Berita Bekasi Nomor Satu

Musim Kemarau, Sawah di Lima Kecamatan Kabupaten Bekasi Rawan Puso

ILUSTRASI: Hamparan persawahan di Setu, Kabupaten Bekasi, belum lama ini. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi memetakan lahan persawahan di lima kecamatan yang rawan mengalami kekeringan selama musim kemarau. Kondisi tersebut berpotensi memicu puso atau gagal panen jika pasokan air tidak mencukupi.

Lima kecamatan yang masuk kategori rawan itu meliputi Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi, dan Sukakarya.

Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, mengatakan pemilihan benih yang tepat menjadi salahsatu langkah mitigasi untuk mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.

“Kami mendorong petani di wilayah rawan kekeringan untuk menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air,” ujarnya, Senin (15/6).

Varietas yang direkomendasikan antara lain Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, serta varietas lokal yang memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan.

Menurut Dodo, hingga pertengahan Juni 2026 kondisi pertanian di Kabupaten Bekasi masih relatif aman. Dinas Pertanian belum menerima laporan adanya lahan sawah yang mengalami kekeringan maupun puso.

Meski demikian, kondisi pengairan, terutama pada saluran sekunder, terus menjadi perhatian untuk menjaga ketersediaan dan distribusi air ke lahan pertanian.

“Sampai hari ini belum ada laporan terkait kekeringan ataupun puso di lahan sawah. Namun, kami tetap melakukan berbagai langkah antisipatif agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan,” katanya.

Untuk memastikan distribusi air berjalan lancar, Dinas Pertanian berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Kementerian Pertanian, serta Dinas Sumber Daya Air tingkat provinsi maupun kabupaten. Upaya yang dilakukan antara lain pengaturan debit air, penguatan tanggul, dan perbaikan saluran irigasi.

Selain itu, petani juga didorong mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai perlindungan terhadap risiko gagal panen akibat bencana alam maupun dampak perubahan iklim.

Krisis Air Bersih

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat krisis air bersih akibat kekeringan melanda Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah. Akibatnya, berdampak langsung pada sedikitnya 296 kepala keluarga (KK) atau sekitar 800 jiwa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan hingga awal pekan ini pihaknya telah mendistribusikan sekitar 50.000 liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Desa Ridogalih.

“Bantuan ini kami salurkan untuk meringankan beban warga yang mengalami krisis air bersih cukup ekstrem akibat musim kemarau. Kami berharap pasokan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari,” ujar Muchlis.

Berdasarkan data BPBD, distribusi air dilakukan dalam beberapa klaster. Pada Minggu, penyaluran menyasar Kampung Cihanjuang RT 002 RW 006, Kampung Putat, dan Kampung Korod dengan total 20.000 liter air untuk sekitar 800 warga.

Sementara pada Senin (15/6), distribusi difokuskan ke Kampung Cihoe dengan penyaluran 10.000 liter air untuk 95 kepala keluarga atau sekitar 190 jiwa.

Muchlis menegaskan, distribusi bantuan air bersih akan terus dilakukan secara berkala hingga seluruh wilayah terdampak terlayani.

“Evaluasi terus dilakukan dan pendistribusian ini akan terus kami jalankan secara berkala hingga menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan,” katanya. (ris)