Tracing Guru dan Siswa Negatif

RAIZA/RADAR BEKASI ILUSTRASI : Sejumlah siswa SD saat di periksa suhu tubuh sebelum memasuki area sekolah. Tracing guru dan siswa di salah satu sekolah di kecamatan Mustika jaya menunjukan hasil negative.

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Hasil tracing warga sekolah di lokasi temuan kasus anak usia 11 tahun terkonfirmasi Covid-19 di sekolah menunjukkan hasil negative. Sekolah di wilayah Kecamatan Mustikajaya tersebut saat ini telah diizinkan untuk kembali menggelar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Sementara itu, pengawasan penyebaran Covid-19 di sekolah akan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di semua daerah di Indonesia secara acak.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi, Inayatullah mengaku tracing terhadap 26 warga sekolah tidak didapati hasil positif Covid-19. Sejauh ini informasi yang didapat, anak usia sekolah yang ditemukan terkonfirmasi sempat masuk sekolah mengikuti PTMT dua kali, setelah itu tidak lagi masuk sekolah.


“Alhamdulillah guru di tes dua, siswa 26, itu tidak ada yang positif, artinya negatif semua,” katanya, Senin (4/10).

Setelah dua kali mengikuti PTMT, siswa tidak lagi masuk sekolah pada tanggal 13 September. Pembelajaran seluruh siswa di sekolah yang bersangkutan dilanjutkan secara Daring lantaran tengah melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS).


Sampai saat ini, sekolah belum kembali melaksanakan tatap muka lantaran masih PTS. Namun, ia menegaskan sekolah sudah bisa kembali melaksanakan PTMT usai dilakukan tracing kepada warga sekolah dan tidak didapati kasus baru.”Ya kalau misalkan itu (ingin melaksanakan PTM) boleh, tapi (sekarang) dia masih Daring,” tukasnya.

Pengawasan Protokol Kesehatan (Prokes) selama PTMT menjadi fokus Kemenkes, metode surveillance atau pengawasan penyebaran Covid-19 disebut telah disusun oleh Kemenkes.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pihaknya terus mengawal proses PTM di sekolah. Menurutnya, siswa harus belajar secepat mungkin agar tidak kehilangan kesempatan dalam meningkatkan pengetahuan.

Random surveillance akan dilaksanakan di sekolah-sekolah yang melaksanakan tatap muka dengan persentase 10 persen dari total sekolah yang melaksanakan di tiap kabupaten dan kota di Indonesia. Persentase sekolah tersebut, akan dibagi sesuai dengan jumlah kecamatan.

“Yang ketiga, kemudian akan kita ambil tiga puluh sampel untuk murid, dan tiga sampel untuk guru,” ungkapnya.

Beberapa skenario penanganan juga telah dipaparkan. Pertama, jika hasil sampel menunjukkan positivity rate berada diatas lima persen, maka sekolah diminta untuk tutup selama dua pekan sambil memperbaiki penerapan Prokes di sekolah yang bersangkutan.

Jika hasil positivity rate yang didapat berada antara satu sampai lima persen, maka satu kelas yang didapati kasus positif akan dikarantina. Sementara rombongan belajar lain di sekolah yang sama tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Untuk hasil positivity rate di bawah satu persen, karantina hanya dilakukan kepada temuan kasus terkonfirmasi dan beberapa orang yang diketahui melakukan kontak erat. Pengawasan penyebaran Covid-19 ini disebut sudah dilakukan di sekolah-sekolah di DKI Jakarta minggu lalu, dan dari hasil itu ditemukan kasus terkonfirmasi.

“Dan memang kita temui masih adanya positivity rate dari pelajar-pelajar yang ada di Jakarta,” tukasnya. (zar/sur)