Normal Risma

BERAPA kali Bu Risma marah di depan kamera? Tentu masih banyak lagi jika yang tidak tercatat dihitung. Akan bertambah lagi jika waktu sebelum menjadi Menteri Sosial dimasukkan.


Masyarakat Surabaya sudah menganggap wajar Bu Risma seperti itu. Orang Surabaya tidak menyanyi. Saya juga tidak menganggapnya aneh. Performa tinggi Risma mengalahkan gaya kasarnya. Ia telah dua kali menjabat sebagai Walikota Surabaya.

Bu Risma adalah orang yang memiliki kemauan – besar dan keras. Dan dia bekerja keras untuk mewujudkan keinginan itu.


Cari Risma di tengah hujan lebat: dia hampir pasti bisa ditemukan di lokasi pompa penghisap genangan air. Dia menemukan generator yang rusak. Sebuah pipa mati. Listrik terputus.

Dia memakai jas hujan. Tapi masih basah kuyup. Dia datang untuk bekerja. Tidak hanya memeriksa. Itu dia lakukan tanpa terlihat untuk pencitraan. Dia sangat ingin banjir segera berakhir. Ia tak ingin foto kuyubnyi basah beredar di media keesokan harinya.

Risma – Ir Tri Rismaharini – adalah orang yang tahu detail. Perhatikan detailnya. Kontrol detailnya. Lengkapi detailnya. Sebagai seorang arsitek ia terbiasa dengan perencanaan dan pekerjaan detail. Ia juga selalu mencari cara termurah untuk sebuah proyek dengan kualitas yang diinginkan. Arsitek terdidik dan terbiasa berpikir demikian.

Jumlah orang miskin pasti dia perhatikan secara detail. Apalagi setelah dia menjadi menteri sosial. Dia tahu bagaimana menggunakan keterampilan komputer. Dia pasti kesal jika ada detail yang salah.

Jangankan angka-angka kemiskinan yang begitu penting. Penari yang akan tampil di panggung Pemkot Surabaya pun dia kontrol sampai ke pakaian tarinya.

Dan Risma tidak terlihat memupuk kekayaan dari jabatannyi. Dua periode dia jadi wali kota. Di kota metropolitan pula: Surabaya. Rumahnya biasa saja. Di daerah yang termasuk kelas 3-nya Surabaya: Wiyung. Nun di Surabaya Barat banget. Itu bukan daerah kelas 2 apalagi kelas 1. Dia sudah di situ sejak masih menjadi kepala dinas.

Rumah orang tuanyi –yang menjadi rumah pertamanyi– juga di daerah kelas 3. Di dekat Pasar Burung, Nginden. Yang sampai sekarang tanahnya masih belum berstatus hak milik.

Di rumah inilah, awalnya, dibangun museum sederhana: Historisma. Di situ pula dibuat warung kopi. Waktu itu Risma mengira tidak ada jabatan apa-apa lagi setelah dua periode itu berlalu. (Baca juga: Historisma)

Ternyata Risma menjadi menteri sosial. Saya pernah berpikir untuk mengadakan acara selama satu minggu. Temanya: Surabaya Berterima Kasih Kepada Risma. Tapi ada pandemi. Tidak mungkin ada kerumunan. Apalagi sebelum habis masa jabatan itu ternyata dia sudah dilantik sebagai menteri. Praktis tidak ada waktu bagi warga Surabaya untuk berterima kasih kepadanyi.

Saya memang melihat Bu Risma juga orang yang normal: ingin jabatan yang lebih tinggi. Sejak dulu. Tapi yang seperti itu kan boleh-boleh saja. Kemajuan sering datang dari orang yang punya kemauan.

Saya pernah makan satu meja bertiga: dengan Bu Risma dan Ibu Mega. Saya rasakan hubungan istimewa kedua wanita itu. Bu Mega terlihat sudah terbiasa dengan gaya Bu Risma yang ceplas-ceplos: Suroboyoan. Dengan gerak tubuh yang tidak perlu disopan-sopankan. Yang untuk ukuran orang sebagian orang Jawa bisa saja dianggap kurang sopan. Toh tidak terlihat ada sedikit pun keberatan Bu Mega dengan gaya Risma seperti itu.

Marahnyi Bu Risma memang keras. Agak kasar. Tapi mulutnyi tidak kotor. Tidak ada harta dari toilet yang keluar dari mulut marahnyi. Tidak ada pula kebun binatang di lidahnyi.

Saya pun akan marah: kalau melihat data orang miskin yang harus salah terus. Sudah sekian tahun. Sudah di zaman komputer dan Wi-Fi seperti ini.

Harus ada yang marah di negeri ini: asal marahnya tetap yang ikhlas. (Dahlan Iskan)