RADARBEKASI.ID, BEKASI – Air kali di Kampung Pintu Air, Kelurahan Harapan Mulya, Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi, menghitam dan mengeluarkan bau menyengat Kondisi serupa juga terjadi di Kali Baru, Jalan Pangeran Jayakarta, yang terhubung dengan aliran sungai tersebut.
Warga sekitar menduga perubahan warna air dan bau menyengat itu dipicu pencemaran. Kondisi tersebut, menurut mereka, telah berlangsung sekitar sepekan.
“Sudah hampir seminggu ini, tapi dari mana asalnya saya tidak tau, apakah dari limbah atau apa kan kita tidak tahu,” kata warga sekitar, Sahrul (52), Selasa (4/8/2026).
Kondisi tersebut mengganggu kenyamanan warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar sungai. Mereka juga khawatir anak-anak yang kerap bermain atau mandi di kali berisiko terserang penyakit kulit maupun gangguan kesehatan lainnya.
Menurut Sahrul, kondisi sungai saat ini lebih parah dibandingkan musim kemarau tahun lalu.
“Tidak (kemarau tahun lalu tidak sampai seperti saat ini), kayanya tahun-tahun ini aja saya perhatiin,” ucapnya.
Ia dan warga sekitar berharap pemerintah segera turun menangani kondisi ini agar aliran sungai kembali bersih.
BACA JUGA: Pelanggan Tirta Bhagasasi Protes Air Mati, Kepala KCP Setia Asih: Terkendala Pasokan Air Baku
“Kalau bisa air itu harus bersih, jadi warga disini juga tidak kebauan. Kedua, warga yang pada mandi di kali kadang bocah kan takut kena gejala penyakit apa nanti kita nggak tau,” tambahnya.
Air menghitam juga nampak di aliran kali sepanjang jalan Rawatembaga. Aliran air di kali tersebut terhubung dengan Kali Bekasi. (sur)
Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengatakan pencemaran sungai diduga berasal dari limbah rumah tangga maupun aktivitas industri. Pemerintah Kota Bekasi kini memfokuskan penelusuran terhadap dugaan pencemaran dari sektor industri karena dinilai memiliki dampak yang lebih besar.
“Saya sudah meminta kepada LH untuk turun, masih adakah perusahaan-perusahaan yang berada di Kota Bekasi untuk mereka masih membuang limbah tanpa menggunakan IPAL,” katanya.
Jika sumber pencemaran telah teridentifikasi, Tri meminta Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi berkoordinasi dengan pemerintah daerah di wilayah sekitar.
“Kemudian koordinasi dengan wilayah sekitar, karena relatif kan yang lebih banyak industrinya berada tidak di Kota Bekasi,” ungkapnya.
Penelusuran sumber pencemaran sebelumnya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi bersama Komunitas Peduli Sungai Cileungsi dan Cikeas (KP2C) pada 22 Juli lalu. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai tindaklanjut temuan perubahan warna air menjadi hitam pekat di hulu Kali Bekasi atau Pertemuan Sungai Cileungsi dan Cikeas (P2C).
Saat itu, penyusuran sungai Cileungsi dilakukan hingga ke wilayah Kabupaten Bogor dan telah dilakukan pengambilan sampel. Indikasi pencemaran ditemukan di wilayah hulu, ditandai dengan adanya perubahan air sungai yang berwarna hitam. (sur)











