Berita Bekasi Nomor Satu

Dinas SDABMBK Kabupaten Bekasi Dorong Digitalisasi Perencanaan

Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas SDABMBK Kabupaten Bekasi, Agung Mulya

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Bekasi mulai mendorong digitalisasi dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya air (SDA). Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pembangunan infrastruktur air di tengah ancaman banjir, kekeringan, serta kebutuhan air baku.

Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas SDABMBK Kabupaten Bekasi, Agung Mulya, mengatakan digitalisasi menjadi kebutuhan untuk menghasilkan perencanaan yang lebih cepat dan tepat.

Melalui konsep SDA 4.0, teknologi Revolusi Industri 4.0 seperti Internet of Things (IoT), Big Data, dan Cloud Computing mulai diarahkan untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan sumber daya air.

“Perencanaan infrastruktur SDA saat ini tidak bisa lagi manual. Kita butuh data real-time untuk mengambil keputusan cepat, mulai dari pembagian air irigasi sampai peringatan dini banjir,” ujar Agung.

Menurut dia, perencanaan SDA mencakup lima aspek utama, yakni konservasi, pendayagunaan, pengendalian daya rusak air, sistem informasi SDA, serta pemberdayaan masyarakat.

Konservasi dilakukan untuk menjaga daya dukung sumber daya air, antara lain melalui reboisasi kawasan hulu dan pembangunan sumur resapan. Sementara pendayagunaan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan air melalui pembangunan kolam retensi, pintu air, dan sumur bor.

Adapun pengendalian daya rusak air mencakup upaya mitigasi banjir dan longsor melalui pembangunan tanggul serta sistem drainase. Sistem informasi SDA menjadi basis data dalam pengambilan keputusan, sedangkan pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk meningkatkan peran warga dalam menjaga fasilitas dan keberlanjutan sumber daya air.

Agung mengatakan digitalisasi juga diterapkan sejak tahap awal perencanaan, mulai dari identifikasi dan survei hingga analisis kebutuhan air. Pemetaan potensi sumber air dapat dilakukan menggunakan teknologi, termasuk survei geolistrik untuk mendeteksi akuifer di wilayah yang rawan kekeringan.

“Analisis hidrologi mencakup perhitungan debit air, curah hujan, dan proyeksi kebutuhan air. Kemudian perancangan teknis untuk bendungan, jaringan irigasi, embung, dan sistem perpipaan, termasuk penilaian AMDAL dan efisiensi proyek,” jelasnya.

Menurut Agung, penerapan teknologi tersebut diharapkan membuat tata kelola sumber daya air lebih terukur dan mampu merespons persoalan air secara lebih cepat. (and/*)