Berita Bekasi Nomor Satu

Metode IMRL Al Azhar Bekasi Padukan Al-Qur’an, Sains, dan Kecerdasan Buatan

Pelatihan Artificial Intelligence Mediated Reflective Learning (IMRL) yang diikuti 61 guru agama se-Kota Bekasi. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sekolah Islam Al Azhar Insan Cendekia Jatibening terus mengembangkan inovasi pembelajaran Islam yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan Artificial Intelligence Mediated Reflective Learning (IMRL) yang diikuti 61 guru agama se-Kota Bekasi. Program ini bertujuan memperkenalkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang lebih menyenangkan, mudah dipahami, serta relevan dengan perkembangan zaman melalui kolaborasi antara nilai-nilai Al-Qur’an, pendekatan ilmiah, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Managing Director Al Azhar Insan Cendekia, Didit Abdul Majid, mengatakan IMRL dibangun di atas tiga pilar utama, yakni Al-Qur’an sebagai pandangan hidup (worldview), pendekatan ilmiah (scientific thinking) sebagai kerangka berpikir, serta Artificial Intelligence (AI) sebagai mitra kognitif (cognitive partner) dalam proses belajar.

“IMRL memiliki tiga pilar utama, yaitu Al-Qur’an sebagai worldview, scientific sebagai kerangka berpikir, dan AI sebagai cognitive partner. Melalui pendekatan Al-Qur’an sebagai worldview, kami ingin menghadirkan metode pembelajaran yang membuat anak didik maupun para pendidik semakin mencintai Al-Qur’an,” kata Didit dalam keterangannya, Sabtu (1/8).

Menurut Didit, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan metode pembelajaran yang mampu mendekatkan peserta didik dengan Al-Qur’an.

“Program ini kami desain sebagai cara mengambil jarak terpendek dengan Al-Qur’an. Setelah pelatihan internal, kini kami mengundang para guru dari luar sekolah karena semua orang berhak merasakan keindahan Al-Qur’an. Harapannya, metode pembelajaran yang baik ini dapat ditularkan kepada lebih banyak peserta didik,” ujarnya.

Peserta pelatihan dibekali metodologi, perangkat pembelajaran, serta pendampingan hingga mampu menerapkan metode tersebut secara mandiri di sekolah masing-masing.

“Konsepnya Training for Trainers. Guru kami ajarkan metodologinya, tool-tool pembelajarannya, kemudian mereka berlatih. Setelah benar-benar menguasai, guru akan menerapkannya kepada peserta didik. Jika masih mengalami kendala, kami akan terus mendampingi melalui pertemuan daring hingga mereka percaya diri menjalankan program ini,” jelasnya.

Didit menegaskan, sasaran utama IMRL bukan mempercepat penguasaan bahasa Arab atau tajwid, melainkan membangun pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga anak memiliki kedekatan emosional dengan Al-Qur’an sejak dini.

“Target kami bukan anak langsung menguasai bahasa Arab atau tajwid. Yang paling penting, mereka menemukan kebahagiaan bersama Al-Qur’an, terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan Islami dalam kehidupan sehari-hari, dan merasakan bahwa belajar Al-Qur’an itu menyenangkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Trainer Anaba, Anwar Ihsanuddin, mengatakan pelatihan Metode Anaba terus diperkenalkan sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui peningkatan kompetensi guru agama.

“Metode membaca Al-Qur’an Anaba itu mudah dan menyenangkan. Orang belajar membaca Al-Qur’an menjadi mudah, senang, sehingga cepat masuk dan cepat bisa. Harapan kami ke depan guru-guru dapat mengajarkannya dengan ringan sehingga anak-anak juga mudah memahami metode ini dan akhirnya mampu membaca Al-Qur’an,” ujar Anwar.

Trainer Anaba lainnya, Mulyanto Abdullah Khoir, menjelaskan penamaan Anaba diambil dari Surat Luqman ayat 15 yang bermakna kembali kepada Al-Qur’an sebagai fondasi utama ajaran Islam.

“Istilah tersebut berasal dari kata anaba yang berarti kembali atau ruja’ah, yakni mengajak umat Islam kembali kepada fondasi utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an,” paparnya.

Salah seorang peserta pelatihan, Neneng Huriyah, guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dharma Patria Bekasi, menilai Metode ANABA memberikan pendekatan baru dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an.

“Metode ANABA ini sangat luar biasa. Yang pertama karena ada naghom, yaitu belajar menggunakan nada. Belajar dengan nada sangat sesuai dengan karakter anak-anak sehingga mereka lebih mudah menangkap materi yang diajarkan. Saya sendiri sebagai orang dewasa bisa cepat memahami, apalagi nanti kalau diterapkan kepada anak-anak tentu akan lebih baik lagi,” ujar Neneng.

Ia mengatakan akan menerapkan metode tersebut secara bertahap sesuai panduan yang diperoleh selama pelatihan.

“Strategi saya tentu mengikuti urutan yang ada di buku panduan. Tahap pertama mengenalkan huruf-huruf hijaiyah kepada para murid, kemudian tanda baca atau harakat, lalu dilanjutkan dengan pengenalan dasar-dasar tajwid. Dengan tahapan itu, anak-anak akan belajar secara bertingkat sehingga lebih mudah memahami materi,” jelasnya.

“Saya berharap metode tersebut dapat membantu lebih banyak anak mengenal Al-Qur’an melalui proses pembelajaran yang menyenangkan,” pungkasnya. (zak)