Cikarang

Warga Resah, Kali Cikarang Menyempit

CIKARANG BARAT – Warga yang tinggal dibantaran Kali Cikarang merasa resah dengan adanya proyek pembangunan yang dilakukan oleh PT Fajar Paper di Kali Cikarang Desa Kalijaya Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi.

Pasalnya, imbas dari adanya proyek pembangunan tersebut membuat aliran air Kali Cikarang kian menyempit hingga 15 meter. Sehingga dikhawatirkan, saat musim hujan akan terjadi banjir yang parah dari sebelumnya.

Selain itu, juga akan merusak ekosistem yang ada di bantaran kali. Bahkan untuk sekarang, ada ratusan pohon bambu yang hilang, karena diduga dibabat alat berat.

Salah seorang warga yang tinggal bantaran Kali Cikarang, Enih (55) mengatakan, kondisi rumahnya yang berjarak 200 meter dari proyek pembangunan tersebut, akan berdampak pada penyempitan Kali Cikarang.

“Dengan kali seluas itu, rumah warga sekitar Kali Cikarang, sudah terdampak banjir, sampai merendam rumah saya. Apalagi kalinya semakin kecil, bisa-bisa banjir sepinggang,” tutur Enih, Rabu (15/9).

Sementara Aktivis Lingkungan, Eko Sujatmiko menyampaikan, konservasi Hutan Bambu yang berdekatan dengan proyek tersebut, juga akan terdampak imbasnya. Menurut dia, pihaknya saat ini tengah berupaya mempertahankan ekosistem serta gerakan konservasi di bantaran Kali Cikarang

“Kalau dihitung satu meter persegi, ada sepuluh batang pohon bambu, dan kalau seratus meter saja, sudah berapa pohon bambu yang hilang. Padahal, selain menguatkan tanah di bantaran sungai, akarnya juga bisa menyerap racun-racun dan limbah yang ada,” ucapnya.

Eko menilai, dengan adanya proyek pengurukan tersebut, tentu saja akan berdampak pada penyempitan aliran kali. Dengan panjang area proyek mencapai 800 meter, dikhawatirkan akan menghambat debit air ke hilir yang sangat dibutuhkan oleh para petani untuk mengairi sawah.

“Kalau intensitas hujan tinggi, air pasti naik, dan dikhawatirkan, di hulu i kena dampak banjir. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah di hilir, petani menjadi kekurangan pasokan air untuk sawah,” terangnya.

Eko berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui dinas terkait, segera mengambil tindakan, agar gerakan konservasi yang selama ini diupayakan oleh relawan Hutan Bambu, bisa berjalan.

“Tanaman dan hewan yang ada di sepanjang bantaran Kali Cikarang, wajib dipertahankan, dan setiap bantaran sungai, wajib memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang mampu menghasilkan udara dan sterilisasi air, di aliran Kali Cikarang,” pungkasnya.

Sayangnya, dari pihak PT Fajar Paper, belum bisa dimintai keterangan perihal proyek pembangunan yang dilakukan di Kali Cikarang tersebut. (pra)

 

Related Articles

Back to top button