RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sekolah Islam Al Azhar Insan Cendekia Jatibening, Kota Bekasi, menggelar sosialisasi kurikulum berbasis AI dan Machine Learning (AIML) yang dipadukan dengan nilai-nilai Al-Qur’an kepada orangtua murid.
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada orangtua mengenai arah pendidikan sekolah yang mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan perkembangan sains, teknologi, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Salah seorang wali murid, Rahman, menilai pemilihan Al Azhar Insan Cendekia Jatibening didasarkan pada pertimbangan pendidikan Islam yang tetap memberikan ruang bagi perkembangan sains dan teknologi. Menurutnya, perpaduan tersebut penting untuk mendukung perkembangan anak, baik secara akademik maupun emosional.
“Pertama basic-nya adalah Islam. Sekolah Islam karena kita tahu dasar moral dan agama itu penting. Selain kombinasi keagamaan, mereka juga punya visi yang cukup bagus terkait dengan sains, teknologi, dan juga AI. Saya pikir ini cukup ideal untuk perkembangan anak secara kematangan emosional,” kata Rahman, Senin (10/8/2026).
Ia juga menilai materi kurikulum yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi memiliki keterkaitan dengan visi pendidikan yang ditawarkan sekolah.
Menurutnya, pendekatan tersebut berupaya menggabungkan pembelajaran keagamaan dengan pemanfaatan perangkat serta materi berbasis sains dan teknologi.
“Kurikulum sejalan dengan visi. Mereka coba mengimplementasikan tujuan sekolah dengan banyak mempelajari dari sisi keagamaan dan juga mulai dari tools dan materi pengajaran yang berbau teknologi atau sains,” ujarnya.
Ia berharap pendidikan di Al Azhar Insan Cendekia Jatibening tidak hanya menghasilkan peserta didik dengan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk kepribadian, kematangan emosional, kemampuan bersosialisasi, serta keterampilan di bidang sains dan teknologi.
“Punya kematangan kepribadian, kemudian kematangan emosional, punya kemampuan sosialisasi yang baik, dan juga spesifik skill untuk sains dan teknologi,” tutur Rahman.
Pandangan serupa disampaikan Popi, wali murid Yasmin dari kelas 7. Ia memilih Al Azhar Insan Cendekia Jatibening karena melihat kurikulum sekolah memiliki pendekatan yang dinilai berbeda dan lebih komprehensif dibandingkan sekolah lain yang diketahuinya.
“Karena mungkin kurikulumnya beda dari sekolah yang lain. Ada tambahannya komprehensif, terus sekarang zamannya lebih canggih dan lebih mengikuti teknologi. Anak saya memang senang lebih ke teknologi, jadi kita masukkan ke sini,” ungkap Popi.
Ia menyatakan aspek pendidikan agama juga menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah tersebut.
Popi menilai lingkungan sekolah, guru, serta pendekatan pendidikan yang diterapkan menjadi faktor yang membuat dirinya mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada Al Azhar Insan Cendekia Jatibening.
“Di samping itu agamanya juga bagus, gurunya baik, semuanya. Makanya kita sekolahkan ke sini. Begitu juga adiknya juga semua di sini sekarang. Karena insyaallah kami percaya di sini sekolahnya amanah, terus ramah, dan insyaallah anak-anak bisa jadi anak yang baik,” ujarnya.
Dalam sosialisasi kurikulum, Popi menangkap adanya pengenalan dan pendampingan terkait pemanfaatan AI bagi peserta didik.
Karena menurutnya, orangtua juga mendapatkan penjelasan mengenai penggunaan teknologi serta aspek pendampingan anak ketika berinteraksi dengan berbagai perangkat dan layanan berbasis AI.
“Kurikulumnya mengenai AI atau Artificial Intelligence untuk kemajuan anak. Kita dikasih tahu mengenai web dan segala macam. Misalkan di dalam nanti seperti ini, kalau di luar bisa di-lock seperti itu. Anak-anak juga nanti didampingi untuk AI-nya sendiri,” jelas Popi.
