Edukasi Kandungan Gizi Makanan

TEKAN ANGKA STUNTING: Warga mengikuti kegiatan edukasi pengolahan makanan di wilayah Kelurahan Ciketingudik, Bantargebang, Kota Bekasi, Sabtu (23/1). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BANTAR GEBANG – Minimnya pemahaman tentang kandungan nilai gizi pada makanan yang dikonsumsi utamanya pada anak menjadi persoalan munculnya fenomena stunting.

Atas dasar itu, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bekerjasama dengan PP Aisyiyah mengedukasi warga Bantargebang yang tinggal di sekitar Rumah Gizi.


Edukasi dan demo pengolahan pangan bergizi dan ekonomis untuk memenuhi kebutuhan gizi anak disampaikan ke masyarakat. Dalam acara itu turut hadir Anggota DPRD Kota Bekasi, Alimudin, Ketua Bidang Advokasi Kesehatan YAICI, Yuli Supriati, serta Praktisi dan Konsultan Gizi, Herawati, serta warga sekitar Rumah Gizi.

Praktisi dan Konsultan Gizi, Herawati mengatakan, banyak makanan sehat yang belum diterapkan oleh masyarakat Indonesia dan khususnya warga Kota Bekasi.


Apalagi, masyarakat hari-hari ini lebih senang terhadap makanan-makanan yang instan, cepat saji, yang belum tentu bergizi dan berprotein.

“Terlebih saat ini dengan banyaknya teknologi yang semuanya bisa dibeli dengan cara online. Padahal, kita bisa mendapatkan protein dan gizi dari makanan yang kita olah sendiri, seperti telur, ikan dan sayur-sayuran. Itu lebih baik daripada membeli makanan instan di luar,” katanya.

Dengan adanya demo memasak makanan yang sehat dan bergizi ini, diharapkan dapat membuat masyarakat lebih bijak lagi dalam mengkonsumsi makanan.

Ketua Bidang Advokasi Kesehatan YAICI, Yuli Supriati mengatakan, bahwa tidak sedikit masyarakat yang masih menganggap kental manis adalah susu.

“Setiap kami terjun ke masyarakat untuk memberikan edukasi terkait literasi gizi dan dampak kental manis di masyarakat, masih banyak ibu-ibu yang memberikan kental manis kepada anaknya, padahal kental manis gizinya sedikit dan lebih banyak gulanya,” ucapnya.

YAICI juga melakukan penelitian yang hasilnya ditemukan masih banyak ibu hamil yang mengkonsumsi Susu Kental Manis (SKM) sebagai asupan gizi hamil.

“YAICI melakukan penelitian konsumsi pada ibu hamil, dan hasilnya cukup mengagetkan ternyata 71 persen ibu mengkonsumsi SKM sebagai asupan gizi selama hamil. Sebanyak 60,6 Persen ibu mengkonsumsi SKM sebanyak 3-6 takaran sendok. Oleh karena itu YAICI akan terus berkomitmen untuk memberikan edukasi gizi dan juga advokasi bahwa SKM kurang baik untuk konsumsi ibu hamil. Sehingga balita kekurangan gizi saat di kandungan,” terangnya.

Akan tetapi, ia mengaku, dengan adanya demo masak makanan yang bergizi dan berprotein ini bisa menambah pengetahuan warga, sehingga dapat menurunkan angka Stunting di Kota Bekasi.

“Ya mudah-mudahan edukasi dan demo masak yang kita edukasikan, bisa dipahami agar warga bijak mengkonsumsi makanan untuk balitanya,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Anggota DPRD Kota Bekasi yang berada di Komisi II, Alimudin mengatakan, YAICI dan PP Aisyiyah telah memberikan program baik terkait pemahaman dan edukasi untuk hidup sehat.

Namun, masyarakat juga harus paham terkait konsumsi kental manis dan juga kandungan gizi dan protein pada makanan sehari-hari.

“Bahwasannya susu kental manis itu adalah makanan tidak sesuai dengan empat sehat lima sempurna. Ya saya berharap dengan edukasi memasak makanan yang bergizi dan berprotein bisa ditiru dan bahan-bahan mudah ditemui. Dengan edukasi ini mudah-mudahan stunting di Kota Bekasi bisa berkurang,” tukasnya. (pay).