Kota Bekasi Sisa 700 Ribu Vaksin

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengaku masih memiliki hampir 700 ribu vaksin untuk disuntikkan. Pemberian vaksin kepada masyarakat yang belum menerima dosis satu maupun dua harus tetap menjadi prioritas sehingga dapat memperkecil kemungkinan sakit parah bahkan kematian atau fatalitas.

Catatan Sabtu (9/10) kemarin, ketersediaan vaksin di Kota Bekasi masih tersisa 705.268 ribu dosis vaksin, terdiri dari enam jenis vaksin. Selama perjalanan vaksinasi, situasi Covid-19 di Kota Bekasi cenderung membaik, hanya tersisa 25 kasus aktif atau 0,03 persen dari total kasus sejak awal pandemi sebanyak 85.844 kasus.


Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi menyampaikan pemberian sisa persediaan vaksin kepada masyarakat Kota Bekasi diyakini membuat statistik warga yang telah mendapat vaksin keseluruhan menjadi 95 persen dari total populasi masyarakat. Ia mengakui persediaan vaksin jenis AstraZeneca sudah mendekati kadaluarsa atau expired, ada 22.190 dosis yang masih tersedia.

“Jadi kalah itu habis clear, itu 95 persen (dari total sasaran vaksinasi) dosis satu dan dosis dua clear,” kata Rahmat.


Persediaan ima jenis vaksin lainnya menurutnya masih aman, tidak mendekati kadaluarsa, total persediaan terbanyak saat ini adalah vaksin jenis pfizer, mencapai 368.286 dosis vaksin.

Sisa persediaan vaksin ditarget selesai akhir bulan November mendatang. Pihaknya bersama dengan tiga pilar saat ini gencar melaksanakan vaksinasi untuk mencapai target tersebut.”Kalau ditarget sampai akhir tahun ini tidak ada gelombang ketiga ya Alhamdulillah, tapi yang kita khawatirkan ada gelombang lainnya,” tambahnya.

Kewaspadaan untuk tidak kecolongan masih dilakukan hingga saat ini. Yang terbaru, kewaspadaan dilakukan terhadap setiap orang yang datang setelah mendampingi atlet pada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

Di waktu yang berbeda, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman mengingatkan masyarakat untuk tetap mentaati Protokol Kesehatan (Prokes) dan Testing, Tracing, serta Treatment (3T) oleh pemerintah. Pasalnya, vaksin bukan solusi satu-satunya, namun penting untuk meminimalisir potensi terpapar, sakit berat, dan fatalitas.

“Ditengah program vaksinasi ini, kita juga menyadari bahwa vaksin ini ternyata menurun, dan tidak hanya vaksin Sinovac, semua vaksin ini menurun setelah kurang lebih 4 sampai 6 bulan,” ungkapnya.

Meskipun kemampuan memproteksi diri menurun, bukan sepenuhnya hilang kata Dicky. Masih ada respon imunitas atau antibodi yang ditunjukkan oleh tubuh setelah mengenali virus, sehingga respon di dalam tubuh sangat kompleks.

Untuk itu, ia meminta strategi vaksinasi dalam menjangkau lebih banyak masyarakat untuk mendapat dosis lengkap, yakni dua kali suntikan arah dua dosis. Meskipun demikian, rencana pemberian booster juga tidak kalah penting.

“Adanya orang di luar kelompok yang beresiko tapi berusaha mendapatkan booster ini tentu harus dihindari, inilah masalah besar tentang etik, moral, menjadi sangat penting karena ini hajat hidup orang banyak, dan ini masalah strategi kesehatan masyarakat yang harus kita jaga,” tukasnya. (mif/Sur)