RADARBEKASI.ID, BEKASI – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, lorong permukiman di Kampung Peundeuy Timur (Pentim), Desa Karangsatu, Kecamatan Karangbahagia, berubah menjadi “Gang Merah Putih”.
Kain Merah Putih sepanjang sekitar 500 meter membentang menaungi permukiman warga Kampung Pentim RT 01, 02, dan 03 RW 01 dari terik matahari.
Di balik bentangan kain tersebut, tersimpan cerita tentang kuatnya tali silaturahmi, semangat gotong royong, dan tradisi swadaya masyarakat yang masih terjaga di Kabupaten Bekasi. Aksi membentangkan kain raksasa ini bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam. Kegiatan ini merupakan tradisi tahunan yang terus dijaga warga dengan skala yang semakin besar setiap tahunnya.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Berlin, menceritakan bahwa ide ini bermula dari skala kecil. Saat pertama kali digelar pada Agustus 2025, panjang kain merah putih yang dibentangkan warga baru mencapai sekitar 40 meter.
“Pertama cuma 40 meter dari tahun pertama. Alhamdulillah tahun sekarang sudah mencapai 500 meter,” ujar Berlin, Minggu (2/8).
Berbekal pengalaman tahun lalu, warga sepakat melipatgandakan target hingga mencapai sekitar 500 meter. Namun, menggalang kekuatan dan mengumpulkan sumber daya secara mandiri bukan perkara mudah.

Berlin mengakui, pada tahap awal perencanaan muncul keraguan karena target tersebut dinilai terlalu besar untuk ukuran lingkungan RT dan RW. Pertanyaan pun bermunculan, mulai dari daya tahan konstruksi, waktu pengerjaan, hingga ketersediaan anggaran.
“Tantangannya gitu. Warga saya imbau awalnya, ‘Ah, mana mungkin tercapai segini panjangnya. Kudu berapa bulan pembuatannya.’ Saya support terus setiap hari, alhamdulillah masyarakat support semua,” katanya.
Biaya pembuatan bentangan kain Merah Putih raksasa ini mencapai sekitar Rp25 juta. Tanpa bantuan perusahaan maupun sponsor, seluruh pendanaan berasal dari swadaya warga dan para pemuda yang tergabung dalam kelompok Gembul Jaya.
“Biaya sekitar Rp25 juta, alhamdulillah dari swadaya masyarakat,” kata Berlin.
Pengerjaan fisik dimulai sejak 1 Juni dan berlangsung maraton hingga awal Agustus. Selama hampir dua bulan, aktivitas warga Kampung Pentim berubah menjadi posko gotong royong. Sekitar 150 warga dari tiga RT terlibat secara bergantian dalam proses pengerjaan.
Logistik yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Sebanyak 20 rol kain Merah Putih dijahit dan dirangkai menjadi satu bentangan utuh. Sementara untuk menopang konstruksi, dibutuhkan 180 batang bambu, terdiri atas 120 batang sebagai tiang utama dan 60 batang sebagai palang penyangga.
“Semua masyarakat turun. Ada yang nebang bambu, ngebor, terus ada yang ngediriin. Ini sekitar 150-an warga. Dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan (pengerjaan,red),” katanya.
Sementara itu, seorang warga Kampung Pentim, Suef, yang ikut terlibat sejak awal pengerjaan, mengaku bangga bisa terlibat dari kegiatan tersebut. Menurutnya, meski proses pengerjaan selama hampir dua bulan cukup menguras tenaga, semangat kebersamaan membuat rasa lelah tak terasa.
Dikatakannya, kerja keras bersama selama berbulan-bulan akhirnya rampung pada awal Agustus. Bentangan Merah Putih sepanjang 500 meter itu kini tak hanya menjadi simbol nasionalisme, tetapi juga menjadi daya tarik baru di Kampung Pentim.
“Kalau siang ikonnya berkilauannya bendera Merah Putih yang terbentang 500 meter. Nah, di malam harinya ada kelipan lampu. Nanti juga masyarakat akan mengadakan bazar,” papar Suef. (ris)









