Cikarang

Harga Sayur Turun 50 Persen

RADARBEKASI.ID, CIBITUNG – Di masa pandemi ini, sejumlah harga sayur mayur mulai mengalami penurun. Hal ini menjadi anomali bagi petani, namun berkah bagi masyarakat.

Kassubag TU UPTD Pasar Induk Cibitung, Isep Kadarisman mengakui, harga sejumlah komoditas sayuran di Pasar Induk Cibitung, relatif mengalami penurunan harga.

Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya, karena melimpahnya stok komoditas sayuran, akibat minat pembeli menurun.

“Memang ada penurunan harga sebesar 50 persen. Sementara stok barang juga relatif stabil,” beber Isep.

Ia menyampaikan, berdasarkan daftar harga beberapa komoditas sayuran di Pasar Induk Cibitung pada Rabu (22/9), cabai rawit merah stok 25 ton/hari, dan harga pada bulan Agustus: Rp 12.000/kg, bulan September: Rp 12.000/kg

Sedangkan cabai merah keriting, memiliki stok 14 ton/hari, harga bulan Agustus: Rp 13.000/kg, dan bulan September: Rp 10.000/kg

Lanjut Isep, cabai merah besar, memliki stok 3 ton/hari, harga bulan Agustus: Rp 10.000, dan bulan September: Rp 12.000

Cabai rawit hijau, stok 21 ton/hari, harga bulan Agustus: Rp 8.000, dan bulan September: 10.000

Stok jagung, 130 ton/hari, harga bulan Agustus: Rp 8.000, da bulan September: Rp 6.500

Stok kentang, 50 ton/hari, harga bulan Agustus: Rp13.00, dan bulan September: Rp 12.000

Stok tomat, 40 ton/hari, harga bulan Agustus: Rp 14.000, dan bulan September: Rp 10.000.

Sementara itu, salah satu pedagang, Erlinda (34) menuturkan, sebagai pedagang, dirinya merasa bersyukur dengan kondisi pandemi masih bisa berjualan. Hanya saja, dengan kondisi turun-nya harga, membuat pendapatan-nya ikut turut.

“Memang saat ini, stok sayur jadi numpuk, sebab pembeli mengalami penurunan. Jadi, walaupun harga turun, tapi pembelinya tidak sebanyak sebelumnya,” ucap Erlinda.

Dirinya berharap, dengan kondisi seperti ini, ada kebijakan yang membuat agar masyarakat kembali belanja ke pasar untuk membeli sayur-mayur.

“Perlu ada keseimbangan. Harga turun, tidak merugikan pedagang, dan jika harga naik, tidak merugikan pembeli. Sehingga ekonomi bisa berjalan selaras dengan kepentingan publik,” terangnya. (and)

Related Articles

Back to top button