Berita Bekasi Nomor Satu

Pemadaman Listrik Rugikan Bisnis, Pelaku Usaha di Cikarang Desak PLN Berbenah

TERDAMPAK PEMADAMAN LISTRIK : Pengunjung berada di salahsatu usaha kuliner dan hiburan di kawasan Jababeka, Cikarang Utara, Senin (22/7). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemadaman listrik berulang di wilayah Cikarang Utara dikeluhkan pelaku usaha kuliner dan hiburan karena merugikan bisnis mereka. Pelaku usaha mendesak PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Lemahabang untuk berbenah, khususnya dalam hal komunikasi dan pelayanan kepada pelanggan.

Pelaku usaha kuliner dan hiburan di Jalan Dokter Satrio, Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Indra Senjayani, mengaku kecewa dengan manajemen PLN ULP Lemahabang yang dinilai mengabaikan hak-hak pelanggan, terutama pelaku usaha yang sangat bergantung pada kepastian pasokan listrik.

Ia menyebut tempat usahanya mengalami dua kali pemadaman listrik dalam waktu berdekatan. Pemadaman pertama terjadi pada Kamis (18/6) pukul 11.00–14.00 WIB. Indra mengatakan pemadaman tersebut mengganggu seluruh aktivitas operasional restoran.

“Dampak (pemadaman,red) Kamis aktivitas operasional tidak jalan jadi tertunda. Gak bisa ngepel, cleaning area, kitchen persiapan masak, coffee shop. Udah ada pengunjung, tapi pulang lagi karena mati lampu,” ujar Indra kepada Radar Bekasi, Senin (22/6).

Puncak kekecewaan Indra terjadi pada pemadaman Jumat (19/6) malam di jam sibuk. Listrik padam sejak pukul 17.30 hingga 21.30 WIB. Saat itu, restoran tengah dipadati sekitar 50 pengunjung yang akan menyaksikan acara hiburan.

Akibat pemadaman tersebut, suasana mendadak gelap dan panas. Para pengunjung serta bintang tamu band terpaksa berpindah ke area parkir untuk menunggu listrik kembali menyala.

“Pengunjung ada yang pulang, ada yang nunggu. Pengunjung dan bintang tamu pada ke area parkir karena di dalam gelap dan gerah,” tambahnya.

Acara yang semula dijadwalkan pukul 20.00 WIB baru bisa dimulai sekitar pukul 22.00 WIB, meski restoran hanya beroperasi hingga pukul 01.00 WIB dini hari. Kondisi ini membuat pendapatan turun signifikan dan menimbulkan kerugian.

“Kerugian materil, harusnya Jumat dapat Rp18 juta, jadi dapat Rp5 juta, jadi saya nombok untuk pengeluaran pembayaran bintang tamu band karena bayarannya harus full. Terus pengunjung juga jadi berkurang karena menyala udah jam 22.00 WIB, sedangkan tutup jam 01.00 WIB,” terang Indra.

Secara keseluruhan, Indra menaksir kerugian akibat dua kali pemadaman tersebut mencapai sekitar Rp20 juta. Ia juga mengkritik kurangnya sosialisasi dari PLN ULP Lemahabang terkait pemadaman listrik.

Menurutnya, tanpa adanya pemberitahuan tertulis maupun digital sebelumnya membuat pelaku usaha tidak sempat menyiapkan langkah antisipasi seperti penggunaan genset skala besar.

Indra mengaku sempat melaporkan kejadian itu ke Call Center PLN 123 dengan nomor pengaduan G5326061921696. Namun, pihak PLN disebut menyatakan bahwa lokasi tersebut tidak termasuk dalam area pemadaman.

“Ternyata PLN tidak ada komunikasi ke kawasan. Dulu kalau mau padam listrik ada sosialisasinya, tapi sekarang tidak ada. Kata PLN wilayah restoran kita ini tidak masuk ke area pemadaman, jadi saya merasa dirugikan,” tuturnya.

Ia pun mendesak agar PLN ULP Lemahabang kembali membenahi aspek komunikasi publik serta memperlakukan para pelaku usaha sebagai mitra kerja yang saling menguntungkan. Indra mengklaim bahwa catatan pembayaran listrik restorannya dalam beberapa bulan terakhir selalu normal dan tidak pernah menunggak.

Sementara, pedagang bakso di kawasan Situ Rawa Binong, Desa Hegarmukti, Robi, mengatakan kondisi gelap akibat listrik padam membuat pelanggan enggan datang sehingga dagangannya sepi pembeli.

“Kami jualan jadi sepi. Karena listrik padam, usaha jadi tidak laku karena gelap,” ujarnya.

Robi menuturkan, sebagian pedagang terpaksa menutup lapak lebih awal karena pemadaman listrik berlangsung sejak sore hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

“Kalau dibilang rugi ya rugi, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah jadi nasib kami sebagai pedagang kecil yang merasakan dampaknya,” keluhnya.

Ia menambahkan, sejumlah pedagang lain di sekitar Situ Rawa Binong juga mengalami kondisi serupa akibat minimnya penerangan.

Keluhan serupa disampaikan Sandi, pelaku usaha minuman di lokasi yang sama. Ia mengaku kesulitan berjualan karena sebagian besar peralatan bergantung pada listrik.

“Saya jualan es pakai kulkas dan blender. Kalau listrik mati, tidak bisa melayani pembeli. Es juga jadi mencair karena kulkas mati,” katanya.

Sementara itu, pihak PLN UP3 Bekasi belum memberikan tanggapan saat dimintai keterangan terkait hal tersebut. Saat didatangi, pejabat terkait tidak berada di kantor menurut petugas keamanan. (ris/and)