Keringat Guru

Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Heri Koswara, MA.

SEBUAH cerita patut dijadikan renungan untuk memperingati Hari Guru. Keringat mereka tak ternilai harganya. Sedangkan para penimba ilmu, kelak di kemudian hari, menjadi “orang”, bak emas dan berlian yang dihargai tinggi.

Cerita ini, mungkin hanya imajiner. Tapi begitulah kenyataan di lapangan. Kendati para guru saat ini telah memperoleh beragam penghargaan.


Di sebuah ruang kelas, seorang murid bertanya kepada gurunya.

“Jika memang benar para guru adalah orang-orang pintar, mengapa bukan mereka yang menjadi kepala negara, pengusaha sukses, dan orang-orang kaya raya itu?”


Sang guru tersenyum. Lantas, bangkit dari kursinya menuju ruangannya. Sekembalinya, di depan murid tersebut, dia tunjukkan sebuah timbangan.

Timbangan besi lengkap dengan anak timbangannya dibawa. Timbangan tersebut dia letakkan di meja muridnya itu. Sang guru lantas berkata:

“Anakku, ini sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5.000 gram. Berapa harga emas seberat itu?”

Si murid mengernyitkan dahinya. Dia mencoba menghitung dengan kalkulator di ponselnya. Lalu, ia menjawab.

“Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5.000 gram akan setara dengan 4 miliar rupiah,” jawabnya.

Guru menanggapi jawaban sang murid. “Baik lah anakku. Sekarang coba kamu bayangkan, seandainya ada seseorang yang datang kepadamu membawa timbangan ini dan ingin menjualnya seharga emas 5.000 gram, adakah yang bersedia membelinya?”

Sang murid menjawab panjang lebar. Intinya, dia bilang begini: “Timbangan emas ini tidak lebih berharga dari emasnya. Saya bisa mendapatkan timbangan tersebut dengan harga di bawah dua juta rupiah, mengapa harus membayar sampai 4 miliar?” jawabnya mantap dengan nada balik bertanya.

Jawaban sang guru langsung menyumpal mulutnya. Singkatnya begini. “Anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran. Kalian para murid, adalah seperti emas. Kami adalah timbangan akan bobot prestasimu, kalianlah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini. Biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat, presisi untuk mengukur kadar kemajuanmu,” beber guru itu.

“Satu lagi pertanyaanku. Jika ada seseorang datang kepadamu membawa sebongkah berlian di tangan kanan dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata: “Di tangan kiriku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada di tangan kananku ini, tanpa keringat ini tidak akan ada berlian, maka belilah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian”. “Apakah ada yang mau membeli keringatnya itu,” tanya guru tersebut kepada muridnya lagi.

“Tentu tidak!” jawab si murid dengan nada setengah berteriak.

Mendengar jawaban si murid, guru itu langsung melanjutkan penjelasannya. “Orang hanya akan membeli berliannya dan mengabaikan keringatnya. Biarlah kami, para guru, menjadi keringat itu, dan kalianlah yang menjadi berliannya,” imbuhnya dengan nadanya yang sangat bijak.

Sang murid pun langsung menangis tersedu-sedu. Dia merasa begitu angkuh dan hebat dengan pertanyaannya di awal tadi. Dia pun lalu memeluk gurunya.

Dengan mata masih berkaca-kaca, murid itu berkata: “Wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya kalian, terima kasih guru. Kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kemajuan kami, setiap kilau berlian kami, ada tetes keringatmu,” ujarnya sambil terus mendekap erat gurunya yang rambutnya sudah bersinar.

Dengan tenang dan bijaksana, guru itu berpesan kepada muridnya: “Biarlah keringat itu menguap, mengangkasa menuju alam hakiki di sisi ilahi rabbi. Karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak-pernik di dunia ini.”

Terima kasih wahai para guru. Semoga jasamu menjadi bekal penerang menuju kehidupan di alam akhirat. Wallahu A’lam. (*)