Berita Bekasi Nomor Satu

Jalur Potensi Akademik Sepi Peminat, Ribuan Siswa Berebut Jalur Rapor di Sekolah Maung

Situasi antusiasme warga Bekasi untuk mendaftar Sekolah Maung. FOTO: ZAKKY MUBAROK/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Jalur seleksi yang mensyaratkan kecerdasan intelektual tinggi justru menjadi jalur paling sepi peminat dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Manusia Unggul (Maung) Jawa Barat. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar tentang kesiapan dan kualitas akademik siswa yang akan bersaing di sekolah unggulan berbasis kompetensi tersebut.

Hasil pengumuman SPMB Maung yang dirilis Senin (8/6) menunjukkan kuota jalur Potensi Akademik di sejumlah sekolah jauh dari terpenuhi. Jalur ini mensyaratkan skor IQ minimal 130, kreativitas tinggi, serta komitmen kuat terhadap tugas akademik.

Di SMAN 1 Bekasi, hanya 25 peserta yang lolos verifikasi pada jalur Potensi Akademik, padahal kuota yang tersedia mencapai 38 kursi. Kondisi serupa terjadi pada jalur Kompetensi Akademik Kejuaraan yang hanya diisi 21 peserta dari kuota 77 kursi.

Sebaliknya, jalur Prestasi Nilai Rapor justru membludak. Sebanyak 1.516 peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk memperebutkan 192 kursi. Sementara jalur Kompetensi Non Akademik mencatat 180 peserta untuk kuota 77 kursi.

Wakil Kepala SMAN 1 Bekasi Sukiman mengakui jalur Potensi Akademik menjadi jalur dengan peminat paling sedikit sejak masa pendaftaran dibuka.

“Paling banyak di jalur prestasi nilai rapor. Pendaftar yang terverifikasi sekitar 1.500-an,” ujarnya.

Fenomena serupa terjadi di sekolah Maung lainnya. Di SMAN 2 Tambun Selatan, hanya tujuh peserta yang memenuhi syarat pada jalur Potensi Akademik dari kuota 38 kursi. Jalur Kompetensi Akademik Kejuaraan bahkan hanya diikuti tiga peserta dari kuota 77 kursi.

Kondisi paling mencolok terjadi di SMKN 2 Kota Bekasi. Dari kuota 69 kursi jalur Potensi Akademik, hanya dua peserta yang lolos verifikasi. Sementara pada jalur Kompetensi Akademik Kejuaraan, hanya tiga peserta yang memenuhi syarat dari kuota 135 kursi.

Sebaliknya, jalur berbasis nilai rapor kembali menjadi pilihan mayoritas calon siswa. Di SMKN 2 Kota Bekasi, sebanyak 863 peserta memenuhi syarat pada jalur tersebut untuk memperebutkan 336 kursi yang tersedia.

Pengamat pendidikan Andreas Tambah menilai minimnya peminat jalur Potensi Akademik menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pengukuran kemampuan akademik siswa selama ini. Menurutnya, nilai rapor yang tinggi belum tentu mencerminkan kapasitas intelektual maupun kompetensi akademik sesungguhnya.

“Kita tahu sebelum adanya Tes Kompetensi Akademik (TKA), seperti yang disampaikan pemerintah, banyak nilai yang tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuan riil siswa,” katanya.

Akibatnya, kata Andreas, kemampuan akademik siswa sulit dipetakan secara objektif hanya melalui rapor. Ketika seleksi menggunakan instrumen yang lebih ketat seperti tes akademik maupun syarat IQ tinggi, jumlah peserta yang memenuhi kriteria menjadi sangat terbatas.

Ia menilai Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu konsisten menggunakan instrumen tes akademik untuk menjaring siswa yang benar-benar memiliki kemampuan unggul jika ingin membangun sekolah berkualitas.

“Hasil TKA maupun tes akademik harus menjadi salah satu dasar penyaringan jika memang ingin membentuk sekolah unggulan dari sisi akademik,” ujarnya.

Andreas menambahkan, tantangan kualitas akademik tidak hanya terjadi di daerah tertentu, melainkan menjadi persoalan nasional. Karena itu, peningkatan literasi harus menjadi prioritas utama sekolah.

Menurutnya, siswa setidaknya harus menguasai tiga kemampuan dasar, yakni membaca dan menulis dengan baik, memahami isi bacaan, serta mampu menganalisis materi yang dipelajari.

“Peserta didik harus bisa membaca dan menulis dengan baik, memahami teks, lalu mampu menganalisis materi pembelajaran. Tiga kemampuan ini yang harus diperkuat sejak dini,” tegasnya.

Sementara itu, Pengamat Pendidikan, Imam Kobul Yahya yang mencermati proses SPMB pertama sekolah Maung menyoroti dua jalur pendaftaran yang minim pendaftar hingga tak mencapai kuota adalah potensi akademik dan prestasi akademik kejuaraan.

Menurutnya, calon pendaftar paling banyak melalui jalur prestasi nilai rapor lantaran lebih mudah.

“Kalau rapor tidak ada masalah, dia cuma upload rapornya semester satu sampai semester lima yasudah selesai, sama hasil TKA,” katanya.

Minim prestasi pada kejuaraan-kejuaraan akademik menjadi diduga salah satu penyebab minumnya pendaftar di jalur prestasi akademik kejuaraan. Menurutnya pemerintah perlu memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa di setiap jenjang pendidikan untuk berkompetisi di setiap kejuaraan.

Tidak jarang siswa mengurungkan niat untuk mengikuti kejuaraan atau kompetisi akademik lantaran terhambat biaya. Sekalipun tidak ada biaya pendaftaran, semakin tinggi jenjang yang diikuti akan semakin besar biaya lain-lain yang dikeluarkan, salah satunya transportasi.

Sementara untuk jalur potensi akademik, persyaratan IQ minimal disebut menjadi salah satu pertimbangan. Calon pendaftar kata dia, bisa menggambarkan kemampuan IQ nya setelah melihat hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), hasil TKA ini disebut Imam disajikan apa adanya.

“Rata-rata anak sekolah itu nilai TKAnya rendah, itu kan potensi IQ akademiknya kan,” ucapnya.

Untuk menggenjot IQ ini Imam menyebut pemerintah dan satuan pendidikan mesti fokus di setiap jenjang pendidikan, mempersiapkan siswa SMP untuk masuk ke jenjang SMA, atau siswa yang saat ini duduk di jenjang SMA untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

“Itu bisa diciptakan di masing-masing jenjang, jenjang SD boleh, jenjang SMP boleh, jenjang SMA boleh. Kalau pada jenjang SMA berarti dia mempersiapkan untuk ke jenjang perguruan tinggi,” tambahnya. (sur)