RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di usia yang masih sangat muda, Putri Maharani (23) harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Wanita yang akrab disapa Icha harus berjuang melawan penyakit gagal ginjal yang dideritanya dan mengharuskannya menjalani terapi hemodialisis (HD) secara rutin di salah satu rumah sakit di wilayah Kota Bekasi.
Saat ini, Icha tengah melanjutkan penyusunan skripsinya setelah sempat mengambil cuti kuliah karena kondisi kesehatannya yang menurun. Namun, di balik semangatnya untuk bangkit, tersimpan perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Saat ditemui disela-sela kegiatannya, Icha menceritakan, awal mula dirinya mengetahui adanya masalah kesehatan yang ia rasakan.
“Waktu itu saya sedang kumpul dengan keluarga, kebetulan di keluarga saya ada yang punya riwayat tensi tinggi. Singkat cerita, saat itu nenek saya sedang cek tensi, lalu saya iseng ikut cek juga, ternyata hasilnya tinggi, sekitar 175/100,” ungkap Icha.
Meski sempat dianggap sepele, kondisi tersebut ternyata menjadi tanda awal gangguan kesehatan yang lebih serius. Dalam beberapa bulan berikutnya, Icha mulai merasakan berbagai gejala yang semakin mengganggu aktivitasnya.
“Awalnya cuma dianggap sepele, karena saya tidak merasakan gejala yang bagaimana-bagaimana, tapi lama kelamaan mulai muncul lebam-lebam yang tidak kunjung sembuh, urin berbusa, jalan sedikit saja sudah capek, badan juga bengkak, dan sering sesak napas terutama saat malam hari,” jelas Icha.
Kondisi yang terus memburuk akhirnya membuat Icha menjalani pemeriksaan lebih lanjut hingga akhirnya didiagnosis mengalami gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Pada Juni 2023, untuk pertama kalinya Icha harus menjalani hemodialisis (HD).
Keputusan untuk menjalani terapi HD bukanlah hal yang mudah, terlebih di usianya yang masih muda. Namun untuk kesembuhannya, Icha harus beradaptasi dengan rutinitas baru yang kini menjadi bagian dari kesehariannya.
“Saya harus menjalani HD dua kali dalam seminggu. Awalnya berat dan sulit buat saya, tapi lama-lama harus dibiasakan,” ujarnya.
Icha mengakui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan menjadi penopang utama untuk pengobatannya. Terapi HD yang membutuhkan biaya besar kini dapat diakses tanpa beban finansial.
“Alhamdulillah, biaya HD ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Jujur ini sangat membantu sekali, apalagi pengobatan ini kan harus rutin dan jangka panjang. Pelayanan di RS pun sangat baik, tenaga medisnya juga sangat membatu saya ketika sedang drop atau ketika sedang ada keluhan. Mereka juga sabar menjawab pertanyaan saya dan selalu memberikan solusi yang tepat,” katanya.
Meski demikian, Icha berharap ke depan layanan kesehatan dapat terus ditingkatkan, terutama dalam hal proses administrasi agar lebih sederhana dan cepat.
“Harapan saya, proses administrasi bisa lebih simpel dan cepat, jadi pasien tidak perlu menunggu lama, apalagi kalau dalam kondisi darurat. Selain itu, semoga tenaga medis tetap ramah, sigap, dan melayani semua pasien dengan adil tanpa dibeda-bedakan,” harapnya. (*)











