Berita Bekasi Nomor Satu
Opini  

Menjadi Muslim Paling Beruntung

Oleh: Achmad Muwafi, Lc (Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Bekasi, Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Kepala SMPIT Baitul Halim Bekasi)  

Kepala SMPIT Baitul Halim, Achmad Muwafi

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di antara nikmat Allah SWT yang diberikan kepada orang-orang yang beriman adalah orang yang salatnya khusuk. Orang yang khusuk dalam salat adalah dengan mencurahkan hatinya untuk menghadap Allah SWT. Ia mengerjakan salat dengan tenang dan tumaninah, sejalan dengan salat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun ayat 1-2). Dalam tafsir Al-Wajiz dijelaskan bahwa khusuk dalam salat artinya merendahkan diri dan tunduk di hadapan Allah SWT disertai dengan rasa takut.

Salat merupakan ibadah yang dapat menjadi indikator keislaman dan kebaikan seseorang. Maka khusuk dalam salat menjadi sangat penting karena dapat menimbulkan kecintaan seorang hamba dengan rabbnya.

Allah SWT berfirman, “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk.” (QS. Al-Baqarah ayat 45). Ayat ini menjelaskan bahwa kewajiban salat ini tidak akan terasa berat dan akan menjadi ringan apabila ia khusuk dalam mengerjakannya.

 

Dalam salat, kekhusukan itu dapat menentukan tingkatan pahala. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada seseorang yang benar-benar mengerjakan salat, namun pahala salat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh (dari) salatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya.”

 

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa penyebab pengurangan pahala salat bergantung pada tingkat kekhusukannya. Oleh sebab itu, setiap muslim harus berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kekhusukan dalam salat mereka, jangan sampai salat hanyalah sebatas rutinitas, ucapan dan gerakannya tanpa membawa makna. (*)