Berita Bekasi Nomor Satu
Bekasi  

Bersiap Naik, Pertalite Langka

ILUSTRASI - Pelanggan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di salah satu pom bensin di kawasan Tebet, Jakarta. Rencana kenaikan BBM membuat Pertalite di sejumlah SPBU kosong. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Masyarakat Bekasi mulai kesulitan mendapatkan Pertalite usai kenaikan harga Pertamax belum lama ini. Kecemasan masyarakat kian menjadi seiring merebaknya kabar bahwa pemerintah tak lama lagi juga bakal menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tersebut.

Sinyal terkait rencana kenaikan harga Pertalite muncul dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. Ditemui saat mengunjungi Depo LRT Jabodebek di Jatimulya, Bekasi Timur, dikutip dari Antara, Jumat (1/4), Luhut menjelaskan saat ini pemerintah akan melakukan perhitungan dengan cermat mengenai rencana tersebut.

Selain itu, pemerintah juga akan melakukan sosialisasi terkait rencana kenaikan gas dan bahan bakar. Menurutnya, rencana kenaikan harga ini akan dilakukan secara bertahap oleh pemerintah. Meski demikian, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai penerapan rencana tersebut.

“Overall [secara keseluruhan] akan terjadi [kenaikan] nanti Pertamax, Pertalite, kalau Premium belum. Juga gas yang 3 kg [akan naik]. Jadi bertahap, 1 April, nanti Juli, bulan September, itu nanti bertahap akan dilakukan oleh pemerintah,” kata Luhut.

Soal kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax, ia juga menjelaskan banyak negara sudah menaikkan harga BBM mereka. Hal itu terjadi akibat kelangkaan minyak mentah, konflik Rusia-Ukraina, dan kelangkaan minyak nabati.

Luhut mengatakan Indonesia masih beruntung karena bisa mengelola ekonomi dengan lebih baik sehingga dampak konflik kedua negara tersebut tidak terlalu besar. Kenaikan harga Pertamax yang diberlakukan per 1 April 2022 pun, menurutnya, dilakukan lantaran asumsi harga minyak dunia dalam APBN sudah sangat jauh dengan harga minyak di lapangan.

Kenaikan harga Pertamax berlaku mulai Jumat (01/04) dari Rp9.000-Rp9.400 per liter menjadi Rp12.500 hingga Rp13.000 per liter.

“Kalau ditahan terus, jebol nanti Pertamina. Jadi terpaksa kita harus lepas,” katanya.

Sementara itu, Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menilai kenaikan harga Pertamax semakin memberatkan masyarakat, di tengah daya beli yang telah tertekan akibat kenaikan harga bahan pokok hingga pajak pertambahan nilai (PPn) yang terjadi berbarengan.

Di media sosial, sejumlah warganet mengeluhkan kenaikan tersebut. Beberapa di antaranya berencana beralih menggunakan Pertalite mengingat harganya disubsidi, sehingga tetap pada Rp7.650 per liter.

INDEF mengatakan meski harga Pertalite stagnan karena disubsidi oleh pemerintah, namun implikasi dari kenaikan harga Pertamax akan tetap terasa.

Eko memprediksi kenaikan harga Pertamax akan menyebabkan sebagian masyarakat beralih menggunakan Pertalite yang selisih harganya berkisar Rp3.500-Rp3.600 per liter.

Eko mengatakan “tidak semua masyarakat mampu menanggung selisih harga tersebut” di tengah kenaikan harga bahan pokok, juga kenaikan PPn yang berimbas pada harga token listrik hingga pulsa.

“Akhirnya perburuan terhadap Pertalite dimana-mana, kalau itu langka mau enggak mau kan masyarakat tetap konsumsi Pertamax juga. Implikasinya tentu daya beli masyarakat yang makin tertekan,” kata Eko menukil BBC News Indonesia.

Seiring mencuatnya sinyal kenaikan harga Pertalite, sepanjang akhir pekan lalu, warga Bekasi mulai sulit mendapatkan BBM bersubsidi tersebut. Sejumlah SPBU di ruas jalan utama kota dan kabupaten mengaku nyaris kehabisan stok.

Murgiyanti, warga yang tinggal di Cibarusah Serang, Cikarang Bekasi, Jumat (1/4/2022) lalu, mengaku tak bisa mendapatkan Pertalite di sejumlah SPBU. Akhirnya ibu satu anak ini terpaksa harus membeli Pertamax dengan harga Rp12.500 per liternya.

“Mau bagaimana lagi? Hampir semua SPBU bilangnya (Pertalite, red) kosong,” ujarnya.

Menanggapi kelangkaan Pertalite, yang terjadi di beberapa SPBU di daerah Jabodetabek, Irto Ginting, Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, SH C&T PT Pertamina (Persero) mengatakan stok Pertalite sebenarnya sangat mencukupi dan penyaluran juga sesuai kebutuhan di SPBU.(gar/bbc)