RADARBEKASI.ID, BEKASI – Udara hangat selepas Subuh masih terasa menyelimuti kawasan Misfalah, Makkah. Langkah para jemaah haji Indonesia terlihat ringan saat turun dari bus shalawat yang baru saja mengantar mereka pulang dari Masjidil Haram. Sebagian masih larut dalam ketenangan usai beribadah, sementara yang lain berjalan santai menuju hotel sambil bercengkerama dengan teman satu rombongan.
Namun pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, suasana khusyuk tersebut perlahan berubah menjadi riuh. Kawasan sektor 9 Misfalah yang menjadi tempat pemondokan banyak jemaah asal Bekasi mendadak menjelma menjadi pasar kaget bernuansa Indonesia.
Bus shalawat nomor 20 rute Misfalah–Ajyad berhenti perlahan di halte 02. Pintu terbuka, lalu para jemaah turun satu per satu. Belum jauh melangkah dari halte, aroma makanan khas Nusantara langsung menyambut mereka.
Wangi kuah bakso yang mengepul bercampur dengan aroma gorengan hangat menyeruak di udara pagi Makkah. Di sepanjang trotoar menuju pemondokan, para pedagang kaki lima mulai menggelar dagangannya.
Bakso, nasi kuning, bala-bala, tahu isi, risol, ubi rebus, kentang rebus, telur rebus hingga kerupuk gendar tersusun rapi di atas lapak sederhana. Pemandangan itu menghadirkan suasana yang mengingatkan saya pada pasar pagi di kampung halaman.
Bagi jemaah yang sudah berminggu-minggu berada di Tanah Suci, kehadiran makanan tersebut menjadi pelepas rindu yang sederhana namun bermakna.
“Bakso lima riyal.Masih hangat,” ujar seorang pedagang sambil menyodorkan mangkuk kepada calon pembeli.
Tak jauh dari lapak makanan, berjejer pula berbagai barang kebutuhan jemaah dan oleh-oleh. Mulai dari peci, tasbih, sajadah, minyak wangi, cokelat, kurma muda hingga aneka aksesori haji dijajakan dengan harga beragam.
Suasana semakin ramai ketika para pedagang mulai menawarkan dagangannya dengan gaya yang unik. Sebagian menggunakan bahasa Arab, sebagian lagi mencoba berbahasa Indonesia meski terbata-bata.
“Ayo… ayo dipilih, murah-murah. Seratus ribu Jokowi,” teriak seorang pedagang sambil mengangkat gamis wanita.
Istilah “Jokowi” rupanya menjadi cara mudah bagi para pedagang untuk mengenali pecahan uang rupiah. Uang Rp100 ribu maupun Rp50 ribu sering disebut dengan nama presiden yang fotonya tertera pada lembaran uang tersebut.
Meski tidak fasih berbahasa Indonesia, sebagian besar pedagang memahami kata-kata sederhana yang sering digunakan jemaah. Sebaliknya, para jemaah juga mencoba berkomunikasi dengan kemampuan bahasa Arab seadanya.
Percakapan unik pun terdengar di berbagai sudut pasar.
“Kam hadza?” tanya seorang bapak sambil menunjuk tasbih.
Pedagang menjawab cepat sambil menunjukkan angka dengan jari.
“Ana syuf dulu,” sahut calon pembeli sebelum melangkah ke lapak lain.
Ketika harga akhirnya disepakati, terdengar kata yang paling sering muncul pagi itu.
“Halal… halal…”
Di lapak lain, seorang jemaah mencoba menawar dengan bahasa campuran.
“How much ini, brother?”
“Last price, last price,” jawab pedagang sambil tersenyum.
Namun yang paling menarik perhatian saya adalah rombongan ibu-ibu asal Sunda yang tetap percaya diri menggunakan bahasa daerah saat berbelanja.
Mereka menunjuk barang, mengangkat jari sebagai simbol tawaran harga, lalu tertawa bersama ketika penjual tampak kebingungan memahami ucapan mereka.
Meski tidak sepenuhnya saling mengerti, transaksi tetap berlangsung lancar. Bahasa tubuh, senyum, dan isyarat tangan menjadi alat komunikasi yang jauh lebih ampuh dibanding kata-kata.
Menjelang pertengahan Juni, suasana pasar semakin semarak dengan obral besar-besaran. Sejak sebagian jemaah Indonesia mulai dipulangkan ke tanah air pada 2 Juni lalu, para pedagang berusaha menghabiskan stok dagangan mereka.
“Ayo… ayo… semua harga satu riyal!” teriak seorang pedagang sambil mengangkat dompet, gelang, dan gantungan kunci.
Seruan itu langsung mengundang kerumunan jemaah. Dalam hitungan menit, lapak sederhana tersebut dipenuhi pembeli yang berburu oleh-oleh murah.
Pasar kaget Misfalah ternyata tidak hanya hidup pada pagi hari. Setelah salat Isya hingga sekitar pukul 23.00 waktu setempat, kawasan yang sama kembali ramai oleh pedagang dan jemaah yang baru pulang dari Masjidil Haram. Namun di balik keramaian itu, ada cerita lain yang tak kalah menarik.
Sebagian pedagang yang berasal dari Sudan, Somalia, dan Pakistan merupakan pedagang ilegal yang harus terus waspada terhadap patroli kepolisian setempat. Karena itu, suasana kejar-kejaran kerap menjadi pemandangan sehari-hari.
Ketika terdengar kabar ada polisi mendekat, para pedagang langsung bergerak cepat. Barang dagangan dikemas secepat mungkin, lalu mereka berlari meninggalkan lokasi.
Tak jarang ada yang tidak sempat menyelamatkan seluruh dagangannya.
“Yalla… yalla…” teriak seseorang memberi peringatan kepada pedagang lain.
Dalam hitungan detik, trotoar yang semula ramai mendadak kosong.
Bagi banyak jemaah, pasar kaget Misfalah bukan sekadar tempat membeli makanan atau oleh-oleh. Lebih dari itu, pasar kecil di sudut Kota Makkah tersebut menghadirkan suasana yang akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji, hiruk-pikuk tawar-menawar, aroma bakso hangat, suara pedagang memanggil pembeli, hingga tawa ibu-ibu yang berbelanja menjadi pengingat bahwa kerinduan pada kampung halaman bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Dan dari sekian banyak pengalaman selama musim haji 2026, pasar kaget Misfalah mungkin akan menjadi salah satu cerita kecil yang paling lama tersimpan dalam ingatan para jemaah Indonesia.(*)











