Berita Bekasi Nomor Satu

Koperasi Merah Putih Cikiwul Catat Omzet Rp50 Juta per Bulan, Modal Awal Iuran dari Anggota

Ketua KKMP Cikiwul, Muhammad Jayadi, menata barang di etalase. FOTO: SURYA BAGUS/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, mencatat nilai transaksi mencapai Rp400 juta sejak mulai beroperasi pada 30 Oktober 2025. Dalam waktu kurang dari setahun, koperasi ini mampu membukukan rata-rata omzet Rp50 juta per bulan. Bahkan, omzet sempat menyentuh Rp90 juta pada Januari 2026, sebelum melambat setelah momentum Lebaran.

Berlokasi di Jalan Siliwangi Narogong, KKMP Cikiwul menjual berbagai kebutuhan pokok, mulai dari sembako, makanan ringan, hingga kebutuhan rumah tangga dengan konsep minimarket.

Ketua KKMP Cikiwul, Muhammad Jayadi, menegaskan modal awal koperasi sepenuhnya berasal dari anggota. Tidak ada bantuan modal dari pemerintah saat koperasi mulai berjalan.

“Benar-benar iuran dari anggota, kita simpanan awal Rp100 ribu, walaupun dari 1.500 ada sekitar 500 yang belum membayar tapi kita mengerti itu. Lalu bulanannya kita kecilkan Rp10 ribu, ini alhamdulillah sudah dapat Rp200 jutaan,” ujar Jayadi, Selasa (14/7).

Kepercayaan masyarakat terhadap koperasi pun terus tumbuh. Dari sekitar 200 anggota saat awal berdiri, kini jumlahnya mencapai sekitar 1.500 orang yang tersebar di seluruh RT di Kelurahan Cikiwul.

Pertumbuhan itu menunjukkan koperasi dapat berkembang ketika masyarakat merasa memiliki dan ikut terlibat. Denyut usaha koperasi tidak hanya digerakkan oleh modal, tetapi juga partisipasi warga yang menjadi bagian di dalamnya.

BACA JUGA: Lahan Terbatas, Pemkot Bekasi Lirik Fasos-Fasum untuk Bangun Koperasi Merah Putih

Model bisnis yang dikembangkan KKMP Cikiwul pun tidak sekadar mengejar keuntungan. Pengurus menggandeng warung-warung kecil melalui sistem titip jual. Pemilik warung dapat mengambil barang terlebih dahulu dan membayar setelah produk terjual.

Selain melayani anggota, koperasi juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pemasok, termasuk Perum Bulog, untuk menjaga ketersediaan kebutuhan pokok. Produk MinyaKita menjadi salah satu barang yang paling banyak dicari masyarakat.

Meski demikian, Jayadi menyebut tantangan terbesar koperasi saat ini bukan lagi persoalan modal, melainkan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya berkoperasi.

Menurutnya, koperasi tidak akan berkembang apabila anggota hanya tercatat secara administratif, tanpa aktif bertransaksi dan memiliki rasa memiliki terhadap lembaga tersebut.

“Ini tantangan paling berat buat pengurus, kita harus menyadarkan cara berkoperasi, ini tidak cukup satu dua bulan, tidak cukup satu tahun, pendekatannya harus kontinyu. Kalau prediksi saya lima tahun baru mereka tertarik, baru benar mereka ada rasa memiliki, kemudian bisa maju,” katanya. (sur)