RADARBEKASI.ID, BEKASI – Makmur (62), anggota Satlinmas Kota Bekasi, belakangan ini hidup dalam kekhawatiran. Tidurnya tidak nyenyak, terlebih ketika hujan turun dengan derasnya. Keresahan pria sepuh ini rupanya bermuara pada kondisi rumahnya yang sudah tak layak huni. Seperti apa kondisinya?
Gang M. Usir, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Minggu (13/9/2026) siang. Di salah satu sudut gang, berdiri rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan.
Bagian atap rumah Makmur sudah rusak parah. Ruang tengah bahkan tak lagi sepenuhnya terlindungi dari langit. Saat hujan turun, air dapat langsung masuk ke dalam rumah.
Kondisi itu bukan baru terjadi. Makmur mengatakan rumah peninggalan mertuanya tersebut mulai mengalami kerusakan berat sekitar lima hingga tujuh tahun lalu.
Sejak saat itu, setiap hujan menjadi waktu yang membuatnya waswas.
“Saya kalau hujan nggak bisa tidur, sedangkan kalau malam aja anak istri saya tidur, saya nggak bisa tidur, ngawasin anak istri saya takut genteng pada roboh jatuh kena angin gitu ya,” kata Makmur saat ditemui di kediamannya, Minggu (13/9).
Makmur sebenarnya beberapa kali berniat memperbaiki bagian atap rumah. Namun, kondisi bangunan yang sudah rapuh justru membuatnya takut untuk naik dan memperbaikinya sendiri.
“Saya juga mau benerin genteng juga takut, takut roboh. Jadi saya dari pakai tangga-tangga lah pelan-pelan saya bilang roboh,” ujarnya.
Makmur bukan orang yang tidak bekerja. Sehari-hari, dia merupakan anggota Satlinmas di salah satu kelurahan di Kota Bekasi.
Namun, penghasilannya sekitar Rp1 juta per bulan. Uang tersebut sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Makmur memiliki enam anak. Dengan kondisi penghasilan tersebut, memperbaiki rumah secara mandiri menjadi pekerjaan yang sulit.
Belakangan, kondisi rumah Makmur ramai diperbincangkan setelah videonya beredar di media sosial. Video tersebut dibagikan salah seorang rekannya dengan harapan ada pihak yang tergerak membantu.
Makmur mengatakan, pihak kelurahan sebenarnya telah memberikan perhatian. Rumahnya direncanakan masuk program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) pada 2027.
Bantuan yang diperkirakan diterima sekitar Rp20 juta. Namun, menurut Makmur, nominal tersebut masih jauh dari kebutuhan untuk memperbaiki seluruh bagian rumah.
Dia memperkirakan biaya perbaikan mencapai sekitar Rp60 juta.
“Saya juga mau minta bantuan sama siapa lagi ya, kan. Saya takut hujan juga anak istri saya tidur di mana,” kata Makmur.
Pilihan untuk mengontrak rumah pun bukan perkara mudah. Dengan penghasilan sekitar Rp1 juta, biaya kontrakan yang diperkirakan Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per bulan akan membuat hampir seluruh penghasilannya habis.
“Kalau ngontrak kan tahu sendiri mahal. Kalau punya rumah tempat buat saung-saung berteduh kan walaupun jelek bisa enak,” ujarnya.
Karena itu, Makmur memilih bertahan. Rumah yang kondisinya nyaris ambruk itu tetap menjadi tempat berlindung keluarganya, meski rasa aman sudah lama hilang dari dalamnya.
“Buat nambahin biaya sendiri kagak mampu saya. Nggak bisa saya, sedangkan saya sendiri Linmas, gajiannya Rp1 juta per bulan. Ya buat makan sehari-hari lah gaji Linmas ya sebulan,” katanya.
Kini, Makmur hanya berharap ada bantuan tambahan agar rumah yang ditempatinya bersama keluarga dapat diperbaiki secara menyeluruh.
Sebab baginya, rumah itu bukan sekadar bangunan. Meski jauh dari layak, di sanalah keluarganya tetap bertahan dan pulang setiap hari.(rez)











