Berita Bekasi Nomor Satu

Perantau Tanah Haram

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perjalanan menuju Masjid Aisyah sore itu memberi saya sebuah cerita yang tak saya duga sebelumnya. Di balik kemudi taksi yang saya tumpangi, duduk seorang pria bernama Wahyu. Wajahnya tenang, logat Lomboknya masih sangat kental. Usianya 43 tahun, namun guratan di wajahnya seolah menyimpan kisah yang jauh lebih panjang dari angka itu.

Sudah delapan tahun ia mengadu nasib di Arab Saudi. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran Islam pada 2018, hingga hari ini, ia belum pernah sekalipun pulang ke kampung halamannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Mobil melaju membelah jalanan Makkah yang tertata rapi. Dari kursi depan, Wahyu mulai bercerita tentang hidupnya sebagai perantau.

“Kalau bicara kangen, jangan ditanya, Bang. Kangen sekali saya. Tapi mau gimana lagi, saya masih mengumpulkan uang supaya nanti bisa pulang kampung,” ujarnya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan beban yang tidak ringan. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Delapan tahun pula ia harus menahan rindu kepada keluarga yang ditinggalkannya di Indonesia.

Wahyu memiliki dua orang anak. Putra sulungnya kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sementara putri bungsunya belajar di pondok pesantren.

“Sebulan sekali baru bisa telepon. Apalagi si bungsu, kalau sudah ngambek, ampun,” katanya sambil tersenyum.

Senyum itu seolah menjadi cara untuk menyembunyikan rasa rindunya.

“Nanti kalau sudah lulus, mau saya ajak umrah,” lanjutnya penuh harap.

Anak-anak menjadi alasan terbesar dirinya bertahan di negeri orang. Sejak enam tahun lalu ia berpisah dengan istrinya. Kini seluruh tenaga dan waktunya dicurahkan untuk masa depan kedua buah hatinya.

“Saya bekerja di sini demi anak,” tuturnya singkat.

Namun perjalanan menjadi pekerja migran tidak selalu mudah. Wahyu masih mengingat jelas masa-masa awal kedatangannya di Arab Saudi. Empat bulan pertama menjadi masa yang paling berat dalam hidupnya.

“Mau nangis saya waktu pertama datang ke sini. Bingung, mau nanya sama siapa. Bahasanya sama sekali tidak tahu,” kenangnya.

Selain bahasa, ia juga harus beradaptasi dengan budaya dan lingkungan baru. Sebagai sopir taksi di bawah perusahaan PT Millenium, ia dituntut menghafal jalan-jalan yang rumit di kota suci.

“Di sini enggak seperti di Indonesia. Jalannya banyak yang satu arah. Salah belok bisa tersesat jauh,” katanya.

Arab Saudi memang terkenal dengan aturan lalu lintas yang sangat ketat. Meski jarang terlihat polisi berjaga di jalan raya, kamera pengawas tersebar hampir di setiap sudut kota.

“Kalau injak marka jalan saja dendanya 350 riyal. Enggak sampai satu jam, pemberitahuannya langsung masuk ke HP,” ujarnya.

Pelanggaran lain juga memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Mengemudi sambil bermain telepon genggam didenda 500 riyal. Tidak mengenakan sabuk pengaman dikenai denda 350 riyal.

“Belum lagi kalau menerobos lampu merah atau ngebut di jalan tol. Semua dipantau kamera,” jelasnya.

Yang membuatnya semakin disiplin adalah sistem yang serba terintegrasi.

“Kalau dendanya enggak dibayar, langsung dipotong dari rekening. Semua tersambung, mulai dari nomor plat kendaraan, nomor HP, identitas sampai rekening bank,” paparnya.

Sebagai pengemudi, ia juga diwajibkan memiliki sejumlah aplikasi resmi yang digunakan pemerintah setempat.

“Setiap driver wajib punya aplikasi seperti Absher, Tawakkalna, dan Nafar,” katanya.

Dengan gaji sekitar 1.500 hingga 1.600 riyal per bulan, Wahyu harus pandai mengatur keuangan. Dari jumlah itu, sekitar 600 riyal digunakan untuk membayar sewa tempat tinggal di kawasan Nawariyah.

“Itu sudah termasuk air dan listrik. Sisanya harus pintar-pintar buat makan dan kebutuhan lain,” ujarnya.

Meski hidup jauh dari keluarga, Wahyu tidak benar-benar sendiri. Ribuan pekerja Indonesia tersebar di berbagai wilayah Arab Saudi. Mereka sering berkumpul untuk mengobati rasa rindu terhadap tanah air.

“Kalau bulan puasa biasanya kami buka puasa bersama,” katanya.

Menurutnya, mayoritas pengemudi di Arab Saudi berasal dari Pakistan, Turki, Indonesia, hingga Somalia.

“Kalau orang asli Arab Saudi jadi sopir, saya belum pernah ketemu,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Sebagai sopir, perselisihan di jalan bukan hal yang asing. Namun menurutnya, kunci utama adalah menjaga mental.

“Kalau kita kalah gertak, mereka makin senang. Mental mereka sebenarnya kecil kok,” katanya.

Di tengah segala tantangan itu, Wahyu merasa pekerja Indonesia memiliki reputasi yang baik di Arab Saudi.

“Orang Indonesia dihormati karena ramah dan enggak suka bikin masalah. Asal jangan diganggu saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Perjumpaan saya dengan pekerja asal Lombok ternyata tidak berhenti pada Wahyu. Di area Sa’i Masjidil Haram, saya kembali bertemu seorang pekerja Indonesia asal Lombok yang bertugas mengelola distribusi air zamzam.

Perempuan itu terlihat sibuk mengoperasikan gerobak pintar dan robot pembawa air zamzam. Ia juga membantu melayani jemaah yang ingin minum maupun mengisi botol mereka.

“Ayo silakan diminum, Pak Haji. Botolnya sekalian diisi,” katanya menggunakan bahasa Indonesia.

Saya sempat terkejut mendengar bahasa yang begitu akrab di tengah keramaian Masjidil Haram. Ternyata ia baru sekitar sepuluh bulan bekerja di sana.

Saya melihat bagaimana antusiasmenya melayani sesama jemaah Indonesia. Dengan ramah ia mempersilakan mereka mengisi botol air zamzam yang dibawa.

Namun perbincangan kami tidak berlangsung lama. Beberapa petugas keamanan segera menghampiri dan meminta kami meninggalkan area tersebut.

Meski singkat, dua perjumpaan itu memberi saya kesan mendalam. Di balik megahnya bangunan-bangunan Arab Saudi dan ramainya jutaan jemaah yang datang dari seluruh dunia, ada begitu banyak kisah pekerja Indonesia yang berjuang dalam diam.

Mereka meninggalkan keluarga, menahan rindu, beradaptasi dengan budaya baru, dan bekerja keras demi masa depan yang lebih baik. Seperti Wahyu, yang hingga hari ini masih setia berada di balik kemudi taksinya, mengumpulkan harapan sedikit demi sedikit.

Harapan untuk pulang. Harapan untuk memeluk anak-anaknya. Dan harapan untuk melihat seluruh pengorbanannya berbuah kebahagiaan.(*)