Pascakebakaran SMAN 1 Pebayuran, Siswa Kelas 10 Belajar Daring dan Luring

BELAJAR: Proses pembelajaran di SMAN 1 Pebayuran, kemarin. SMAN 1 Pebayuran memberlakukan pembelajaran daring dan luring bagi siswa kelas 10 sejak Senin (26/9) pascakebakaran yang terjadi Minggu (25/9). ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – SMAN 1 Pebayuran memberlakukan pembelajaran daring dan luring bagi siswa kelas 10 sejak Senin (26/9). Pembelajaran campuran dilakukan setelah kebakaran di sekolah itu, Minggu (25/9).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMAN 1 Pebayuran Husein Alhusaeni memastikan, proses pembelajaran tetap dilaksanakan setelah insiden kebakaran tersebut.


Kebakaran yang belum diketahui penyebabnya itu menghanguskan empat ruang kelas, satu ruang kesenian, dan satu ruang koperasi. Termasuk barang-barang di ruangan ludes dilalap api.

Menurut Husein, empat ruang kelas yang terbakar biasanya digunakan kelas X. Meski terbakar, pihak sekolah berusaha agar proses pembelajaran tidak terganggu.


“Siswa kelas XI dan siswa kelas XII tetap mengikuti proses pembelajaran secara normal dengan menyeluruh, yaitu dengan metode pembelajaran tatap muka. Hanya bagi kelas X kami harus menyiasati proses pembelajaran siswa agar tetap berjalan,” ujar Husein melalui sambungan telepon kepada Radar Bekasi, Rabu, (28/9).

SMAN 1 Pebayuran memiliki jumlah peserta didik sebanyak 1.164 siswa terdiri dari kelas X sampai XII. Dengan jumlah 12 rombongan belajar, setiap kelas diisi 36 sampai 40 siswa.

Pascakebakaran, sekolah menyiasati proses pembelajaran siswa kelas X dengan metode daring dan luring. Proses pembelajaran campuran dilakukan secara bergantian setiap minggunya dengan jam belajar normal mulai dari pukul 07.00-15.00 WIB.

“Intinya kita menggunakan daring dan luring bergantian per minggu untuk kelas 10 saja, karena kebetulan yang terbakar adalah ruang kelas 10 IPS. Untuk memberikan rasa adil dan kemudahan pengelolaan jadwal maka seluruh kelas 10 dirolling proses KBM nya,” tutur pria kelahiran Bandung tersebut.

Husein mengungkapkan, pihaknya telah melaporkan hasil kerusakan sekolah pascakebakaran yang terjadi kepada pihak Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah III.

Kepala KCD Pendidikan Wilayah III Asep Sudarsono mengatakan, pihaknya  telah melaporkan kejadian kebakaran di SMAN 1 Pebayuran kepada pihak provinsi Jawa Barat.

“Kami sudah laporkan kepada pimpinan terkait kejadian kebakaran kemarin di SMAN 1 Pebayuran. Sekarang pihak provinsi sedang menugaskan kami agar pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mencatat kerugian,” tuturnya.

Setelah pihak PUPR mencatat hasil kerugian, selanjutnya pihak KCD akan melakukan penghapusan dokumen dan akan membuat dokumen baru berupa usulan untuk proses pembangunan.

Saat ini disampaikan bahwa proses prosedur pembangunan aset baru sedang dilakukan. Diharapkan prosesnya dapat berlangsung dengan cepat.

“Prosesnya lagi berlangsung, tetapi kami tidak bisa menargetkan kapan pembangunan akan dilakukan. Karena pembangunan ini harus sesuai dengan prosedurnya,” jelasnya.

Proses pembangun ruangan diprediksi dapat menggunakan dana darurat yang dimiliki oleh pihak provinsi. “Provinsi itu punya dana darurat, sepertinya bisa menggunakan dana tersebut karena sifatnya urgent,” tukasnya. (dew)