Ananda Cahaya Aisyah, Perempuan yang Aktif jadi Sukarelawan

AKTIF SUKARELAWAN: Ananda Cahaya Aisyah (kiri) bersama temannya sesama sukarelawan. ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI Bagi Ananda Cahaya Aisyah (24), menjadi sukarelawan sudah biasa dilakukan. Meskipun tak menerima upah, dirinya merasa senang karena bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Menjadi sukarelawan sudah dijalani oleh Ananda Cahaya Aisyah selama lima tahun belakangan ini. Perempuan yang akrab disapa Nanda ini aktif sebagai sukarelawan bencana dan acara.


Hampir setiap bencana yang terjadi di Indonesia, Nanda tak pernah absen menjadi sukarelawan. Seperti misalnya saat gempa Lombok 2018, gempa Ambon 2019, banjir Jabodetabek 2020, erupsi Gunung Semeru 2020, dan gempa Cianjur saat ini.

Ia sempat bekerja sebagai tenaga administrasi sejak Januari-September 2022. Sekarang ini, Nanda-sapaan akrabnya- fokus menjadi sukarelawan dengan bergabung di Volunteer Bekasi.  “Aku kan ikut kegiatan kerelawanan itu dari 2016 sebelum Volbek (Volunteer Bekasi,Red) ada nama, waktu itu kita (Founder Volbek) dari bulan puasa 2016 bergerak untuk aksi free food car masih tanpa nama. Sampai akhirnya di Januari 2017 baru deh, kegiatan volunteer ini ada nama yaitu Volunteer Bekasi atau Volbek,” ungkapnya kepada Radar Bekasi, Kamis (1/12).


Alumni Universitas Gunadarma (Gundar) ini terjun menjadi sukarelawan atas permintaan ibunya. Saat pertama menjadi sukarelawan, Nanda sempat merasa aneh menjalani kegiatan kemanusiaan tersebut.

Namun, lama kelamaan dirinya menganggap kegiatan sukarelawan sudah menjadi kebutuhan.  “Awalnya sih kayak ngapain sih begini-begini (menjadi sukarelawan,Red), tapi makin kesini bahkan sampai detik ini juga mikir kalau ini malah jadi kebutuhan, kayak aku ngerasa sekarang kalau ga ikut relawan atau vakum misalnya itu ga bisa, kayak ada yang hampa aja gitu di hidup,” ungkapnya.

BACA JUGA: Pengin Fokus Bidang Digital Marketing

Dirinya juga mengungkap bahwa menjadi sukarelawan bisa membuat dirinya merasa diberkati dan bermanfaat untuk banyak orang. Diakui Nanda, menjadi sukarelawan memang tidak mudah karena tidak mendapatkan upah dalam kegiatannya.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuat Nanda kecewa. “Kegiatan ini bikin aku candu, kenapa? Karena setiap kita ketemu orang atau penerima manfaat dan mereka bahagia, tersenyum sumringah, itu bener-bener cukup untuk aku pribadi. nggak perlu dibayar dengan nominal uang, dengan senyum mereka saja itu sudah sangat cukup,” ungkap lulusan SMAN 3 Kota Bekasi tersebut.

Saat terjun ke lokasi bencana, Nanda tidak jarang merasa terharu dengan cerita orang yang ditemuinya. Ia merasa terlarut dan ikut merasakan beban dari para korban bencana.

Hatinya merasa plong saat dirinya bisa mengurangi beban korban bencana, meskipun hanya memberikan makan siang secara gratis. Nanda meyakini, bantuan yang diberikan kepada orang lain akan dirasakannya juga.

Bahkan aku sering banget ngerasain hal ini, kayak kebaikan-kebaikan yang aku dapat dari orang sekitar yang nggak aku kenal, aku pernah kecelakaan dua kali, saat itu ditolong orang yang nggak aku kenal,” ungkapnya.

“Menerapkan prinsip tanam dan tuai, intinya apa yang kita tanam buat orang-orang pasti bakal kita tuai suatu saat nanti meski bukan dari orang yang kita bantu, pasti dapet dari orang lain,” imbuhnya. (mg6)