Sekolah Tatap Muka Dihentikan Sementara

Illustrasi: Guru menyampaikan materi mata pelajaran di hadapan siswa saat pembelajaran tatap muka secara terbatas di SDN Kota Baru III Kota Bekasi, Senin (6/9). Sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Bekasi bersiap melaksanakan penilaian PTS pada bulan ini. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di salah satu Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kecamatan Mustikajaya Kota Bekasi dihentikan sementara setelah dua siswa terkonfirmasi positif Covid-19 pada 27 September kemarin. Dinas Pendidikan (Disdik) bersama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat tengah melakukan pelacakan kepada kontak erat kedua siswa tersebut.

 


Setelah mendapati temuan kasus ini, Disdik dan Dinkes Kota Bekasi tidak menyimpulkan bahwa kedua siswa tersebut terpapar di sekolah saat mengikuti PTMT. Pasalnya, ibu dari kedua siswa yang diketahui kakak beradik tersebut juga terkonfirmasi positif Covid-19. Dugaan sementara siswa tersebut terpapar di lingkungan keluarganya.

 


Sekretaris Disdik Kota Bekasi, Krisman Irwandi menyampaikan bahwa siswa tersebut tertular dari orang tua. Sementara itu, jauh sebelum tanggal terkonfirmasi, siswa yang bersangkutan sudah tidak masuk sekolah sejak 13 September 2021.

 

“Kebetulan sekolah tersebut pelaksanan PTS (Penilaian Tengah Semester), sekolah itu semesterannya daring,” katanya, Kamis (30/9).

 

Diketahui kakak beradik tersebut duduk di kelas 4 dan 6 SD. Saat ini pihaknya telah memberhentikan sementara kegiatan PTMT di sekolah yang bersangkutan selama tiga hari untuk melakukan tracing.

 

“Sudah di tracing kemarin, cuma nunggu hasil tiga hari, (sekolah) ditutup sementara. Mudah-mudahan hasilnya negatif semua,” tambahnya.

 

Pihaknya berencana untuk mengumpulkan seluruh kepala sekolah di lingkungan Kota Bekasi, Disdik meminta kepada kepala sekolah untuk orang tua melaporkan siswa dan orang tua yang sudah divaksin serta dalam keadaan sehat.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Tanti Rohilawati menyampaikan bahwa pihaknya tidak bisa menyimpulkan secara singkat dimana kedua siswa tersebut terpapar sebelum ada pembuktian melalui pelacakan kasus.

 

Ia meminta antisipasi tetap dilakukan melalui penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat pada pelaksanaan PTMT, pengawasan dilakukan oleh Puskesmas di lingkungan sekolah secara periodik mengenai pengawasan PTMT.

 

“Kami sudah menugaskan untuk dilakukan tracing, dari koordinasi yang sudah dilakukan, tracing itu akan dilakukan pada hari ini di sekolah-sekolah dalam pelaksanaan PTMT,” ungkapnya.

 

Terpisah, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Heri Purnomo mengingatkan siswa untuk menahan diri mengikuti PTMT jika didapati yang bersangkutan atau anggota keluarganya dalam keadaan tidak sehat. Hal ini penting untuk dipertimbangkan lantaran siswa dibawah usia 12 tahun belum bisa menerima vaksin Covid-19.

 

Sejak persiapan pelaksanaan Adaptasi Tatanan Hidup Baru Satuan Pendidikan (ATHB-SP) hingga PTMT beberapa waktu lalu, ia telah mengingatkan syarat pelaksanaan Prokes secara ketat, mulai dari guru, siswa, hingga orang tua siswa, salah satunya sudah divaksin. Tes acak dengan sampling beberapa sekolah dinilai perlu untuk memastikan pelaksanaan PTMT dalam kondisi aman bagi siswa dan warga sekolah, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.”Perlu, Jakarta sangat bagus dengan melakukan itu,” ungkapnya.

 

Salah satu faktor kendurnya penerapan Prokes disampaikan oleh Heri, lantaran situasi penyebaran Covid-19 yang telah menukik tajam.”Dengan turunnya secara signifikan, itu membuat kita lengah dan nggak waspada, kita temui di beberapa tempat orang sudah jarang pakai masker,” tukasnya.

 

Pengamat Pendidikan, Imam Kobul Yahya menyampaikan kasus di sejumlah daerah juga disanggah oleh Dinas Pendidikan (Disdik) di masing-masing daerah. Hal ini dinilai sebagai respon menolak bertanggungjawab, dengan alasan penularan tidak terjadi di sekolah.

 

“Yang jadi masalah gini, buka cuma dikita, kemarin saya ke Jakarta sama Tangerang itu, jadi hampir semua dinas pendidikan itu membantah dengan seperti itu. Bahwa terpaparnya itu dari rumah atau dari luar, bukan dari sekolah, artinya menolak bertanggungjawab,” katanya.

 

Imam menyatakan setuju terhadap penanganan pasca temuan kasus ini dengan mentracing, dan memberhentikan sementara kegiatan PTMT di sekolah yang bersangkutan. Apapun alasannya, masuk atau tidaknya siswa melaksanakan kegiatan PTMT di sekolah, ia meminta sekolah dan Disdik untuk bertanggung jawab lantaran anak tersebut berada pada usia sekolah dan berstatus siswa aktif di sekolah.

 

“Yang paling penting menurut saya kedepan, diberhentikan sekolahnya (sementara waktu) oke, tapi (sekolah) yang lain tidak perlu terganggu, karena kita perlu proses untuk new normal,” tambahnya.

 

Menurutnya, solusi pada resiko terpaparnya anak usia sekolah atau siswa ini bukan hanya tracing dan pemberhentian sementara, namun komitmen setiap pihak yang dibuat pada saat persiapan pelaksanaan PTMT.

 

Disarankan, PTMT dilakukan hanya pada siswa yang sudah memenuhi kriteria termasuk usia untuk mengikuti PTMT, sementara saat ini semua jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sudah melaksanakan PTMT. Hal lain, adalah memastikan kesiapan sekolah mulai dari sarana dan prasarana untuk menunjang Prokes, dan pemeriksaan kesehatan secara acak pada siswa dan orang tua siswa terutama yang belum divaksin secara periodik untuk memastikan keamanan pada saat pelaksanaan PTMT (mif/sur)