Ia berharap Al Azhar Insan Cendekia Jatibening dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang mampu membanggakan keluarga.
“Harapannya untuk Al IC, semoga menjadi sekolah ke depan yang lebih baik dari sekolah-sekolah yang lainnya. Anak-anak bisa jadi anak-anak yang membanggakan untuk orangtua dan insyaallah sukses selalu,” paparnya.
Sementara itu, Zahra, wali murid Langit dari kelas 7C, mengatakan kedekatan lokasi sekolah dengan tempat tinggal menjadi salah satu pertimbangan praktis dalam memilih Al Azhar Insan Cendekia Jatibening.
Selain itu, ia mempertimbangkan luas lahan sekolah dan konsep kurikulum yang dinilainya sesuai dengan karakter kehidupan anak pada era teknologi.
“Pertama alasan praktis, dekat sama rumah saya. Terus sejauh saya mencari tahu, saya ke beberapa sekolah, Insan Cendekia ini punya lahan luas, terus kurikulumnya kekinian. Pas buat anak-anak yang memang hidup di zaman penuh,” ujar Zahra.
Menurut Zahra, salah satu bagian yang menarik dari sosialisasi kurikulum ialah pendekatan pendidikan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar sekaligus menghubungkan pembelajaran dengan perkembangan teknologi.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi upaya untuk menjaga keseimbangan antara nilai agama dan kebutuhan generasi di era digital.
“Yang paling membuat saya tertarik itu sosialisasi kurikulumnya berdasarkan Al-Qur’an, tapi juga mengaitkan kehidupan dengan kemajuan teknologi saat ini. Jadi bagaimana mencetak, mudah-mudahan generasinya adalah generasi yang cinta Al-Qur’an, tapi tetap bisa berjalan bersama dengan kemajuan teknologi yang ada,” tuturnya.
Zahra berharap pendidikan yang diterima anaknya dapat membentuk pribadi yang taat kepada Allah sekaligus memiliki manfaat bagi lingkungan sosial.
Ia menilai pendidikan agama dan penguasaan kemampuan yang relevan dengan perkembangan zaman perlu berjalan secara beriringan.
“Harapannya tentu menjadi insan yang taat sama Allah, tapi juga bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Wali murid lainnya, Ima, juga memberikan penilaian positif terhadap sejumlah program yang disosialisasikan sekolah.
Ia melihat terdapat program yang menurutnya memiliki karakter berbeda dibandingkan sejumlah sekolah lain di Bekasi, khususnya program yang berkaitan dengan AI dan Machine Learning serta program sains.
“Karena saya lihat di beberapa program yang disosialisasikan menurut saya berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada di Bekasi khususnya. Terutama program yang AI ML dan ada satu lagi Artec, yang tentang sains, yang tidak ada saya lihat di sekolah lain,” ujar Ima.
Ima menilai materi kurikulum yang disampaikan memiliki sejumlah bagian yang sesuai dengan harapannya terhadap pendidikan anak, terutama dalam membangun dasar dan fondasi kemampuan peserta didik.
“Karena ada beberapa yang saya lihat sesuai dengan harapan saya. Contohnya untuk penguatan dasar atau fondasi buat anak-anak,” ucap Ima.
Ia berharap penerapan kurikulum di Al Azhar Insan Cendekia Jatibening dapat mendorong perkembangan peserta didik menjadi lebih baik sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Menurutnya, integrasi pendidikan Al-Qur’an dengan teknologi menjadi salah satu hal yang relevan bagi kebutuhan pendidikan anak saat ini.
“Harapan saya untuk ke depannya anak-anak bisa lebih baik dari sebelumnya dan memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an, karena salah satu program di sini yang menjadi unggulan adalah Al-Qur’an,” ungkap Ima.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap pemanfaatan AI dan teknologi dalam proses pendidikan selama penerapannya tetap diarahkan untuk mendukung perkembangan peserta didik. Bagi Ima, kemajuan teknologi dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran tanpa mengesampingkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Betul, saya setuju sekali,” tegasnya. (oke)









