Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Kasus Pelecehan Seksual Meningkat

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus pelecehan seksual di Kabupaten Bekasi sudah dalam level darurat. Dalam sepekan terakhir, tiga anak jadi korban pencabulan hingga pemerkosaan. Tiga kasus tersebut, kini masih ditangani pihak kepolisian.

Kasus pertama muncul wilayah di Cikarang Barat. Dua orang remaja AA (12) dan A (14) yang bermalam di sebuah bengkel di wilayah Wanajaya, Kecamatan Cibitung mengalami pelecehan seksual. Remaja tersebut diduga kenal dengan lelaki yang penunggu bengkel.

AA dan A bermalam sejak Jumat (5/9) dan pulang Minggu (6/9) pagi. Sepulangnya dari bengkel, korban bercerita ke orangtuanya atas peristiwa yang dialami. “Pelaku kita tangkap di bengkel di CBL desa Wanajaya pada Senin (7/9) kemarin sore,” kata Kanit Reskrim Polsek Cikarang Barat, Iptu Trisno, Selasa (8/9).

Sejauh ini, pihak kepolisian masih mendalami kasus yang berkenaan dengan kekerasan dan pelecehan seksual tersebut. Pasalnya, masih ada sejumlah kejanggalan yang saat ini ditemukan polisi. Pertama, apakah korban kenal dengan pelaku. Lalu, ada pelaku lain yang melakukan tindak asusilas tersebut atau tidak.“Kita masih mendalami, kita masih memintai keterangan,” tukasnya.

Kasus kedua yang menarik perhatian yakni kasus pencabulan. Kasus ini, berhasil diungkap polsek Setu. Kejadian sendiri terjadi di Perumahan (Perum) GSP 2 Jalan Duku RT012/015 Desa Ciledug Kecamatan Setu. Tersangka, RA (37) Asal jalan Meranti 6 Rt. 005/009 Kelurahan Bekasi Jaya Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi mencabuli AN (18) iming- iming memberikan ilmu pengasihan.

Kapolsek Setu, AKP Dedi Herdiana menceritakan, awal mula pertemuan antara pelaku dan korban di RS yang ada di wilayah Kecamatan Setu. Karena keakraban yang sudah terbangun, korban tergiur dengan tawaran ilmu pengasihan yang dimiliki pelaku.

“Caranya dengan di transfer melalui energi. Itu tipu muslihatnya, setelah empat kali menginap, saat korban menanyakan, akhirnya disuruh rebahan di urut dan saat berlangsung, saat selesai di urut terakhir dieksekusi,” bebernya.

Pelecehan seksualnya, terhadap korban, kata Dedi dilakukan saat korban tengah berhasil di kelabui janji. Korban yang tidur, di urut dengan menggunakan body lotion sekujur tubuhnya. “Keterangan pelaku, korban sudah empat kali nginap. Di keempat kali nginapnya korban di sodomi. Malam itu dua kali disodomi dengan paksa,” tegasnya.

Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Hendra Gunawan mengakui kasus lain saat ini sedang dalam tahapan pendalaman. Beberapa diantaranya, sudah di rilis Polsek terkait adanya kasus kekerasan pada perempuan yang dilakukan oleh pelaku di wilayah hukum polsek Tambun.

Hendra menegaskan, untuk semua kasus yang ada tidak ada kaitan dengan kondisi pandemi Covid-19. Semua kasus, murni tindakan yang dilakukan seseorang karena ada kesempatan dan niat.“Dengan dalih apapun, dengan modus apapun ini karena ada kesempatan dan niat,” tukasnya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bekasi mencatat, kasus pelecehan seksual terus mengalami peningkatan. “Pekan ini, ada pertambahan satu kasus limpahan dari komnas perempuan. Kasus limpahan dari Komnas Perempuan saat ini sedang dalam tahapan kajian kami. Jadi ada empat kasus di Kabupaten Bekasi pada September ini. Kebetulan ada salah satu yang mau visum,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Khusus Anak pada DP3A Kabupaten Bekasi, Titin Fatimah kepada Radar Bekasi, Selasa (8/9).

Semua kasus, lanjut Titin sudah ditangani oleh kepolisian. Pihaknya, kata dia melakukan upaya pendampingan pada korban mulai psikolog berkaitan dengan mental korban, serta pendampingan hukum bila korban memerlukan.

“Kita saat ini masih mendalami semua kasus, selain yang empat yang kita tangani juga, dalam waktu dekat akan melakukan evaluasi terkait kasus-kasus kekerasan pada perempuan termasuk pada pelecehan seksual di Kabupaten Bekasi saat ini yang menunjukan peningkatan,” bebernya.

Konsultan psikolog Neil Aldrin menyayangkan maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak. Menurutnya, pristiwa yang dialami anak akan membekas hingga dewasa,”Perubahan perilaku itu akan terlihat, tapi apakah akan menjurus kepada tindakan extreme?, Itu biasanya tidak terlihat,” terangnya.

Perhatian lebih ekstra perlu diberikan kepada orang tua untuk mengembalikan kepercayaan diri anak atas apa yang telah menimpanya. Orang tua juga perlu mengetahui pelecehan seksual yang dilakukan secara verbal, tanpa kontak fisik yang bisa saja terjadi pada anak-anak.

“Seyogyanya orang tua ini bisa benar-benar menjaga, khususnya pelecehan seksual ini, karena tidak hanya dengan hanya kontak fisik. (Pelecehan seksual verbal) itu tanda-tanda, apakah orang tua ini menyadari ?,” Tandasnya.

Kebiasaan menonton konten video porno diakui bisa mempengaruhi psikologis seseorang, setelah mendapat kesenangan dan melakukannya secara berulanh-ulang, akan meningkatkan hasrat hingga memanipulasi sosok yang dianggap lemah untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Pemerintah perlu memberikan edukasi lebih masif kepada orang tua mengenai pentingnya memberikan pendidikan seksual kepada anak. “Sehingga anak tidak mencari pengertian seksual dengan sendirinya, dikhawatirkan mendapat pemahaman yang berbeda dan mengalami pelecehan seksual sebagai korban pada usia anak.”tandasnya. (dan/sur)