RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Potensi pelambatan ekonomi di Indonesia akan terjadi bila kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal tidak meyakinkan. Tekanan rupiah terhadap dolar akhir-akhir ini menunjukkan salah satu contoh terjadi perubahan struktur di pasar valuta asing (valas).
’’Kalau misalnya ibu-ibu sudah banyak yang menyimpan dolar, ini sudah tanda-tanda terjadi pelambatan ekonomi,’’ ungkap Head Global Market Maybank Indonesia I Made Budhi P. Artha dalam Maybank Journalist Fellowship (MJF) 2026 sesi Transaction Banking (TB) & Global Markets: Perbankan Korporasi, Transaction Banking dan Pasar Valuta, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurut I Made Budhi P. Artha, perilaku ramai-ramai mengoleksi dolar itu, buah dari dinamika pasar yang sudah berubah karena supply and demand yang tidak seimbang. ’’Struktur pasarnya memang sudah berubah. Ibaratnya, dari 100 barang yang dibutuhkan di pasar, tapi yang tersedia hanya 25,’’ ungkapnya.
Dalam kondisi demikian, maka hukum ekonomi pun berlaku. Harga cenderung naik untuk memenuhi permintaan pasar. Dalam konteks ini maka dolar banyak dicari. Pasokannya harus dinormalkan kembali.
Tidak kalah pentingnya adalah mengelola psikologis pasar. Masyarakat, pelaku usaha dan lembaga keuangan harus mendapat kepastian bahwa mereka mampu beradaptasi dan bertahan melewati masa-masa sulit. ’’Saya yakin resilience masyarakat Indonesia mampu menghadapi masa sulit ekonomi,’’ imbuhnya.
Ketahanan menghadapi pelambatan ekonomi itu sudah teruji. Mulai dari 1998, 2003, 2008, 2019-2020. Baik dengan pengelolaan keuangan yang disiplin, mengambil keputusan secara terukur dan menyusun rencana masa depan dengan persiapan yang matang. Termasuk memutuskan pilihan pada produk investasi.
Dalam hal pengelolaan investasi, sejumlah instrument investasi yang ditawarkan antara lain, foreign exchange, fixed income (bond), cross sell concept, structured product hingga money market dan derivatives. (zar)








