Anak Usia Tujuh Tahun Diprioritaskan Masuk SD

MINTA BANTUAN: Sejumlah orangtua calon peserta didik baru meminta bantuan operator untuk unggah dokumen prapendaftaran di SDN Jatiasih IV Kota Bekasi. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Anak usia tujuh tahun akan diprioritaskan masuk SD dalam penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2022/2023. Oleh sebab itu, dalam seleksi anak yang berusia enam tahun akan tergeser.

Saat ini, proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) Kota Bekasi telah memasuki hari ke delapan tahap prapendaftaran yang berlangsung hingga 30 Juni 2022.


Operator SDN Jatimekar VI Kota Bekasi Feri Kurniawan mengatakan, sudah banyak orangtua calon peserta didik baru yang datang ke sekolahnya untuk meminta bantuan unggah dokumen prapendaftaran.

Menurutnya, terdapat 92 calon peserta didik yang dibantu operator sekolah untuk unggah dokumen prapendaftaran, Diakui Feri, PPDB tahun ini cukup menguras tenaga.


Sebab, dirinya bukan hanya membantu proses prapendaftaran SD tetapi juga SMP. Meskipun demikian, dirinya tetap berusaha memberikan pelayanan yang maksimal.

“Kami benar-benar kerja lebih ekstra, karena kebanyakan orangtua siswa yang memasukan anaknya ke SD mereka semua gaptek, gak mau repot dan mau terima beresnya aja,” katanya kepada Radar Bekasi, Senin (20/6).

Daya tampung SDN Jatimekar VI pada PPDB tahun ini sebanyak dua rombongan belajar (rombel). Jumlah siswa pada setiap rombel maksimal 28 orang.

Menurut Feri, usia menjadi salah satu syarat PPDB jenjang SD. Dari total 92 calon peserta didik yang sudah melakukan proses pendaftaran, mayoritas berusia tujuh tahun.

“Kalau SD itu kan seleksinya usia, setelah usia baru jarak terdekat. Dari 92 pendaftar ini 70 persennya sudah berusia tujuh tahun dan 30 persennya usia enam tahun. Nah yang usia enam tahun ini akan tergeser dengan cepat, karena usia tujuh tahun itu usia sudah wajib bersekolah,” terangnya.

Dengan daya tampung hanya dua rombel, PPDB di SDN Jatimekar VI akan berlangsung ketat. “Tentu persaingannya ketat, karena kapasitas kelas yang kami miliki terbatas. Tapi antusias masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sini sangat besar sekali,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya sejak awal sudah memberikan informasi kepada orangtua calon peserta didik mengenai kuota siswa di sekolahnya. Termasuk tidak ada jaminan lolos seleksi apabila dibantu oleh operator sekolah. Para orangtua diminta menerima jika anaknya gagal lolos seleksi.

“Melalui kepsek sudah diinformasikan bahwa meskipun kami pihak sekolah membantu proses prapendaftaran, bukan berarti anak tersebut bisa masuk. Karena seleksi akan diserahkan sepenuhnya kepada sistem PPDB,” ucapnya.

Para orangtua calon pesera didik baru wajib menandatangani surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) keabsahan dokumen agar tidak ada kericuhan saat pengumuman seleksi PPDB.

“SPTJM itu wajib, karena sekolah tidak bisa disalahkan jika siswa itu tidak masuk. Karena memang kami hanya pure membantu, tapi tidak bisa memastikan bahwa anak itu bisa diterima di sekolah kami. Karena seleksi dilakukan melalui sistem,” katanya.

Sementara, Operator SDN Jatiasih IV Kota Bekasi Surya mengungkapkan, pihaknya sudah membantu puluhan calon pendaftar untuk unggah data prapendaftaran.

“Ada sekitar 70 siswa yang ingin mendaftar ke sekolah kami dan setiap harinya bertambah terus,” katanya.

Kuota di SDN Jatiasih IV pada PPDB tahun ini sebanyak tiga rombel dengan jumlah siswa 84 orang. Menurutnya, saat ini masih banyak peluang bagi calon siswa baru.

Dikatakan, bahwa pihaknya hanya menerima pendaftar di usia enam sampai delapan tahun. “Di bawah itu harus ada surat keterangan ketuntasan pencapaian (SKKP) perkembangan anak usia dini atau surat keterangan dari psikolog bahwa siswa tersebut sudah mampu untuk mengenyam bangku pendidikan SD,” ucapnya.

Namun sementara ini dari banyaknya calon siswa yang hadir rata-rata berusia enam tahun. Untuk usia tujuh dan delapan tahun terpantau hanya beberapa calon peserta didik.

“Kebanyakan usia 6 tahun, yang 7 tahun, dan 8 tahun hanya beberapa saja,” terangnya.

Pihak sekolah juga melampirkan SPTJM bagi peserta didik yang melakukan proses prapendaftaran di sekolahnya, karena melihat potensi pendaftar yang terus bertambah setiap harinya.

“Kami tugasnya hanya membantu, tidak bisa memastikan anak itu bisa masuk. Makanya sebelum orangtua berharap banyak, sudah lebih dulu kami jelaskan bahwa seluruh rangkaian seleksi dilakukan oleh sistem. Karena kadang ada orangtua yang tidak terima dan akhirnya marah-marah karena tidak diterima dan itu semua kita hindari dari sekarang,” pungkasnya. (dew)