan itu dari media sosial. Dalam informasi yang diterimanya, korban luka dijanjikan santunan Rp10 juta, sementara keluarga korban meninggal Rp50 juta.
Sejauh ini, bantuan yang telah diterima keluarga berasal dari Jasa Raharja, BPJS Ketenagakerjaan, KAI, serta perusahaan transportasi Green SM. Bantuan itu diterima di kediamannya di Perumahan Mustika Wanasari beberapa hari setelah kejadian.
“Kalau yang sudah diterima (bantuan) itu dari Jasa Raharja, BPJS, memang istri masuk ke anggota BPJS, terus KAI, lalu dari pihak taksi Green SM,” katanya.
Surya menyebut selama tiga hari pascakecelakaan, keluarga berada di Pandeglang, Banten, untuk proses pemakaman. Sementara warga dan pengurus lingkungan perumahan membantu menerima tamu serta mengurus administrasi.
Camat dan lurah setempat, kata dia, sempat datang melayat. Namun tak ada pembahasan terkait santunan yang dijanjikan gubernur.
Bagi Surya, realisasi janji tersebut penting untuk masa depan tiga anaknya. Selama 25 tahun, almarhumah menjadi penopang utama ekonomi keluarga sebagai perawat di RS Islam Cempaka Putih.
Sementara Surya bekerja sebagai tenaga lepas pengajar ekstrakurikuler.
“Kalau penghasilan saya memang jauh lagi dengan almarhum istri saya,” ucap Surya.
Kini, Surya harus membiayai pendidikan anak sulungnya yang kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), anak kedua yang baru lulus SMP di Cibitung, serta anak bungsu yang masih duduk di kelas 3 SD.Ia berharap janji pemerintah provinsi tersebut dapat segera direalisasikan secara adil tanpa tebang pilih.
Sebelum peristiwa itu, Surya menuturkan, sang istri sempat beraktivitas seperti biasa. Pada pagi hari ia pulang bekerja, lalu kembali berangkat pada sore hari karena harus bimbingan skripsi kuliah S1.
Dalam perjalanan pulang menggunakan KRL, Ida sempat menghubungi keluarga saat kereta tiba di Stasiun Klender. Surya kemudian bersiap menjemput di Stasiun Telaga Murni. Namun hingga malam, korban tak kunjung tiba dan ponselnya tidak lagi bisa dihubungi.
Surya kemudian menuju lokasi kejadian setelah mendapat informasi awal. Di sana, ia terkejut melihat banyaknya ambulans di sekitar area stasiun. Ia juga sempat mencari informasi ke pusat layanan Stasiun Bekasi Timur hingga ke sejumlah rumah sakit, namun tidak membuahkan hasil. Ia pun menunggu proses evakuasi hingga pagi hari.
“Akhirnya, sampai subuh, waktu itu gerbong terakhir dievakuasi kan. Kalau gerbong terakhir, saya pikir udah 100 persen nggak ada yang selamat,” kata Surya.
Sang istri akhirnya teridentifikasi sebagai korban kecelakaan di RS Polri Kramat Jati. (ris)











