BekasiBerita UtamaMetropolis

Aset Transportasi Lebih Diminati

91,86 Persen Warga Bekasi Miliki Kendaraan

ILUSTRASI: Sejumlah pengendara memadati Kawasan Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Beberapa waktu lalu. Menurut data BPS warga Kota Bekasi memiliki aset transportasi sebanyak 91,86 persen. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang digambarkan dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Bekasi tahun 2020 menunjukkan rata-rata hasil pengeluaran per kapita masyarakat Kota Bekasi Rp2,35 juta.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok rumah tangga berpenghasilan menengah dan atas, pengeluaran lebih banyak untuk membeli kebutuhan bukan makanan.

Kebutuhan tersebut diantaranya adalah perumahan dan fasilitas rumah tangga, aneka barang dan jasa, pakaian, hingga keperluan pesta.

Total pengeluaran pada kelompok rumah tangga untuk bahan makanan tercatat Rp1.005.521, sementara untuk pengeluaran bukan bahan makanan lebih besar, Rp1.341.565 per Kepala Keluarga (KK). Total kalori yang dikonsumsi satu hari setiap keluarga sebanyak 71,29 gram.

Sementara pada komponen lain kelompok rumah tangga di Bekasi lebih banyak memiliki aset transportasi dibandingkan dengan aset rumah tangga.

Secara detail, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi, Ahmad Muhammad Saleh menjelaskan bahwa dalam survei yang dilaksanakan, BPS tidak secara langsung menghubungkan antara pengeluaran dan aset yang dimiliki.

Namun, secara ringkas ia menjabarkan bahwa pada kelompok rumah tangga dengan tingkat pendapatan tinggi, maka kepemilikan aset akan nampak lebih banyak dibanding dengan kelompok rumah tangga dengan pendapatan lebih kecil.

“Tapi logikanya, semakin orang itu berpendapatan tinggi, maka tingkat kepemilikan asetnya (baik peralatan rumah tangga maupun transportasi) akan lebih banyak,” terangnya.

Dari jumlah aset dimiliki oleh setiap rumah tangga, jumlah kendaraan lebih banyak dimiliki yakni 91,86 persen. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan aset fasilitas rumah tangga sebanyak 88,86 persen.

Dari status kepemilikan rumah, masih ada 35,36 persen kelompok rumah tangga dengan status kepemilikan rumah bukan milik sendiri, atau kontrak. Sementara 64,64 persen kelompok rumah tangga yang tempat tinggalnya berstatus milik sendiri.

Dari gambaran data ini, ada sebagian masyarakat yang lebih senang tinggal di rumah yang masih mengontrak. Hal ini dalam beberapa kasus dilatarbelakangi oleh mobilitas masyarakat yang cukup tinggi dalam pekerjaannya.

“Dalam kasus tertentu ada orang yang senangnya ngontrak, karena pindah-pindah. Yang ke dua, memang dari perusahaan seperti itu, contoh (perusahaan) swasta itu membelikan rumah (untuk ditempati oleh karyawannya) karena mobilitas pekerjanya tinggi,” tambahnya.

Semakin tinggi pengeluaran masyarakat Kota Bekasi, maka dari aspek kependudukan dapat diketahui semakin banyak penduduk yang berusia diatas 65 tahun. Sebaliknya, semakin sedikit masyarakat yang berusia dibawah 14 tahun.

Hal ini dilatarbelakangi oleh pengeluaran masyarakat yang dipengaruhi oleh usia produktif.

“Saya menggambarkan bahwa usia produktif di BPS itu 15 sampai dengan 64 tahun, dengan asumsi orang-orang berusia produktif itu adalah mereka yang bekerja,” tukasnya. (sur)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button