RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kota Madinah tidak hanya menjadi tempat beristirahatnya Rasulullah SAW, tetapi juga menyimpan jejak panjang sejarah peradaban Islam. Di antara bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini, terdapat sebuah masjid kecil yang letaknya sangat dekat dengan Masjid Nabawi, yakni Masjid Abu Bakar.
Pagi kemarin, setelah sholat subuh di Masjid Nabawi, saya berjalan menyusuri kawasan yang sarat dengan sejarah. Hanya sekitar 335 meter dari masjid kebanggaan umat Islam itu, berdirilah Masjid Abu Bakar dengan arsitekturnya yang khas dan memikat perhatian para peziarah.
Dari kejauhan, bangunan itu tampak sederhana. Namun semakin mendekat, semakin terasa bahwa tempat ini menyimpan kisah besar tentang perjuangan generasi awal Islam. Nama Abu Bakar yang melekat pada masjid ini seakan langsung membawa ingatan kepada sosok sahabat terbaik Rasulullah SAW, seorang khalifah pertama yang dikenal dengan keteguhan iman dan pengorbanannya.
Terdapat dua riwayat yang menjelaskan asal-usul masjid tersebut. Riwayat pertama menyebutkan bahwa lokasi ini dahulu merupakan musala yang digunakan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dari sinilah kemudian nama Masjid Abu Bakar berasal.
Sementara riwayat lainnya menyebutkan bahwa di tempat ini Rasulullah SAW pernah memimpin salat Id bersama kaum muslimin, termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berada di antara para makmum. Dua riwayat tersebut semakin menegaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi umat Islam.
Masjid Abu Bakar dibangun pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab sekitar tahun 50 Hijriah. Seiring perjalanan waktu, bangunan ini mengalami beberapa kali renovasi. Pembaruan terbesar dilakukan pada masa Sultan Mahmud II dari Kesultanan Utsmaniyah sekitar tahun 1240 hingga 1250 Hijriah. Kemudian pada masa Raja Fahd dilakukan sejumlah perbaikan tambahan tanpa mengubah bentuk arsitektur aslinya.
Keindahan masjid ini terlihat dari perpaduan warna dan material bangunannya. Bentuknya berupa bangunan segi empat dengan panjang sisi sekitar sembilan meter. Dinding luar tersusun dari batu basal hitam yang kokoh, sedangkan bagian dalamnya didominasi warna putih yang memberikan kesan bersih dan tenang.
Sebuah kubah putih berdiri anggun di atas bangunan utama. Di sampingnya menjulang menara adzan yang juga dibangun menggunakan batu basal. Pada puncak menara terdapat ornamen berbentuk kerucut dari tembaga yang dihiasi simbol bulan sabit. Perpaduan warna hitam dan putih menciptakan kesan elegan sekaligus berwibawa.
Saat sore mulai tiba, cahaya lampu berwarna kuning menyelimuti bangunan bersejarah itu. Suasananya terasa hangat dan menenangkan. Tidak heran jika kawasan ini menjadi salah satu titik favorit para jemaah haji maupun umrah untuk berkunjung dan mengabadikan momen.
Meski demikian, saat ini Masjid Abu Bakar tidak difungsikan sebagai tempat ibadah umum. Para pengunjung tidak dapat masuk secara bebas untuk menunaikan salat di dalamnya. Sebagian besar jemaah hanya duduk di pelataran masjid, memberi makan burung-burung yang beterbangan, berbincang bersama keluarga, atau sekadar berfoto dengan latar bangunan bersejarah tersebut.
Saya pun melakukan hal yang sama. Saat berkesempatan mengunjungi lokasi itu, saya menunaikan salat duha dan menikmati suasana sekitar. Pengamanan yang cukup ketat membuat area masjid tetap terjaga dengan baik.
Namun yang paling membekas bukanlah bangunannya, melainkan perasaan yang muncul saat berada di sana. Di hadapan masjid kecil itu, imajinasi saya seakan melayang ke masa lalu. Saya membayangkan bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat berjuang mempertahankan Islam di tengah berbagai ujian dan tantangan.
Masjid Abu Bakar mungkin tidak lagi ramai digunakan untuk beribadah. Akan tetapi, setiap batu dan sudut bangunannya seakan terus bercerita tentang keteguhan iman, pengorbanan, dan perjuangan para sahabat yang menjadi fondasi tegaknya peradaban Islam hingga hari ini.(*)











