RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di Al Azhar Insan Cendekia Jatibening (AICJ), Jatibening, Kota Bekasi, berlangsung berbeda, Senin (13/7) pagi
Pada hari pertama masuk sekolah, AICJ menghadirkan program Professor Goes to School sebagai upaya menumbuhkan budaya akademik sekaligus memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kepada peserta didik baru.
Program tersebut menjadi pembuka tahun ajaran baru yang diikuti siswa baru jenjang SMP dan SMA bersama orang tua.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan materi langsung dari guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai tantangan pendidikan di era AI, pentingnya penguasaan sains, hingga pemanfaatan teknologi yang tetap berlandaskan nilai-nilai karakter dan keislaman.
Chairperson of the Board of Trustees Yayasan Darul Muqomah Sridjati, Mustafa Kamil Thahir, mengatakan Professor Goes to School dirancang agar peserta didik memiliki teladan akademik sejak hari pertama bersekolah.
“Salah satu program utama kami adalah Professor Goes to School. Tujuannya memberikan pembelajaran kepada anak-anak tentang pentingnya belajar. Kami ingin para profesor menjadi panutan bagi mereka agar rajin belajar,” ujarnya.
Menurut Mustafa, konsep tersebut menjadi bagian dari pembukaan tahun ajaran baru dengan pendekatan yang berbeda dibanding sekolah lain. Bahkan, ia menilai program serupa masih sangat jarang diterapkan dalam kegiatan MPLS.
“Mindset kami memang berbeda dengan yang lain. Professor Goes to School ini saya kira mungkin pertama kali di Bekasi, bahkan mungkin di Jawa Barat. Ini memang ide yang kami usulkan,” katanya.
Menurut Mustafa, program tersebut mendapat respons positif dari siswa maupun orang tua yang mengikuti pembukaan tahun ajaran baru.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, AICJ menerima sekitar 60 peserta didik baru jenjang SMP, sehingga total siswa kini mencapai sekitar 180 orang.
Selain menumbuhkan budaya akademik, sekolah juga mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari proses pembelajaran. Namun, AI ditegaskan hanya sebagai alat bantu, bukan pengganti guru.
“AI sudah menjadi bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan kita. Yang kami arahkan kepada mereka adalah bahwa AI hanya sebuah tools atau alat bantu yang memudahkan proses belajar, bukan sesuatu yang membuat kita bergantung,” jelasnya.
Sebagai implementasi pemanfaatan teknologi, sekolah juga akan mengembangkan pembelajaran coding dan robotik agar siswa mampu menerapkan AI dalam berbagai bidang secara nyata.
Menurut Mustafa, dunia pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Kendati demikian, peran guru tetap menjadi kunci dalam membentuk karakter peserta didik.
“Dunia sudah berubah sangat cepat. Karena itu kita tidak boleh tertinggal. Tetapi AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan menggantikan guru. Guru tetap memiliki peran utama dalam mendidik dan membentuk karakter siswa,” tegasnya.
Ia menambahkan, program tersebut akan dijadikan agenda rutin sekolah sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan siswa terhadap dunia akademik.
“Ya, akan menjadi program rutin. Saya ingin anak-anak mencintai dunia akademik. Itu yang paling penting,” ucapnya.
Mustafa menilai kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh budaya belajar dan penguasaan ilmu pengetahuan. Karena itu, sekolah ingin menanamkan kecintaan terhadap sains sejak dini agar peserta didik siap menghadapi persaingan global.
“Saya melihat negara seperti China bisa berkembang karena fokus pada sains. Itulah yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak, yaitu semangat belajar, mencintai sains, dan berkontribusi bagi negara,” pungkasnya. (rez)











