Berita Bekasi Nomor Satu

Menembus Terowongan Mina

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Lautan manusia kembali bergerak setelah rangkaian wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah usai. Pada 10 Zulhijah, saya bersama jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia melanjutkan perjalanan menuju Jamarat untuk melaksanakan lontar jumrah. Di antara perjalanan itu, ada satu jalur yang selalu menjadi bagian penting dari prosesi haji, yakni Terowongan Mina.

Pagi itu langkah demi langkah membawa saya memasuki mulut terowongan yang membelah perbukitan batu Mina. Dari kejauhan, arus manusia tampak seperti sungai raksasa yang tidak pernah berhenti mengalir. Putihnya kain ihram berpadu dengan beragam warna pakaian jemaah dari berbagai negara, menciptakan pemandangan yang begitu memukau. Bahasa yang terdengar pun bermacam-macam, mulai dari Arab, Turki, Urdu, Inggris, hingga bahasa Indonesia. Namun tujuan mereka sama, menuju Jamarat untuk melaksanakan salah satu rangkaian penting ibadah haji.

Untuk menuju Jamarat, saya harus melewati salah satu dari empat terowongan yang tersedia. Dua jalur digunakan untuk arus keberangkatan menuju lokasi lontar jumrah, sementara dua jalur lainnya menjadi jalur kepulangan menuju kawasan tenda di Mina. Pemisahan arus ini membuat jutaan jemaah dapat bergerak lebih tertib dan mengurangi risiko penumpukan massa.

Begitu memasuki terowongan, hawa panas gurun yang menyengat perlahan berkurang. Di langit-langit lorong raksasa itu tergantung delapan kipas pendingin berukuran besar yang terus berputar tanpa henti. Hembusan anginnya terasa menyejukkan di tengah suhu Arab Saudi yang pada siang hari bisa menembus lebih dari 46 derajat Celsius.

Terowongan Al-Muaisim, nama resmi terowongan ini, memang menjadi urat nadi pergerakan jemaah haji di Mina. Jalur pejalan kaki yang menghubungkan kawasan tenda dengan kompleks Jamarat tersebut memiliki panjang sekitar 600 meter. Terowongan ini menjadi bagian dari sistem transportasi pejalan kaki modern yang dirancang untuk mengalirkan ribuan orang setiap menit secara aman dan teratur.

Fasilitas di dalamnya pun sangat lengkap. Selain dilengkapi kipas angin raksasa, terdapat sistem pendingin udara dan ventilasi modern yang menjaga sirkulasi udara tetap nyaman meskipun dipadati jemaah. Pencahayaan terang dipasang sepanjang lorong sehingga suasana di dalam terowongan tetap jelas terlihat siang maupun malam. Jalur evakuasi darurat juga tersedia di berbagai titik sebagai antisipasi jika terjadi keadaan darurat.

Di beberapa bagian terowongan terdapat fasilitas kesehatan dan pos medis. Petugas kesehatan tampak siaga membantu jemaah yang mengalami kelelahan, dehidrasi, atau gangguan kesehatan lainnya. Sementara itu, puluhan kamera CCTV terpasang di berbagai sudut lorong untuk memantau arus pergerakan jemaah secara real time. Melalui pengeras suara, petugas terus memberikan informasi dan arahan agar jemaah tetap berjalan sesuai jalur yang telah ditentukan.

Salah satu fasilitas yang paling menarik perhatian saya adalah keberadaan eskalator datar atau travelator. Jika di pusat perbelanjaan biasanya eskalator digunakan untuk naik dan turun lantai, di kawasan Terowongan Mina justru digunakan sebagai jalur berjalan datar untuk mempercepat mobilitas jemaah. Jumlahnya tidak sedikit. Tercatat ada sekitar 74 unit eskalator datar yang tersebar di kawasan terowongan Mina dan jalur menuju Jamarat.

Ketika saya berdiri di atas travelator tersebut, arus manusia seolah bergerak lebih cepat. Namun suasana tetap tertib. Tidak ada yang saling mendahului secara berlebihan. Semua berjalan mengikuti ritme yang sama menuju tujuan yang sama.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat petugas kebersihan berdiri hampir setiap 20 meter. Mereka membawa kantong plastik besar dan terus mengingatkan jemaah untuk membuang sampah pada tempatnya. Berkat kerja mereka, kondisi terowongan tetap bersih meski dilalui jutaan orang.

Di sisi lain, petugas kepolisian Arab Saudi dan askar haji berjaga di hampir setiap persimpangan. Sesekali terdengar suara pengeras yang mengingatkan jemaah agar tidak berhenti terlalu lama dan tetap menjaga kelancaran arus pejalan kaki.

Meski demikian, perjalanan tetap bukan perkara mudah. Tidak sedikit jemaah, terutama para lansia, yang tampak kelelahan. Sebagian memilih duduk sejenak di tepi lorong sambil mengatur napas. Ada yang meneguk air minum dari botol yang dibawanya. Ada pula yang terus melangkah perlahan sambil berpegangan pada pendampingnya.

Saya melihat seorang lelaki tua berjalan tertatih. Wajahnya dipenuhi peluh, tetapi bibirnya tak henti melantunkan zikir. Di dekatnya, seorang perempuan lanjut usia menggenggam tasbih sambil sesekali menengadah berdoa. Pemandangan seperti itu berulang kali saya temui sepanjang perjalanan.

“Capek memang, tapi ini perjalanan yang sudah lama kami tunggu,” ujar seorang jemaah asal Indonesia yang berjalan di samping saya.

Di tengah kepadatan manusia yang luar biasa, suasana spiritual justru terasa begitu kuat. Banyak jemaah mengisi perjalanan dengan berzikir, membaca talbiyah, atau berdoa dalam hati. Sebagian tampak menitikkan air mata haru. Di lorong yang dipenuhi jutaan langkah itu, setiap orang seakan membawa cerita, harapan, dan doa masing-masing kepada Allah.

Bagi sebagian orang, Terowongan Mina mungkin hanya sebuah proyek infrastruktur modern yang megah. Namun bagi saya, lorong panjang itu menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar jalan penghubung antara Mina dan Jamarat, melainkan simbol perjalanan spiritual seorang hamba menuju Tuhannya.

Langkah terasa berat karena lelah, tetapi hati justru terasa ringan. Di tengah lautan manusia yang bergerak bersama menuju tempat lontar jumrah, saya merasakan satu pelajaran penting: perjalanan menuju Allah memang tidak selalu mudah. Kadang melelahkan, membutuhkan kesabaran, dan penuh perjuangan.

Namun seperti terowongan ini yang memiliki ujung terang di depannya, setiap langkah yang ditempuh dengan ikhlas akan selalu membawa harapan menuju cahaya yang lebih baik. (*)