BekasiHukum

17 Pendemo di Medansatria Diamankan, Delapan Orang Masih Pelajar

RADARBEKASI.ID, BEKASI- Unjuk rasa di depan PT Pan Express Internasional, di Jalan Raya Bekasi KM27, Medansatria, Kota Bekasi, Rabu (2/12/2020) sore, berbuntut kericuhan antara pendemo dan aparat kepolisian.

Atas insiden itu pula, akhirnya polisi terpaksa mengamankan 17 orang pendemo. Delapan diantaranya ternyata masih berstatus pelajar.

Berdasarkan informasi, aksi unjuk rasa di depan perusahaan ekspedisi ini digelar massa dari Dewan Pimpinan Pusat Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (DPP-FBTPI), terkait permasalahan hubungan kerja dengan Mitra Driver (sopir ekspedisi).

Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Alfian Nurrizal mengatakan, awalnya demo puluhan massa yang dilaksanakan di lokasi berlangsung kondusif dan tertib. Aksi menuntut beberapa hal, antara lain meminta perusahaan bayarkan upah buruh selama di rumahkan, lalu meminta didaftarkan sebagai peserta BPJS ketenagakerjaan.

Selain itu, lanjut Alfian, mereka juga meminta agar menghentikan segala bentuk pembungkaman ruang demokrasi/pemberangusan serikat dan pekerjakan kembali 17 orang buruh PT Pan Exspres International.

“Massa ini mulai orasi pukul 14.42, yang dilakukan oleh Arira Fitra sebagai korlapnya. Sementara itu, massa gabungan serikat pekerja, mahasiswa dan pelajar. Dan selama proses itu berjalan masih kondusif,” kata Alfian, Kamis (3/12/2020).

Namun, hingga batas akhir unjukrasa, yakni pukul 18.00, para pendemi tak kunjung membubarkan diri. Hingga akhirnya aparat yang bertugas di lokasi meminta aksi dihentikan. Massa menolak  dan berujung ricuh.

“Mereka tak mau dibubarkan, malah melakukan perlawanan dengan cara mendorong-dorong petugas. Akibat hal tersebut, petugas pun terpaksa ambil tindakan tegas untuk tangkap para pendemo. Dan totalnya ada 17 orang, delapan diantaranya masih pelajar,” jelasnya.

Sementara itu, ditanya keterlibatan pelajar dalam aksi unjuk rasa yang terjadi ini. Kepada penyidik mereka mengaku mengetahui adanya aksi tersebut dari media sosial.

“Menurut pengakuan mahasiswa dan pelajar ini mereka diajak melalui media sosial tanpa paham duduk permasalahannya,” tandas Alfian. (mhf)

Related Articles

Back to top button